Frans de Waal on the TED stage.

Hukum Rimba Hanya Mitos Belaka, Apa Faktanya?

Share this:

Saat kita mendengar istilah hukum rimba, yang segera terlintas di kepala kita adalah sebuah aturan hidup tidak manusiawi di hutan di mana hanya yang kuatlah yang menang dan mampu bertahan. Namun, benarkan di hutan berlaku hukum demikian? 

Dalam sebuah acara bedah buku beberapa waktu lalu, Presiden ke-6 Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan kepada para politikus, “Dalam meraih kekuasaan, jalannya harus benar. Jangan berselingkuh terhadap konstitusi. Jangan menyalahgunakan kekuasaan,” Beliau menambahkan, “Di samping soal kepentingan atau interest dalam mendapat kekuasaan politik, values, prinsip, dan nilai-nilai yang baik tidak boleh dikesampingkan.”

Pesan SBY ini mengingatkan saya pada twit beliau setahun sebelum Pemilu 2019 yang menghimbau agar penyelenggaraan Pemilu dilakukan secara jujur dan adil, “Semoga yang berlaku bukan ‘hukum rimba’. Yang kuat pasti menang dan yang lemah pasti kalah, tak peduli salah atau benar.

Dua pernyataan yang terpaut cukup jauh itu diungkapkan saat beliau sudah tidak menjadi presiden. Bedanya, pernyataan pertama bernada lebih rendah karena partainya berada dalam kekuasaan, pernyataan terakhir bernada lebih tinggi karena partainya saat itu sebagai oposisi. Namun, dua pernyataan itu tampaknya saling berkaitan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan hukum rimba sebagai “hukum yang berlaku yang menyatakan siapa yang menang atau yang kuat dialah yang berkuasa.”

Kamus Cambridge memiliki idiom the law of the jungle yang didefinisikan sebagai “the idea that people who care only about themselves will be most likely to succeed in a society or organization” (gagasan bahwa orang yang hanya peduli pada diri sendiri kemungkinan besar akan berhasil dalam masyarakat atau organisasi).

Banyak hewan bertahan hidup bukan dengan saling membunuh atau menyimpan semuanya untuk diri mereka sendiri, tetapi dengan bekerja sama dan berbagi.

Frans de Waal

Namun, benarkah dalam rimba berlaku hukum demikian, bahwa yang kuatlah yang berkuasa, dan hanya yang peduli pada diri sendiri yang akan berhasil?

Yoval Noah Harari, dalam bukunya Nexus (2024), menerangkan bahwa kita selama ini memelihara imajinasi mengenai hukum rimba yang tidak berdasarkan fakta sesungguhnya. Hukum rimba yang selama ini diyakini hanyalah mitos belaka. Kata Harari,

“…hukum rimba itu sendiri adalah mitos. Seperti yang didokumentasikan oleh de Waal dan banyak ahli biologi lainnya dalam berbagai penelitian, hutan rimba yang sebenarnya—tidak seperti yang ada dalam imajinasi kita—penuh dengan kerja sama, simbiosis, dan altruisme yang ditunjukkan oleh banyak hewan, tumbuhan, jamur, dan bahkan bakteri.”

 

Luit memamerkan diri dalam lingkaran besar di sekitar Yeroen. Sumber: chimpanzee politics

Frans de Waal, primatologis dari Amerika Serikat keturunan  Belanda, melakukan penelitian bertahun-tahun mengenai perilaku simpanse dalam kawanannya. Dalam sebuah video singkat di Big Think ia mengatakan, pandangan bahwa hewan itu egois dan yang kuat yang menang, itu sepenuhnya keliru.

“Orang-orang terkadang menggambarkan alam sebagai dunia yang kejam. Beberapa ahli biologi menggambarkan alam sebagai medan perang di mana kecenderungan egois cenderung menang. Dan dari segi moralitas, evolusi moralitas, ruangnya sangat sempit. Yang mereka maksud adalah bahwa yang mereka lihat hanyalah persaingan. Saya menang, Anda kalah, menang lebih baik daripada kalah, dan seterusnya. Itu sepenuhnya salah. Saya melawan karakterisasi masyarakat hewan semacam itu sepanjang hidup saya, karena seperti masyarakat manusia, masyarakat hewan dibangun di atas banyak persahabatan dan kerja sama pada saat yang sama.”

Dalam bukunya The Age of Empathy, de Waal menjelaskan bahwa dalam spesies kita, ada sisi egoisnya namun juga ada sisi sosialnya. Sayangnya asumsi yang dominan dalam masyarakat kita selama ini adalah spesies itu dapat bertahan hidup karena egois. De Waal menulis,

“Jangan percaya siapa pun yang mengatakan bahwa karena alam didasarkan pada perjuangan untuk hidup, kita juga perlu hidup seperti itu. Banyak hewan bertahan hidup bukan dengan saling membunuh atau menyimpan semuanya untuk diri mereka sendiri, tetapi dengan bekerja sama dan berbagi. Ini berlaku terutama untuk pemburu berkelompok, seperti serigala atau paus pembunuh, tetapi juga untuk kerabat terdekat kita, primata. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Taman Nasional Taï, Pantai Gading, simpanse merawat teman kelompok mereka yang terluka oleh macan tutul; mereka menjilat darah teman mereka, dengan hati-hati membersihkan kotoran, dan mengusir lalat yang mendekati luka. Mereka melindungi teman yang terluka dan memperlambat perjalanan untuk mengakomodasi mereka. Semua ini sangat masuk akal, mengingat simpanse hidup berkelompok karena suatu alasan, sama seperti serigala dan manusia adalah hewan berkelompok karena suatu alasan.”

Penelitian de Waal menjelaskan bahwa perilaku politik di kalangan simpanse tidak menunjukkan perilaku hukum rimba yang kita yakini ada pada mereka. Yang terjadi justru sebaliknya.

Di laboratorium de Waal di Arnhem Zoo, Belanda, kawanan simpanse mula-mula dipimpin oleh simpanse bernama Yeroen. Namun dalam beberapa bulan kemudian kepemimpinan diambil Luit, simpanse yang lebih muda. Luit tidak menggunakan paksaan atau kekerasan untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam lebih dari seribu pertemuan yang diamati antara Yeroen dan Luit, mereka hanya berkelahi lima kali. Sebaliknya, kemampuan Luit untuk meningkatkan kesejahteraan simpanse lainlah yang membuka jalan baginya menuju kekuasaan. Ia merawat dan merangkul simpanse lain. Ia menunjukkan kemampuan untuk menjaga perdamaian dalam komunitas. Ia dihargai dengan penghormatan dan senyuman patuh, tanda-tanda penghargaan simpanse.

Menurut de Waal: “Seorang pemimpin menerima dukungan dan rasa hormat dari kelompok sebagai imbalan karena telah menjaga ketertiban dalam kelompok.” Jadi, bukan simpanse yang egois yang menjadi pemimpin dalam kelompok, tetapi simpanse yang altruis atau mengutamakan simpanse lain.

Yeroen mengejar penantangnya, Luit. Kedua pejantan itu berteriak. Sumber: chimpanzee politics

Jadi, jika ada perilaku dalam kehidupan sosial kita yang cenderung egois dan mengutamakan kekuasaan tanpa peduli nilai-nilai, jangan mengumpamakannya dengan hukum rimba karena perilaku hewan di rimba tidak sekeji dalam bayangan kita selama ini. Mereka tidak sekeji itu.

Sesungguhnya manusia juga tidak sekeji itu.

Hanya saja, saat berkuasa, manusia rentan mengalami apa yang oleh ilmuwan psikologi sosial Dacher Keltner disebut sebagai paradoks kekuasaan. Seseorang berkuasa karena orang-orang percaya ia memiliki kualitas baik sebagai manusia (berempati, suka memberi, menghormati orang lain), namun saat kekuasaan berada di tangan, ia cenderung menyalahgunakan kekuasaan yang dimiliki (abuse of power). Keltner menulis,

“Pengalaman berkuasa, tanpa fokus pada orang lain, dengan cepat mengarah pada penyalahgunaan kekuasaan. Alih-alih berempati dengan orang lain, kita kehilangan kontak dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain. Alih-alih memberi, kita mengambil, seringkali secara berlebihan dan tanpa adanya kebutuhan. Alih-alih menghormati orang lain dengan ungkapan rasa terima kasih, kita meremehkan orang lain dengan tindakan tidak beradab.”

Keltner menambahkan bahwa memiliki kekuasaan itu terasa menyenangkan. Perasaan berkuasa meningkatkan lonjakan dopamin di otak. Keltner menulis,

“Perasaan berkuasa ini mendorong kita untuk mencari kekuasaan dan menikmatinya ketika kita membuat perbedaan di dunia. Namun, waspadalah terhadap kenikmatan kekuasaan yang berlebihan: dopamin dan perasaan berkuasa adalah inti dari kecanduan terhadap obat-obatan tertentu, seperti kokain, dan serangan mania, yang keduanya mengarah pada tindakan impulsif, tidak etis, dan pemikiran delusi. Apa yang terasa begitu menyenangkan—kemampuan untuk memengaruhi dan membuat perbedaan di dunia—dapat dengan cepat berubah menjadi berlebihan.”

Berhenti menyalahkan hewan di rimba, mereka tidak sekeji itu. Berhenti juga untuk menyalahkan manusia, karena manusia tidak sekeji itu. Hanya saja, manusia yang sedang berkuasa, karena berkuasa itu menyenangkan, cenderung tergelincir melakukan tindakan keji dengan menyalahgunakan kekuasaan. Alih-alih mementingkan orang lain, penguasa yang menyalahgunakan kekuasaan justru mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Alih-alih menjaga ketertiban umum, justru menciptakan kekacauan umum. Alih-alih memperlakukan sesama dengan penuh hormat, justru merendahkan martabat.

Ada dua jenis kekuasaan, kekuasaan keras yang bersifat memaksa dan kekuasaan lembut yang sukarela. Mengetahui bahwa tidak semua kekuasaan bersifat memaksa, sehingga keberadaannya ada dalam semua interaksi sosial dalam kehidupan kita sehari-hari, dapat menghindarkan kita dari paradoks kekuasaan yang membuat kita menyalahgunakaan kekuasaan.

Share this:

Similar Posts