Belief Perseverance: Bagaimana Keyakinan Tetap Bertahan Meski Ada Bukti yang Bertentangan?

Share this:

Pengertian belief perseverance

Dalam Encyclopedia of Social Psychology, belief perseverance didefinisikan sebagai berikut:

the tendency to cling to one’s initial belief even after receiving new information that contradicts or disconfirms the basis of that belief

Kecenderungan untuk tetap berpegang pada keyakinan awal seseorang bahkan setelah menerima informasi baru yang bertentangan atau menyangkal dasar keyakinan tersebut.

Kamus American Psychological Association (APA) mencantumkan istilah ini sebagai perseverance effect yang didefinisikan sebagai berikut:

the phenomenon in which people’s beliefs about themselves and others persist despite a lack of supporting evidence or even a contradiction of supporting evidence.

Fenomena di mana keyakinan seseorang tentang diri mereka sendiri dan orang lain tetap bertahan meskipun tidak ada bukti pendukung atau bahkan terdapat kontradiksi terhadap bukti pendukung.

Bagaimana belief perseverance muncul?

Menurut Encyclopedia of Social Psychology, setidaknya tiga proses psikologis yang mendasari munculnya belief perseverance.

1. Heuristik ketersediaan (availability heuristic)

Orang menggunakan heuristik ketersediaan (availability heuristic) untuk memutuskan apa yang paling mungkin terjadi. Saat menilai kemampuan Anda sendiri dalam tugas tertentu, Anda cenderung mencoba mengingat seberapa baik Anda telah melakukannya pada tugas serupa di masa lalu, yaitu, seberapa tersedia (dalam ingatan) keberhasilan versus kegagalan di masa lalu.

2. Korelasi ilusi (illusory correlation)

Orang cenderung melakukan korelasi ilusi (illusory correlation) di mana seseorang melihat atau mengingat lebih banyak kasus yang menguatkan dan lebih sedikit kasus yang membantah daripada yang sebenarnya ada.

3. Distorsi data (data distortions)

Orang cenderung melakukan distorsi data (data distortions) di mana kasus yang menguatkan secara tidak sengaja diciptakan dan kasus yang membantah diabaikan. Misalnya, jika Anda diberitahu bahwa seorang siswa baru bersikap tidak sopan, Anda cenderung memperlakukan orang tersebut dengan cara yang mengundang ketidaksopanan dan melupakan contoh-contoh kesopanan.

Contoh belief perseverance dalam kehidupan sehari-hari

Beberapa contoh belief perseverance sehari-hari antara lain:

  1. Kita cenderung meyakini tentang sifat-sifat seseorang berdasarkan kesan pertama yang muncul. Kesan pertama mengenai seseorang menjadi keyakinan (belief) yang terus bertahan meskipun setelahnya, saat kita berinteraksi lebih jauh dengan orang tersebut, sifat-sifatnya berbeda. Adanya bukti baru mengenal sifat-sifat orang tersebut tidak mengubah keyakinan kita yang sudah ada.
  2. Kekaguman kita terhadap tokoh politik yang kita idolakan biasanya membuat keyakinan kita terhadap tokoh politik tersebut tetap bertahan meskipun ada bukti bahwa tokoh politik tersebut melakukan pelanggaran hukum, misalnya bertindak korup.
  3. Terhadap teman dekat atau pasangan, kita cenderung memiliki keyakinan yang bertahan mengenai sifat-sifat baik mereka, meskipun ada bukti terkini bahwa teman dekat atau pasangan tersebut tidak setia, berkhianat, atau memiliki sejumlah karakter negatif yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.

Bagaimana cara mengurangi belief perseverance?

Salah satu teknik yang dinilai paling berhasil dalam mengurangi belief perseverance adalah meminta orang tersebut untuk membayangkan atau menjelaskan bagaimana keyakinan yang berlawanan mungkin benar. Teknik penghilang bias ini dikenal sebagai counterexplanation (penjelasan tandingan).

Selain belief perseverance, ada beberapa bias dalam berpikir yang kerap kita lakukan sehari-hari, antara lain availability heuristic, representativeness heuristic, anchoring and adjustment heuristicfundamental attribution errorhindsight biasmotivated reasoning, negativity bias, dan bias konfirmasi. Bias konfirmasi digambarkan dengan baik dalam eksperimen Wason Selection Test.

Share this:

Similar Posts