Motivated Reasoning: Bagaimana Cara Kita Berpikir Dibiaskan oleh Keyakinan Kita?

Share this:

Ziva Kunda, seorang perempuan ilmuwan psikologi sosial, bercerita tentang kebiasaan ibunya di masa muda. Saat muda ibunya seorang perokok berat. Ibunya terus merokok selama mengandung ketiga anaknya. Saat itu ilmu tentang kesehatan tidak membuat orang menyadari bahwa merokok bukan kebiasaan yang baik, terutama bagi perempuan. Bertahun-tahun kemudian, suatu ketika ibunya membaca sebuah artikel tentang efek merokok selama kehamilan pada bayi.

Setelah membaca artikel tersebut, ibunya berseru padanya, “Artikel ini penuh omong kosong. Katanya, jika kau merokok selama kehamilan, kau akan memiliki bayi yang kecil. Lihatlah bayi-bayi saya yang ‘kecil’!”

Kedua saudara laki-laki Kunda tingginya sekitar 193 cm. Tinggi badan yang tidak bisa disebut kecil. Kunda lalu membaca artikel itu dan menemukan penjelasan lainnya bahwa merokok selama kehamilan dapat menyebabkan masalah paru-paru pada bayi. Kunda lalu mengingatkan ibunya bahwa kedua kakak laki-lakinya menderita bronkitis sepanjang masa kecil mereka. Kunda lalu mengatakan kepada ibunya bahwa mungkin artikel tersebut benar adanya.

Jawaban ibunya menyadarkan Kunda mengenai bagaimana orang membangun penalaran. “Ayolah,” kata ibunya dengan acuh tak acuh, “itu kan hanya sampel dua orang!”

 

Sepanjang karir penelitiannya, Kunda berusaha membuktikan bahwa cara berpikir seperti ibunya juga dilakukan oleh banyak orang. Menurutnya, “Kita semua akhirnya mempercayai apa yang ingin kita percayai karena kita memang ingin mempercayainya.” Apa yang kita yakini mengenai sesuatu terdistorsi oleh motif atau tujuan personal yang kita miliki.

Jadi, Apa itu Motivated Reasoning?

Kunda dalam artikelnya berjudul The Case of Motivated Reasoning menyebutkan pengertian motivated reasoning atau penalaran termotivasi sebagai proses penalaran yang dilakukan oleh seseorang yang dipengaruhi oleh motivasi pribadinya dengan cara mengandalkan seperangkat proses kognitif yang bias, baik dalam strategi mengakses keyakinan, membangun keyakinan, dan mengevaluasi keyakinan.

Oleh Kunda, kata motivasi dalam konsep motivated reasoning diartikan sebagai setiap keinginan, hasrat, atau preferensi yang berkaitan dengan hasil dari tugas penalaran tertentu. Dalam hal ini, motivasi dapat memengaruhi proses penalaran: membentuk kesan, menentukan keyakinan dan sikap seseorang, mengevaluasi bukti, dan membuat keputusan.

Namun, konsep mengenai bagaimana motivasi memengaruhi cara kita menilai sesuatu dan mengambil keputusan bukanlah hal baru, demikian diakui oleh filsuf sekaligus ilmuwan kognitif Paul Thagard, suami Kunda yang menemaninya sampai akhir hayatnya pada tahun 2004. Namun, menurut Thagard, Kunda-lah yang pertama menyebut istilah ini dan menunjukkan bukti adanya fenomena ini dalam kehidupan sehari-hari dengan penelitian-penelitian yang dilakukannya.

Konsep mengenai motivated reasoning sesungguhnya sudah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Dalam artikel berjudul Motivated Reasoning: A Brief History, Thagard menulis pandangan para filsuf mengenai konsep ini. Pada abad ke-5 SM, sejarawan Thucydides menulis tentang musuh-musuh Athena: “Penilaian mereka lebih didasarkan pada keinginan buta daripada pada prediksi yang masuk akal; karena merupakan kebiasaan manusia untuk mempercayai apa yang mereka dambakan kepada harapan yang ceroboh, dan menggunakan akal budi yang berkuasa untuk menyingkirkan apa yang tidak mereka inginkan.” Aristoteles, pada abad ke-4 SM, membahas akrasia, yaitu kelemahan kemauan yang terjadi ketika dominasi akal oleh emosi menyebabkan orang melakukan tindakan buruk.

Dua Jenis Motivated Reasoning

Menurut Kunda, ada dua jenis motivated reasoning. Yang pertama adalah penalaran yang motifnya untuk mencapai kesimpulan yang akurat (accuracy goals), yang kedua penalaran yang motifnya untuk mencapai kesimpulan tertentu yang terarah (directional goals).

1. Penalaran yang Motifnya Akurasi (Reasoning Driven by Accuracy Goals)

Penelitian tentang penalaran berbasis akurasi menunjukkan bahwa ketika orang termotivasi untuk akurat, mereka mengerahkan lebih banyak upaya kognitif pada penalaran terkait masalah, memperhatikan informasi yang relevan dengan lebih cermat, dan memprosesnya lebih dalam, seringkali menggunakan aturan yang lebih kompleks.

Menurut Kunda, penalaran yang dimotivasi oleh tujuan akurasi mengarah pada penggunaan keyakinan dan strategi yang dianggap paling tepat, sedangkan penalaran yang dimotivasi oleh arah tertentu mengarah pada penggunaan keyakinan dan strategi yang dianggap paling mungkin menghasilkan kesimpulan yang bias.

Namun, jangan berasumsi bahwa penalaran yang dimotivasi oleh akurasi akan selalu menghilangkan bias dan meningkatkan penalaran. Penelitian menunjukkan bahwa penalaran yang dimotivasi oleh akurasi juga dapat meningkatkan bias.

2. Penalaran yang Motifnya Arah Tertentu (Reasoning Driven by Directional Goals)

Pada jenis penalaran ini, orang berusaha untuk bersikap rasional dan membangun pembenaran atas kesimpulan yang diinginkan. Mereka hanya menarik kesimpulan yang diinginkan jika mereka dapat mengumpulkan bukti yang diperlukan untuk mendukungnya. Dengan kata lain, mereka membangun apa yang disebut dengan “ilusi objektivitas”. Dalam hal ini, mereka mencari dalam ingatan mereka mengenai keyakinan dan aturan yang dapat mendukung kesimpulan yang diinginkan. Mereka juga dapat secara kreatif menggabungkan pengetahuan yang diakses untuk membangun keyakinan baru yang secara logis dapat mendukung kesimpulan yang diinginkan. Proses pencarian ingatan dan konstruksi keyakinan inilah yang dipengaruhi oleh tujuan terarah (directional goals).

Menurut Kunda, objektivitas dalam membangun justifikasi ini bersifat ilusi karena orang-orang tidak menyadari bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh tujuan mereka, bahwa mereka hanya mengakses sebagian kecil dari pengetahuan mereka yang relevan, bahwa mereka mungkin akan mengakses keyakinan dan aturan yang berbeda ketika dihadapkan pada tujuan yang berbeda, dan bahwa mereka bahkan mungkin mampu membenarkan kesimpulan yang berlawanan pada kesempatan yang berbeda.

Menurut Kunda, membangun penalaran dengan cara ini berarti penalaran seseorang dibatasi oleh kemampuannya dalam membangun pembenaran atas kesimpulan yang diinginkan: “Orang akan percaya apa yang ingin mereka percayai hanya sejauh akal sehat mengizinkan”.

Menurut Fabian Hutmacher, Regina Reichardt, dan Marlene S. Altenmüller dalam artikel mereka berjudul Known Unknowns in Motivated Reasoning: A Closer Look at Three Open Questions, dengan adanya dua jenis penalaran termotivasi ini, dapat diklaim bahwa semua penalaran itu termotivasi. Namun, biasanya istilah penalaran termotivasi digunakan dalam arti yang lebih sempit, mengacu pada situasi di mana penalaran lebih kuat digerakkan oleh tujuan yang mengarah pada kesimpulan tertentu (directional goals) dibandingkan dengan penalaran dengan tujuan akurasi (accuracy goals). Penalaran yang dimotivasi oleh tujuan tertentu (directional goals) secara sistematis membawa pemrosesan informasi menuju kesimpulan yang bias.

Mekanisme terjadinya Motivated Reasoning

Mario Pandelaere dalam buku Encyclopedia of Social Psychology menjelaskan mekanisme terjadinya motivated reasioning sebagai berikut:

Pertama, orang mungkin menunjukkan skeptisisme yang termotivasi: mereka mungkin memeriksa informasi yang konsisten dengan kesimpulan pilihan mereka secara kurang kritis daripada memeriksa informasi yang tidak konsisten dengan kesimpulan tersebut. Meskipun informasi yang konsisten dengan kesimpulan mereka diterima begitu saja, orang mungkin secara spontan mencoba untuk membantah informasi yang tidak konsisten dengan kesimpulan tersebut. Orang juga memandang argumen sebagai lebih kuat atau lebih persuasif jika argumen tersebut kebetulan konsisten dengan kesimpulan pilihan mereka daripada jika argumen tersebut tidak konsisten dengan kesimpulan yang mereka pilih.

Kedua, sejalan dengan skeptisisme yang termotivasi, orang mungkin menggunakan informasi statistik dengan cara yang termotivasi. Misalnya, orang lebih menghargai bukti berdasarkan ukuran sampel kecil jika bukti tersebut mendukung posisi mereka daripada jika bertentangan. Selain itu, meskipun orang umumnya mengabaikan informasi tingkat dasar, mereka mungkin menggunakan informasi tersebut jika mendukung kesimpulan yang mereka sukai.

Ketiga, untuk membenarkan kesimpulan yang disukai, orang mungkin perlu mengambil informasi dalam memori atau mencari informasi eksternal. Pencarian informasi mungkin bias terhadap pengambilan atau penemuan informasi yang konsisten dengan kesimpulan yang disukai. Pencarian yang bias (memori) ini mungkin karena kesimpulan yang disukai berfungsi sebagai hipotesis yang akan diuji dan orang sering menunjukkan bias konfirmasi dalam pengujian hipotesis. Bias konfirmasi ini menyiratkan bahwa orang mungkin lebih mudah menemukan argumen yang mendukung daripada argumen yang tidak konsisten dengan kesimpulan yang mereka sukai.

Keempat, orang tidak hanya mengakses informasi dengan cara yang bias, tetapi juga menerapkan konsep dengan cara yang termotivasi. Misalnya, orang menunjukkan stereotip yang termotivasi: Mereka menerapkan stereotip, terkadang secara tidak adil, jika stereotip tersebut mendukung kesan yang mereka sukai, tetapi menolak menerapkan stereotip ini jika bertentangan dengan kesan yang mereka sukai.

Contoh Motivated Reasoning dalam Kehidupan Sehari-hari

Suatu pagi, seekor anak domba yang tersesat sedang minum di tepi sungai di hutan. Pagi itu juga, seekor serigala lapar datang lebih jauh ke hulu sungai, mencari makanan. Ia segera mengincar anak domba itu. Biasanya, serigala akan langsung memangsa makanan lezat seperti itu tanpa ragu-ragu, tetapi anak domba ini tampak begitu tak berdaya dan polos sehingga serigala merasa perlu mencari alasan untuk membunuhnya.

“Beraninya kau mengarungi sungaiku dan mengaduk-aduk lumpur!” teriaknya dengan ganas. “Kau pantas dihukum berat atas kenekatanmu!”

“Tapi, Yang Mulia,” jawab anak domba yang gemetar itu, “jangan marah! Aku tidak mungkin mengotori air yang kau minum di sana. Ingat, kau berada di hulu dan aku di hilir.”

“Kau mengotorinya!” balas serigala dengan ganas. “Dan lagi pula, aku mendengar kau berbohong tentangku tahun lalu!”

“Bagaimana mungkin aku melakukan itu?” pinta anak domba itu. “Aku baru lahir tahun ini.”

“Kalau bukan kamu, pasti saudaramu!”

“Aku tidak punya saudara.”

“Kalau begitu,” geram serigala, “Pasti seseorang dari keluargamu. Tapi siapa pun itu, aku tidak akan membiarkan dirimu dibujuk untuk meninggalkan sarapanku.”

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, serigala menangkap domba malang itu dan membawanya ke hutan.

Kisah serigala dan anak domba di atas saya gunakan sebagai ilustrasi untuk menjelaskan mengenai bias konfirmasi. Namun, penalaran yang dilakukan oleh serigala juga dapat menggambarkan bagaimana motivated reasoning terjadi. Serigala sudah punya tujuan yang sudah ditetapkan, yakni memangsa anak domba. Sehingga, penalaran yang digunakan digerakkan oleh tujuan memangsa anak domba. Sebagaimana dijelaskan di atas, bias konfirmasi merupakan salah satu mekanisme yang terjadi saat orang melakukan penalaran yang termotivasi.

Kunda, dalam artikel yang dikutip di atas, memberi contoh motivated reasoning seperti berikut. Seseorang yang percaya bahwa ia akan sukses secara akademis mungkin lebih mengingat keberhasilan akademisnya di masa lalu daripada kegagalannya. Ia juga dapat menggunakan pengetahuannya untuk membangun teori baru tentang bagaimana ciri kepribadiannya dapat memengaruhi keberhasilan akademis. Jika ia berhasil mengakses dan membangun keyakinan yang tepat, ia mungkin merasa dibenarkan untuk menyimpulkan bahwa ia akan sukses secara akademis, tanpa menyadari bahwa ia juga memiliki pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung kesimpulan yang berlawanan.

Dan Ariely dalam bukunya Misbelief: What Makes Rational People Believe Irrational Things memberi contoh motivated reasoning dalam bidang politik sebagai berikut:

Pada tahun 2016, ketika Donald Trump mencalonkan diri dalam pemilihan umum, sungguh menakjubkan melihat berapa kali ia berbohong terang-terangan dalam satu hari, dan lebih menakjubkan lagi melihat betapa banyak politisi Republik yang tampaknya tidak peduli. Karena penasaran dengan ketidaksetiaan terhadap kebenaran itu, saya bertanya-tanya apakah itu merupakan kekurangan dari sayap Kanan atau apakah hal itu juga ditemukan di sayap Kiri. Saya memutuskan untuk menyelidikinya. Yang saya temukan adalah bahwa pemilihan tahun 2016 sangat ideologis. Orang-orang dari kedua sayap sangat peduli dengan topik-topik penting seperti perawatan kesehatan, pengendalian senjata, dan aborsi. Bukan berarti politisi Republik tidak peduli dengan kejujuran dan ketidakjujuran; melainkan mereka jauh lebih peduli dengan isu-isu lain. Bahkan, mereka sangat peduli dengan isu-isu lain tersebut sehingga mereka rela mengabaikan beberapa kebohongan jika itu sesuai dengan tujuan mereka yang lebih tinggi. Selain itu, banyak politisi Republik sebenarnya memandang ketidakjujuran Trump sebagai indikasi komitmennya terhadap tujuan mereka. Alasan mereka kurang lebih seperti ini: jika dia bersedia berbohong dengan bebas sekarang, kemungkinan besar ketika dia menjabat, dia akan melakukan apa pun untuk mempromosikan apa yang benar-benar penting bagi agenda kita.

Tentu saja, ketika saya memberi tahu teman-teman saya di sayap kiri tentang apa yang saya temukan tentang mengapa Partai Republik tidak terlalu terganggu oleh kebohongan Trump, mereka terkejut. Tetapi kemudian saya mengajukan pertanyaan berikut kepada mereka: Bayangkan ada seorang pemimpin dari pihak Demokrat yang begitu bersemangat tentang isu-isu perubahan iklim, hak aborsi, dan pengendalian senjata sehingga mereka bersedia sedikit memutarbalikkan kebenaran untuk meyakinkan orang-orang di pihak lain untuk mengesahkan undang-undang yang melayani ideologi Demokrat mereka yang lebih besar. Apakah Anda bersedia mendukung pemimpin seperti itu? Tentu saja, itu adalah hal yang sangat tidak nyaman untuk diakui, tetapi sebagian besar teman-teman liberal saya akhirnya mengakui bahwa karena isu-isu seperti perubahan iklim, hak aborsi, dan pengendalian senjata sangat penting, mungkin tidak apa-apa untuk melebih-lebihkan dan sedikit memutarbalikkan kebenaran—hanya untuk saat ini, hanya sampai kita mengesahkan undang-undang yang lebih besar.

 

Beberapa contoh lain motivated reasoning dalam kehidupan sehari-hari misalnya:

  1. Bagi perokok akut, mereka punya banyak alasan yang meyakinkan bahwa merokok itu baik. Penalaran mereka dibangun dari motif yang mendukung kebiasaan merokoknya, misalnya argumen bahwa merokok membunuhmu dibantah dengan pandangan bahwa mereka yang perokok berat banyak yang panjang umur, mereka yang tidak merokok banyak juga yang mati muda. Mereka juga berargumen bahwa dengan merokok berarti mereka telah menggerakkan roda ekonomi masyarakat bawah khususnya petani tembakau.
  2. Seseorang yang berafiliasi dengan partai politik pendukung pemerintah memiliki argumen yang mendukung bahwa Makan Bergizi Gratis (MBG) itu program yang baik. Mereka berargumen bahwa program MBG dapat meningkatkan gizi masyarakat, mengatasi stunting, dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM. Mereka juga berpandangan bahwa para pengkritik MBG adalah kalangan yang berseberangan secara politik dengan pemerintah dan tidak ingin masyarakat Indonesia maju. Namun mereka menutup diri dengan fakta objektif bahwa menu MBG kurang bergizi, bahkan banyak kasus siswa keracunan setelah memakan menu MBG, anggaran MBG menggerus alokasi anggaran lain termasuk pendidikan, dan dampak ekonomi dari MBG justru hanya berputar pada lingkaran dekat pemerintah dan anggota partai politik tertentu yang punya dapur-dapur MBG.
  3. Setelah menimbang-nimbang dengan penuh perhitungan, seseorang akhirnya memutuskan membeli barang dengan merek tertentu. Apabila di kemudian hari ada fakta-fakta baru yang melemahkan pilihannya, ia justru memunculkan sejumlah argumen lain yang semakin menguatkan keputusannya membeli barang dengan merek tersebut, sekaligus meremehkan fakta-fakta baru yang muncul belakangan.

Selain motivated reasoning, ada beberapa bias dalam berpikir yang kerap kita lakukan sehari-hari, antara lain availability heuristic, representativeness heuristic, anchoring and adjustment heuristic, fundamental attribution error, hindsight bias, dan bias konfirmasi. Bias konfirmasi digambarkan dengan baik dalam eksperimen Wason Selection Test.

Share this:

Similar Posts