Suatu Pagi, Kami Membunuh Rasa Takut
Rumus sederhana menghadapi rasa takut terhadap sesuatu (orang, hewan, situasi) adalah jauhi sumber rasa takut itu. Jangan bepergian ke wilayah yang kita tahu orang-orangnya dapat mencelakai kita. Jangan berada di suatu tempat yang mungkin ada hewan yang akan membahayakan kita. Hindari berada di situasi yang dapat mengancam keselamatan kita. Meski terkadang kita luput mengupayakan agar terhindar dari kondisi-kondisi demikian, rumus sederhana ini seperti otomatis kita miliki sebagai upaya kita menghindari rasa sakit dan untuk dapat bertahan hidup.
Namun, pada pagi hari yang biasa, saat saya sudah bersiap berangkat kerja, sebuah sumber rasa takut justru mendekati saya. Alih-alih sengaja saya hindari, sumber rasa takut itu, entah sengaja atau tidak, justru menghampiri saya.
Seekor hewan entah apa masuk ke rumah saya tanpa perlu mengetuk pintu karena ia bisa menyelinap di sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat, atau mengendap di jendela ruang tamu yang biasa kami buka setiap pagi sebelum matahari terbangun. Kehadiran tamu yang tidak pernah sedikit pun kami bayangkan akan datang membuat hari itu menjadi hari yang tidak biasa bagi kami.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat dan berhasil menyeret kami dengan perhatian yang penuh emosi. Saat istri saya melintas dari ruang tamu ke dapur, ujung ekor hewan tersebut terlihat di bawah meja televisi sehingga istri tidak bisa memastikan hewan apa gerangan. Hewan ini berjalan menuju pojok ruang tamu yang berjarak sekitar 5 meter dari pintu utama atau jendela. Melihat hewan yang tidak biasa dilihat di dalam rumah, sontak istri berteriak memanggil saya yang terdengar lantang dari kamar mandi.
Saya bersicepat mendekati sumber suara, lebih cepat dari biasanya istri memanggil saya karena ada hewan lain yang kerap muncul di dalam rumah. Jika ada kecoa atau kalajengking di dalam rumah, istri bisa menangani sendiri dengan membunuhnya, namun lebih sering memanggil saya dengan nada suara yang menyiratkan tingkat kepanikan biasa. Saya lalu segera mengambil sandal Carvil saya yang berwarna cokelat yang jadi andalan untuk menghantam tubuh kecoa atau kalajengking yang sering berakhir dengan kematian. Karena sering digunakan untuk mengeksekusi kecoa, setiap melihat sandal Carvil warna cokelat saya, yang terlintas di kepala adalah seekor kecoa.
Menurut Ekman, manusia punya semacam mekanisme dalam menilai lingkungan sekitar kita yang disebut dengan autoappraisers, yakni mekanisme penilaian otomatis yang secara terus menerus memindai dunia di sekitar kita, mendeteksi kapan sesuatu yang penting bagi keselamatan dan kelangsungan hidup kita sedang terjadi.
Jadi, saat istri memanggil saya dengan lengking suara yang lebih tinggi dari biasanya, saya bergegas melangkah terburu-buru dengan jantung yang berdetak terburu-buru pula. Untuk mengatasinya, sandal Carvil warna cokelat inilah yang segera terlintas di benak saya untuk mengeksekusi hewan asing yang masuk ke ruang tamu pagi itu. Namun, hewan asing yang masuk ke ruang tamu ternyata bukan kecoa atau kalajengking, tetapi… seekor anak ular! Jadi saat tahu ada tamu tidak diundang, sumber rasa takut yang datang menghampiri kami, kami berada dalam kepanikan tingkat tinggi yang belum pernah kami alami sebelumnya. Dengan penuh was-was kami singkirkan benda-benda yang dekat dengan anak ular itu, seperti kipas angin dan boks kabinet, agar kami bisa leluasa menanganinya. Nada suara kami bergetar sembari berusaha saling menenangkan diri satu sama lain. Dan saat kami saling berhadapan dengan anak ular yang menjengkelkan ini, sandal ini tidak bisa berbuat banyak untuk membunuh anak ular karena saat sandal saya lempar dari jarak aman, ternyata tidak mengenai sasaran.
Apakah kami takut dengan ular? Ya, meski dengan anak ular pun kami takut. Walau bagaimana pun kami manusia yang secara naluri telah mewariskan rasa takut dari nenek moyang terhadap ular. Paul Ekman, ilmuwan psikologi yang dikenal meneliti mengenai emosi manusia, melakukan penelitian mengenai sumber rasa takut dan menyimpulkan bahwa “kita secara biologis disiapkan untuk menjadi lebih takut terhadap reptil dibandingkan dengan senjata atau pisau”. Seperti halnya anjing Pavlov yang secara alamiah mengeluarkan air liur saat melihat makanan, kita secara naluri merasa takut terhadap ular.
Namun, terhadap anak ular yang bertamu pagi itu, dengan bentuk seperti ular-ularan karet yang dijual pedagang mainan keliling, dengan ukuran panjang sekitar 40 cm dan diameter tidak lebih besar dari gagang kemoceng bulu ayam, kami masih berani untuk menghadapinya. Akan tetapi, untuk bisa membunuh anak ular itu, kami harus lebih dulu membunuh rasa takut kami terhadapnya.

Menurut Ekman, tubuh manusia dibekali dengan kesiapan untuk bertindak secara evolutif dalam menghadapi rasa takut dengan dua cara, yakni bersembunyi dan kabur. Saat kita merasa takut, menurut Ekman, darah mengalir menuju otot-otot di kaki kita, menyiapkan kita untuk kabur. Itu tidak berarti kita akan selalu kabur saat menghadapi rasa takut, hanya secara evolutif kita disiapkan untuk melakukan sesuatu yang paling adaptif dalam sejarah manusia, yakni kabur.
Namun, menurut Ekman, ada dua pilihan lain dalam menghadapi rasa takut, yakni berdiam dan menjadi marah terhadap apa pun yang mengancam kita.
Jadi terhadap anak ular ini, dengan perkiraan kami bahwa kami bisa menangani sumber ancaman ini, kami membunuh rasa takut dengan menjadi berani dari bahan bakar rasa marah kami terhadap anak ular ini. Usai sandal Carvil warna cokelat tidak ampuh menaklukkannya, istri segera mengambil pembersih kaca dengan panjang gagang tidak lebih dari satu meter. Pembersih kaca ini saya gunakan untuk memukul sejadi-jadinya anak ular ini sehingga ia hanya menatap saya sebentar, bersiap melawan, namun keduluan gagang pembersih kaca ini menghantam tubuhnya, membuat tubuhnya yang semula bulat berubah jadi pipih. Bau amis darah tercium tajam bersamaan dengan hilangnya nyawa anak ular ini.
Selanjutnya, karena masih ada rasa takut yang tersisa, saya meminta sekuriti di cluster kami untuk membuang bangkai anak ular ini. Dengan ranting pohon di tangan, sekuriti men-cutik bangkai anak ular, diangkat tepat di depan wajahnya, mengamati sambil berujar, “Sepertinya keras sekali mukulnya.” Ia sungguh benar, meski tidak perlu saya tunjukkan bahwa ujung gagang pembersih kaca, yang terbuat dari plastik, pecah berkeping-keping setelah beradu kuat dengan lantai tempat anak ular itu meregang nyawa.
Beberapa hari setelah kejadian pagi itu, saat istri saya berjalan di depan rumah, ada anak ular, yang persis sama dengan anak ular yang pernah kami bunuh, keluar dari selokan depan rumah kami, berlalu dengan cepat menyeberangi jalan sebelum akhirnya masuk kembali ke sisi selokan yang lain.
Kami yakin ada anak ular-anak ular yang lain di sekitar rumah kami, tapi kami juga yakin bahwa kami masih punya kemampuan alami untuk menilai ada sumber bahaya yang perlu kami waspadai. Menurut Ekman, manusia punya semacam mekanisme dalam menilai lingkungan sekitar kita yang disebut dengan autoappraisers, yakni mekanisme penilaian otomatis yang secara terus menerus memindai dunia di sekitar kita, mendeteksi kapan sesuatu yang penting bagi keselamatan dan kelangsungan hidup kita sedang terjadi. Semua emosi yang muncul dalam hidup kita sebagian besar terjadi melalui mekanisme penilaian otomatis ini.
Namun, menurut Ekman, emosi kita juga bisa muncul melalui mekanisme yang disebut dengan reflective appraising, di mana kita mempertimbangkan secara sadar mengenai apa yang terjadi, terutama saat kita tidak begitu yakin apa maknanya bagi kita.
Jadi saat kami bertemu anak ular, penilaian otomatis membuat kami segera merasa takut. Namun kami bisa melibatkan penilaian reflektif, dengan menilai secara sadar bahwa anak ular ini tidak berbahaya untuk kami tangani sendiri sehingga rasa takut berkurang dan keberanian bertambah.
Namun, seandainya nanti anak ular mengutus ibunya bertamu ke rumah kami, penilaian otomatis membuat kami takut, dan penilaian reflektif membuat kami berpikir bahwa mungkin kami tidak berani menghadapinya, menahan diri dari menanganinya sendiri, dan segera menghubungi bapak-bapak pemadam kebakaran baik hati yang markasnya tidak jauh jaraknya dari rumah kami.
