Belajar Public Speaking Sejak Dini: Pengalaman Presentasi Anak di Depan Orangtua dan Buku-buku yang Patut Dibaca
Suatu pagi, saya berkesempatan menghadiri kegiatan sekolah anak saya. Di hadapan guru, orangtua, dan teman-temannya, ia akan mempresentasikan hasil proyek kelompok membuat poster menyambut Ramadhan. Ini kegiatan proyeknya yang terakhir di SD sebelum siswa disibukkan dengan mengikuti rangkaian try out TKA kelas 6. Kelompok terdiri atas 3 siswa dan masing-masing siswa akan presentasi di tiga kelas yang berbeda.
Beberapa hari sebelum kegiatan tersebut, ibunya mengajaknya latihan presentasi di hadapan kami. Antusias memberi masukan, saya ambil beberapa buku yang ada di rak buku di rumah mengenai seni berbicara dan presentasi di depan publik. Mengingat tingkat literasi anak saya yang masih suka dengan buku bergambar, tentu anak saya tidak antusias dengan buku-buku itu.
Berikut ini buku-buku yang saya sarankan.
1. Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, di Mana Saja – Larry King
Buku ini lama berada di rak buku rumah saya mula-mula bukan karena saya mendatanginya, tapi buku ini mendatangi saya. Buku ini adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah saya terima, dari pengajar saya di kampus, Pak Yuli Fajar Susetyo yang baik hati, saat saya kuliah di Jogja awal tahun 2000-an. “Jalan menuju sukses,” tulis Larry King, “baik sosial maupun profesional, dilalui lewat berbicara.” Meski kemampuan berbicara menjadi landasan penting dalam perjalanan hidup yang pernah saya lalui, semakin terasa penting bagi saya saat ini mengingat hampir setiap hari saya harus berbicara di depan mahasiswa-mahasiswa saya di kelas. Dan saat berkenalan dengan mahasiswa di kelas untuk pertama kali, saya teringat saran King untuk mengungkapkan diri kita saat berbicara, termasuk dari mana asal kita. Jadi meski mahasiswa salah menebak saya sebagai orang Jogja atau Solo, saya akan mengenalkan diri bahwa saya orang Tegal, Jawa Tengah, sekalian logat-logatnya.
2. Bicara itu Ada Seninya: Rahasia Komunikasi yang Efektif – Oh Su Hyang
Melalui buku ini, penulis dan pembicara publik asal Korea Selatan Oh Su Hyang berbagi pengetahuan tentang seni berbicara. Meski bukunya lebih menekankan kecakapan berkomunikasi dalam konteks interpersonal, tidak dikhususkan membahas public speaking, namun kecakapan ini penting sebagai landasan bagi berbagai bentuk komunikasi. Ia menyebut rumus sederhana dalam berkomunikasi sebagai berikut: C = Q x P x R. Menurut Hyung, Komunikasi (Communication/C) yang baik harus mengandung tiga hal, yakni mengajukan pertanyaan (Question/Q), memberi pujian (Praise/P) dan menunjukkan reaksi dengan cara merespon dan memberi umpan balik (Reaction/R). Semakin tinggi ketiga hal tersebut kita tunjukkan, semakin menandakan kita antusias menjalin komunikasi dengan lawan bicara.
3. TED Talks: The Official TED Guide to Public Speaking – Chris Anderson
Tonton video TED Talk mana pun dan kita akan kagum atas kecakapan pembicaranya dalam public speaking. Namun, di balik semua itu, ada tim TED yang dipimpin Chris Anderson yang bekerja di balik layar dengan memberi masukan pada semua pembicara sebelum mereka tampil di panggung. Apa saja kiat menjadi pembicara menarik seperti pembicara TED dikupas detail dalam buku ini. Salah satu yang penting di antaranya adalah latihan, mungkin beberapa kali, sebelum benar-benar tampil di hadapan publik. Bahkan orang sesibuk Bill Gates menyempatkan latihan sebelum ia tampil di panggung.
4. My Public Speaking – Hilbram Dunar
Buku yang ditulis oleh penyiar radio dan presenter mendiang Hilbram Dunar ini juga datang ke saya, bukan hanya bukunya tapi juga penulisnya, saat tempat kerja saya dahulu mengundang Hilbram Dunar dalam suatu acara di kantor. Meski lebih banyak melihatnya di acara televisi dibandingkan bertemu langsung, kesannya sama: ia orang yang antusias, penuh stamina, dan berbicara dengan intonasi suara yang jelas dan artikulasi yang baik. Menjadi pembicara seperti dirinya dikupas olehnya dalam bukunya ini. Menurutnya, hal yang perlu diperhatikan oleh pembicara terhadap lawan bicara bukan hanya wajahnya tapi juga badannya. Perhatikan pusarnya, katanya. “Apabila ingin mengetahui siapa di antara audience yang benar-benar tertarik kepada Anda, lihat pusarnya… lihat apakah pusar (perutnya) mengarah ke Anda,” jelasnya.
Kembali ke kegiatan anak saya di sekolah. Bagaimana penilaian saya mengenai presentasi anak saya? Saya menilai, dibandingkan beberapa anak yang lain, ia lebih baik; dibandingkan beberapa anak yang lain, ia kalah baik. Tentu ini penilaian subjektif dari ayah terhadap penampilan anaknya sendiri.
“Anak-anak yang sehari-hari komunikasinya bagus, presentasinya juga bagus” kata ibunya menilai ia dan teman-temannya. Sayangnya, anak saya bukan tipe yang demikian.
Ulasan saya atas buku-buku di atas dibuat untuk berjaga-jaga apabila suatu saat nanti ia merasa butuh membaca buku-buku yang bisa mengasah kemampuannya dalam berbicara, baik dengan seseorang, beberapa orang, dan banyak orang. Ia hanya perlu beranjak mengambil dan membaca satu atau beberapa buku tersebut di rak buku ayahnya di rumah.
