Menulis untuk Memahami: Belajar Menulis dari Dokter Bedah Atul Gawande
Ada dua alasan yang kebanyakan orang dari berbagai latar belakang profesi tidak mau menulis: 1) tidak ada waktu dan 2) menulis tidak ada uangnya. Namun dua alasan ini tidak ada dalam isi kepala seorang dokter bedah asal Amerika Serikat keturunan India bernama Atul Gawande.
Sepanjang kariernya yang sibuk sebagai dokter bedah, juga sebagai pejabat publik bidang kesehatan, ia mampu menulis empat buku dan banyak artikel di majalah bergengsi New Yorker. Apa rahasianya? Atul Gawande membedah sendiri isi kepalanya melalui wawancara dengan Youtuber David Perell dalam Podcast bertajuk Why I Write.
Sebelum itu, mari kita berkenalan lebih dulu dengan Atul Gawande. Biografi singkat ini saya kutip dari website pribadinya. Ia adalah seorang ahli bedah, penulis, dan pemimpin kesehatan masyarakat asal Amerika Serikat. Ia memegang John and Cyndy Fish Chair in Surgery di Brigham and Women’s Hospital (BWH) dan merupakan Profesor Praktik di Harvard Medical School. Ia menjabat sebagai Asisten Administrator Kesehatan Global di USAID dari Januari 2022 hingga Januari 2025.
Sebelumnya, ia ikut mendirikan dan memimpin Ariadne Labs, sebuah pusat inovasi sistem kesehatan gabungan di mana sekarang menjabat sebagai Distinguished Professor in Residence, dan Lifebox, sebuah organisasi nirlaba yang menjadikan operasi lebih aman secara global. Dari tahun 2018 hingga 2020, ia menjabat sebagai CEO Haven, sebuah perusahaan patungan antara Amazon, Berkshire Hathaway, dan JPMorgan Chase di bidang kesehatan.
jika itu memberi saya energi, saya akan melakukannya lebih banyak, dan jika itu melelahkan saya, saya melakukannya lebih sedikit, dan menulis memberi saya energi, dan operasi juga, dan dalam beberapa hal, penelitian yang saya lakukan.
Gawande juga merupakan penulis kawakan untuk majalah The New Yorker dan telah menulis empat buku bestseller: Complications, Better, The Checklist Manifesto, dan Being Mortal. Ia adalah produser eksekutif untuk adaptasi film dokumenter Being Mortal (2016) yang dinominasikan Emmy dan untuk film dokumenter To Kill A Tiger (2024) yang dinominasikan Oscar.

Berikut ini pelajaran mengenai menulis dari Atul Gawande.
- Bereksplorasilah apapun dalam hidupmu sebelum usia 40, setelah usia tersebut pilih beberapa saja yang sesuai dengan dirimu, mudah-mudahan menulis salah satunya
Atul Gawande mendapat nasihat dari kawannya yang ia terapkan sepanjang hidup. Nasihatnya ini: “Katakan ya untuk apapun sebelum Anda berusia 40 tahun; katakan tidak untuk apapun setelah Anda berusia 40 tahun”. Gawande menjelaskan maksud nasihat kawannya ini, bahwa sebelum usia 40, kita belum tahu apa yang bisa kita lakukan. Kita tidak tahu apa yang memberi kita energi dan dunia berubah setiap saat. Sebelum usia 40 kita mencoba banyak hal yang kita ingin tahu atau berpotensi tertarik terhadapnya. Bereksplorasi sebelum usia 40 tahun memungkinkan kita tahu bagian-bagian yang memberi kita energi dan bagian-bagian yang melelahkan kita.
Itulah yang dilakukan oleh Gawande. Ia menceritakan bagaimana ia memutuskan bidang yang sesuai dengannya setelah berusia 40 tahun,
Jadi, saya bekerja di Hill. Saya punya band. Saya bekerja di beberapa laboratorium. Saya mulai menulis untuk teman saya yang punya majalah berbasis internet. Saya masuk ke ruang operasi dan terpesona. Dan saya menyatukannya dan saya menemukan ada tiga hal yang akhirnya saya lakukan yang tidak masuk akal. 1) Saya belajar cara melakukan operasi. 2) Saya punya minat yang sudah lama terhadap kebijakan dan urusan publik, yang akhirnya berfokus pada peningkatan kesehatan masyarakat dan sistem kesehatan. 3) Dan saya menemukan dunia menulis, dan ketiga inilah tema yang muncul.
- Menulis sebagai keterampilan yang dapat dipelajari
Gawande mengakui bahwa menulis tidak datang kepadanya secara alamiah sebagaimana dunia kedokteran. Ia bilang,
Saya masuk ke dunia kedokteran secara alami. Saya tidak masuk ke dunia menulis secara alami. Saya sama sekali tidak terlahir sebagai penulis.
Apa yang membuatnya menjadi penulis? Mula-mula ia diminta oleh seorang temannya untuk menulis di majalah berbasis internet bernama Slate. Temannya ini tidak mampu untuk mengundang jurnalis yang dapat menulis untuk majalahnya dengan memberikan sejumlah bayaran, apalagi masa depan platform majalahnya tidak bisa ditebak. Jadi diundanglah teman-temannya untuk menulis, salah satunya Gawande. Saat itu Gawande hanya menulis catatan ringan serupa buku harian. Ia menulisnya di ujung hari sepulang kuliah. Semacam blog seorang residen kedokteran. Temannya inilah yang menjadi editor pertamanya dengan memberi masukan mana bagian tulisan yang ditulis dengan baik dan mana yang perlu diperbaiki. Ia bercerita,
Yang saya sadari adalah, saya baru saja pulang dari hari saya di residensi dan meluangkan waktu satu setengah jam atau beberapa jam untuk meneliti sebuah karya atau menulis. Dan itu hanya sinyal bagi saya bahwa saya menemukan energi, alih-alih kelelahan, karena mengerjakannya. Karya pertama saya tidak begitu bagus. Ada banyak hal yang memalukan tentangnya. Metaforanya terlalu berlebihan dan bentrok, dan sebagainya. Tetapi saya belajar di setiap langkahnya. Seperti, teman saya, namanya Jake Weissberg, akan berkata kepada saya, “Baiklah, inilah yang kamu lakukan dengan baik. Inilah yang tidak kamu lakukan dengan baik.”
- Tulis ulang hasil karya Anda, mungkin butuh beberapa kali
Salah satu pelajaran penting yang didapat Gawande pada awal karir kepenulisannya adalah menulis ulang. Saat editor pertamanya memberi masukan bagian-bagian yang diperbaiki dan meminta Gawande menulis ulang, ia terkejut.
Dia bilang, kerjakan yang pertama lebih banyak, kurangi yang kedua, lalu dia mengembalikannya dan saya bilang, untuk apa ini? Dia bilang, untuk menulis ulang. Saya belum pernah menulis ulang apa pun di bangku kuliah. Kayaknya saya belum pernah dengar. Siapa yang bisa menulis ulang? Dan itu adalah awal mulanya, ketika saya mendapat kesempatan menulis untuk The New Yorker beberapa tahun kemudian, saat itu saya 22 kali menulis ulang. Dan saya harus membangun toleransi untuk proses itu.
Banyak riset, menyelesaikan draf pertama, lalu merevisi, merevisi, dan merevisi. Dan saya benci merevisi, tapi sekarang inilah bagian yang saya nanti-nantikan. Rasanya, saya tak sabar untuk menyelesaikannya. Draf pertama memang selalu menyakitkan. Tapi, revisi yang saya tahu akan membuatnya lebih baik.
- Jadikan menulis sebagai sumber energi
Gawande memiliki prinsip hidup yang membuatnya terus menulis. Ia akan melakukan lebih banyak jika yang ia lakukan memberinya energi. Bagi Gawande, menulis memberinya energi sehingga ia bisa menulis lebih banyak.
Saya melihat kembali masa residensi saya dan saya bertanya-tanya bagaimana saya melakukannya. Karena itu saya benar-benar berpikir itu sesederhana prinsip dasar yang saya ikuti, yaitu jika itu memberi saya energi, saya ingin melakukannya lebih banyak, dan jika itu melelahkan saya, saya melakukannya lebih sedikit dan menulis memberi saya energi, dan operasi juga, dan dalam beberapa hal, penelitian yang saya lakukan.

- Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk menulis
Ini kiat yang membuat orang dari profesi paling sibuk sekalipun mampu menulis, yakni luangkan waktu untuk menulis. Ini pula yang membuat orang yang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya tidak mampu menulis.
Saya tidak mencoba menulis dalam jumlah yang banyak. Saya menetapkan tujuan 30 jam sebulan, dan sebagian besar dari apa yang saya tulis adalah dengan menuliskannya dalam 30 jam sebulan. Seperti Anda tahu, rata-rata satu jam sehari yang terasa bisa dilakukan.
- Tulislah dengan suara Anda sendiri
Gawande bercerita,
Berusahalah agar tulisan terasa sangat renyah, sangat jelas, tidak menggunakan kalimat yang panjang, sehidup mungkin, tetapi juga tentang argumen, apakah saya punya argumen yang kuat yang saya buat dan cerita yang saya sampaikan yang menjelaskan argumen tersebut?
- Menulislah seperti penulis fiksi: gunakan kemampuan dalam berkisah
Gawande menyampaikan,
Saya saya mencoba menggunakan teknik yang biasanya dikaitkan dengan penulis fiksi dalam sebuah bagian pelaporan yang menceritakan sebuah kisah. Dan Anda tahu itu mungkin semacam gaya New Yorker, bukan? Saya mencoba untuk menceritakan kisah yang ditulis dengan baik. Saya mencoba untuk sering menarik Anda di sekitar subjek yang benar-benar sensasional, bukan? Saya bisa menulis tentang mencuci tangan. Salah satu karya saya yang paling awal adalah tentang dua juta orang yang terinfeksi di rumah sakit karena seseorang tidak mencuci tangan mereka.
Menulis adalah cara saya bergulat dengan masalah yang membingungkan saya.
Atul Gawande
- Buat daftar ide potensial yang kelak bisa menjadi tulisanmu
Bagaimana Gawande bisa merancang tulisan untuk esai majalah atau buku-bukunya? Ia lebih dahulu membuat daftar gagasan potensial sebelum menjadi tulisan utuh. Daftarnya antara lain ia tulis di catatan (note) di smartphone-nya.
Saya menyimpan daftar ide potensial untuk artikel. Daftarnya bisa jadi tentang penelitian, tapi juga tentang ide cerita untuk The New Yorker atau bahkan mungkin ide buku. Dan saya sudah menyimpan daftar itu selama bertahun-tahun. Dan banyak dari gagasan tersebut teronggok di sana dan tidak punya kaki karena isinya cerita yang keren tanpa kerangka makna yang lebih luas.
Gawande berkisah mengenai bagaimana ia menulis esai tentang wanita yang merasakan gatal di kepalanya. Mulanya ia membacanya sebagai laporan kasus dan itu tercatat di buku catatannya karena ia merasa itu adalah cerita yang keren. Tetapi awalnya ia tidak punya apa-apa sebagai pijakannya, seperti mengapa cerita itu menarik, apa yang membuat cerita itu berhasil. Ketika ia kemudian memikirkan atau membaca sesuatu atau yang terhubung dengan cerita itu, ia dapat memahaminya dengan baik dan layak dibuat dalam sebuah esai. Dengan kata lain, daftar ide potensial berupa cerita tertentu membutuhkan narasi yang bermakna, cerita, filosofi, konsep abstrak, model mental atau ide, dan sarana yang membuat cerita itu menggerakkan dan menjadi pembuka gagasan dalam sebuah esai.
- Jadikan aktivitas menulis sebagai cara memahami sesuatu
Bagi Gawande, menulis adalah caranya dalam memahami sesuatu. Mulanya suatu masalah membingungkan, dan dengan menuliskannya ia mendapatkan pemahaman dan jalan keluar.
Menulis adalah cara saya bergulat dengan masalah yang membingungkan saya. Tulisan sering kali berada di tempat sains, dan seni, dan kemanusiaan dari dunia kedokteran yang saling bertabrakan, dan memilahnya adalah apa yang bisa saya lakukan di halaman-halaman yang saya tulis. Saya sering melakukan itu di jurnal atau hal-hal lain dan kemudian itu bisa mulai menjadi sesuatu ketika saya merasa seperti melihat jalan keluar dan saya bisa menuliskan jalan keluarnya.
- Tulislah tema-tema yang langgeng
Gawande memberi saran untuk menulis tema-tema yang langgeng (evergreen). Tulisan bisa dibaca 5 sampai 10 tahun yang akan datang tanpa kehilangan relevansinya dengan saat tulisan itu dibaca.
Gawande bercerita,
Sebagian besar saya memikirkan dalam tulisan saya, entah itu untuk New Yorker atau untuk buku atau media lain, bisakah saya menulis sesuatu yang orang-orang masih ingin baca 5 atau 10 tahun dari sekarang? Itu tujuan utama saya, 5 atau 10 tahun. Tentu saja, sekarang saya sudah lebih tua dan kemudian saya berpikir, oke, bisakah lebih lama dari itu?
Menulis yang khas sesuai gaya penulisnya, dan pentingnya merevisi tulisan disampaikan pula oleh penulis-penulis lain. William Zinsser menyarankan penulis untuk menjadi diri sendiri. Kurt Vonnegut mendorong penulis berani membuang bagian tulisan yang tidak penting. Haruki Murakami menyebutkan tiga kunci sukses menjadi penulis.
