Bias Konfirmasi: Pengertian dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Raymond S. Nickerson dari Tufts University menulis artikel berjudul Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises dan mendefinisikan bias konfirmasi sebagai berikut:
The seeking or interpreting of evidence in ways that are partial to existing beliefs, expectations, or a hypothesis in hand.
Pencarian atau penafsiran bukti dengan cara yang memihak pada keyakinan, harapan, atau hipotesis yang sudah ada.
Sementara itu, Kamus American Psychological Association (APA) mendefinisikan bias konfirmasi sebagai berikut:
The tendency to gather evidence that confirms preexisting expectations, typically by emphasizing or pursuing supporting evidence while dismissing or failing to seek contradictory evidence.
Kecenderungan untuk mengumpulkan bukti yang mengkonfirmasi harapan yang sudah ada sebelumnya, biasanya dengan menekankan atau mengejar bukti pendukung sambil mengabaikan atau gagal mencari bukti yang bertentangan.

Bagaimana cara berpikir bias konfirmasi ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Berikut ini beberapa contohnya.
- Media sosial beroperasi berbasis algoritma, yang memungkinkan, misalnya FYP di Tiktok, bekerja mengikuti prinsip filter bubble dan echo chamber dengan merekomendasikan video yang sejalan dengan minat kita selama ini. Sehingga informasi yang disajikan kepada kita di media sosial adalah informasi yang sejalan dengan pandangan kita selama ini.
- Kita cenderung memilih menonton dan membaca berita di media elektronik, cetak maupun online yang sejalan dengan keyakinan dan pandangan kita selama ini. Pada pemilu 2014 misalnya, pendukung Jokowi lebih suka menonton Metro TV sedangkan pendukung Prabowo lebih suka menonton TV One. Saat itu pemilik stasiun Metro TV mendukung Jokowi sehingga berita yang disiarkan adalah berita positif tentang Jokowi dan berita negatif tentang Prabowo. Sebaliknya, saat itu pemilik TV One adalah pendukung Prabowo sehingga berita yang ditampilkan lebih banyak berita positif mengenai Prabowo dan berita negatif mengenai Jokowi. Bagi pemirsa pendukung Jokowi, berita di Metro TV mengkonfirmasi pandangan positif mengenai Jokowi dan menambah yakin bahwa pilihannya benar. Bagi pemirsa pendukung Prabowo, berita di TV One mengkonfirmasi pandangan positif mengenai Prabowo dan menambah keyakinan bahwa pilihannya benar.
- Jika kita tidak suka terhadap seseorang, kita cenderung memperhatikan dan menyimpan mengenai informasi dan fakta-fakta yang negatif mengenai orang tersebut, sementara informasi dan fakta-fakta positif cenderung diabaikan.
Selain bias konfirmasi, ada beberapa bias dalam berpikir yang kerap kita lakukan sehari-hari, antara lain availability heuristic, representativeness heuristic, anchoring and adjustment heuristic, fundamental attribution error, motivated reasoning, dan hindsight bias. Bias konfirmasi digambarkan dengan baik dalam eksperimen Wason Selection Test.
