Sederhanakan, Sederhanakan: Kiat Menulis yang Baik Menurut William Zinsser
Di era digital saat ini, setiap orang bisa menulis, namun tidak semua orang bisa menulis dengan baik.
Menurut William Zinsser, masyarakat kita dipenuhi oleh pesan-pesan tertulis yang ruwet. “Kita adalah masyarakat yang tercekik oleh kata-kata yang tidak perlu, konstruksi yang mbulet, embel-embel yang muluk-muluk, dan jargon yang tak bermakna. Pendek kata, kita banyak menggunakan tulisan yang ruwet.”
Semakin berpendidikan dan berstatus tinggi, kata Zinsser, tulisan yang dihasilkan semakin ruwet. Orang yang berpendidikan berkepentingan terhadap citra diri yang intelektual yang tergambar dalam tulisannya, maka tulisan yang dihasilkan bergaya intelek namun ruwet. Orang yang berstatus tinggi, termasuk lembaga-lembaga pemerintahan, berkepentingan dengan citra diri dan lembaganya yang bijaksana, sehingga tulisan yang dihasilkan terkesan bijak namun ruwet. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tidak ruwet. Seperti apa?
Berpikir jernih menjadi tulisan yang jernih; yang satu tak bisa ada tanpa yang lain. Mustahil bagi seorang pemikir yang kurang fokus untuk menulis dalam bahasa yang baik.
William Zinsser
1. Tulisan yang baik tersusun dari kalimat-kalimat yang jernih
Bagi Zinsser, tulisan yang baik itu datang dari kalimat-kalimat penyusunnya yang jernih. Kata-kata, kalimat-kalimat, dan konstruksi yang digunakan tertata secara efisien. Menurut Zinsser,
“Rahasia tulisan yang baik adalah meringkas setiap kalimat hingga ke komponen-komponennya yang paling bersih. Setiap kata yang tidak berfungsi, setiap kata panjang yang bisa jadi pendek, setiap kata keterangan yang maknanya sama dengan yang sudah ada di kata kerja, setiap konstruksi pasif yang membuat pembaca bingung siapa yang melakukan apa—inilah seribu satu pemalsuan yang melemahkan kekuatan sebuah kalimat.”
2. Sederhanakan, sederhanakan
Mengenai tulisan yang sederhana, Zinsser belajar dari Henry David Thoreau (1817-1862), filsuf asal Amerika Serikat. Buka buku Thoreau berjudul Walden (1854). Di halaman mana pun kita buka, kata Zinsser, kita membaca tulisan dengan gaya bahasa yang sederhana. Misalnya seperti berikut:
“Aku pergi ke hutan karena aku ingin hidup dengan sengaja, untuk menghadapi hanya fakta-fakta esensial dari kehidupan, dan melihat apakah aku bisa belajar apa yang ingin diajarkannya, dan supaya aku tidak, ketika tiba saatnya aku mati, menyadari bahwa aku belum pernah hidup.”

3. Mulai dari pikiran yang jernih
Bagaimana agar kita terhindari dari tulisan yang ruwet? Zinsser menulis,
“Jawabannya adalah menjernihkan pikiran kita dari keruwetan. Berpikir jernih menjadi tulisan yang jernih; yang satu tak bisa ada tanpa yang lain. Mustahil bagi seorang pemikir yang kurang fokus untuk menulis dalam bahasa yang baik. Ia mungkin bisa lolos hanya dengan satu atau dua paragraf, tetapi pembaca akan segera tersesat, dan tidak ada dosa yang seberat itu, karena pembaca tidak akan mudah tergoda untuk kembali.”
Kita perlu berpikir jernih, menurut Zinsser, karena pembaca adalah seseorang dengan rentang perhatian yang sangat singkat, hanya sekitar 30 detik. Pembaca diserang oleh banyak kekuatan yang bersaing untuk mendapatkan perhatian. Dahulu kekuatan-kekuatan itu relatif sedikit: surat kabar, majalah, radio, pasangan, anak-anak, hewan peliharaan. Kini, kekuatan itu juga mencakup segudang perangkat elektronik untuk menerima hiburan dan informasi seperti televisi, video game, internet, e-mail, dan smartphone. “Pria atau wanita yang tertidur di kursi sambil membaca majalah atau buku adalah orang yang terlalu banyak diberi masalah yang tidak perlu oleh penulisnya,” kata Zinsser.
4. Menulislah dengan cermat
Tulisan yang baik dihasilkan dari cara menulis yang cermat. Tulisan yang ditulis dengan tidak cermat membuat pembaca kehilangan alur pikiran penulisnya. Bukan karena pembaca bodoh atau malas, namun karena penulis membuat mereka bekerja keras memahami pikirannya yang tidak cermat itu.
“Kecerobohan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mungkin sebuah kalimat terlalu berantakan sehingga pembaca, yang membaca kata-katanya, tidak tahu artinya. Mungkin sebuah kalimat dibangun dengan sangat buruk sehingga pembaca bisa membacanya dengan beberapa cara. Mungkin penulis mengganti kata ganti di tengah kalimat, sehingga pembaca kehilangan jejak siapa yang berbicara atau kapan tindakan itu terjadi. Mungkin Kalimat B bukanlah sekuel logis dari Kalimat A; penulis, yang berpikir bahwa hubungannya sudah jelas, tidak repot-repot menyediakan mata rantai yang hilang. Mungkin penulis telah menggunakan kata secara tidak tepat karena tidak bersusah payah mencarinya.”
Jika Anda merasa menulis itu sulit, itu karena memang menulis itu sulit.
William Zinsser
5. Selalu bertanya pada diri sendiri: Apa yang ingin saya katakan?
Tulisan yang baik berasal dari penulis yang menyadari apa yang ingin disampaikan. Sepanjang menulis, ia awas terhadap kalimat-kalimat yang ditulis, apakah cukup jelas menyampaikan maksud atau masih kurang jelas, atau samar-samar atau membikin bingung pembacanya. Kata Zinsser,
“Penulis harus terus-menerus bertanya: apa yang ingin saya katakan? Anehnya, seringkali mereka tidak tahu. Lalu mereka harus melihat kembali apa yang telah mereka tulis dan bertanya: sudahkah saya mengatakannya? Apakah sudah jelas bagi seseorang yang baru pertama kali membaca subjek tersebut? Jika tidak, ada sesuatu yang samar-samar yang menyusup ke dalam tulisannya. Penulis yang jernih adalah seseorang yang cukup berpikiran jernih untuk melihat hal-hal yang tidak jelas atau samar-samar.”

6. Menulis yang baik itu butuh kerja keras
Menulis yang baik itu sama seperti keterampilan yang lain, sehingga keterampilan menulis butuh dilatih. Zinsser menulis,
“Berpikir jernih adalah tindakan sadar yang harus dipaksakan oleh penulis pada diri mereka sendiri, seolah-olah mereka sedang mengerjakan proyek lain yang membutuhkan logika: membuat daftar belanja atau mengerjakan soal aljabar. Menulis yang baik tidak datang secara alami, meskipun kebanyakan orang tampaknya berpikir demikian.”
Karena menulis yang baik tidak datang secara alami, maka kita perlu bekerja keras untuk membuat tulisan yang baik. Bagi Zinsser, jika kita merasa menulis itu sulit, ya karena memang menulis itu sulit. Tentu yang dimaksud Zinsser menulis di sini adalah menulis yang baik.
“Menulis itu kerja keras. Kalimat yang jelas bukanlah kebetulan. Sangat sedikit kalimat yang keluar dengan benar pada percobaan pertama, atau bahkan ketiga kalinya. Ingatlah hal ini di saat-saat putus asa. Jika Anda merasa menulis itu sulit, itu karena memang menulis itu sulit.”
Menulis itu mudah; menulis yang baik itu sulit.
Selain pentingnya menulis secara sederhana, agar penulis memiliki gaya tulisan, Zinsser memandang penting menjadi diri sendiri. Atul Gawande, seorang dokter bedah dan esais, memandang penting bagi penulis untuk menulis dengan bahasa yang renyah, jelas, hidup, dan menggunakan kalimat yang pendek.
