Otak Semut, Otak Belalang: Bagaimana Cara Berpikir Mengenai Imbalan Dapat Memengaruhi Hidup Kita
Pada suatu hari yang cerah di akhir musim gugur, sekeluarga semut sedang sibuk di bawah hangatnya sinar matahari, mengeringkan biji-bijian yang mereka simpan selama musim panas. Sementara, seekor belalang yang kelaparan, dengan biola di bawah lengannya, datang dan dengan rendah hati meminta sedikit makanan.
“Apa!” teriak para semut terkejut, “Apakah kau tidak menyimpan apa pun untuk musim dingin? Apa yang kau lakukan sepanjang musim panas lalu?”
“Aku tidak punya waktu untuk menyimpan makanan,” rengek belalang, “Aku begitu sibuk menggubah lagu sehingga tanpa kusadari musim panas telah berlalu.”
Para Semut mengangkat bahu dengan jijik. “Menggubah lagu, ya?” teriak mereka. “Baiklah, sekarang menarilah!”
Dan kawanan semut pun memunggungi belalang dan melanjutkan pekerjaan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap dihadapkan pada dua pilihan yang bertentangan: 1) mengutamakan kesenangan hari ini tanpa memedulikan efeknya di masa depan atau 2) menahan diri dari kesenangan segera demi kebaikan masa depan.
Saat gajian awal bulan, kita memilih apakah menikmati gaji di tangan untuk kepuasan segera atau menahan diri dari kesenangan dengan menabungnya untuk masa depan?
Saat punya waktu luang di malam hari, kita memilih apakah menggunakannya untuk scroll media sosial sampai larut malam sehingga kurang tidur atau menahan diri menggunakan media sosial dengan tidur lebih cepat?
Saat ada kebebasan untuk beraktivitas, apakah kita memilih aktivitas apapun selain berolahraga, atau memilih berolahraga demi meningkatkan massa otot yang penting bagi kebugaran tubuh di masa depan?
Saat ada kebebasan untuk memilih makanan, apakah kita lebih memilih makanan enak namun kurang sehat (misalnya junk food) atau memilih makanan sehat, meski dirasa kurang enak, demi kesehatan fisik di masa depan?
Terkait ekosistem, apakah memilih menebang pohon (baca: menggunduli hutan) untuk mendapat keuntungan segera atau memelihara pohon dan hutan demi kelestarian alam di masa depan?
Terkait kekuasaan, apakah memilih menggunakan kekuasaan demi keuntungan jangka pendek diri dan kelompoknya atau menahan dari penyalahgunaan kekuasaan demi kebaikan orang banyak di masa depan?
Pertanyaan eksistensial tentang manusia bukan sebagaimana diungkapkan Descartes bahwa “Saya berpikir maka saya ada”, namun “Saya berpikir, maka saya dapat mengubah siapa diri saya.”
Kehidupan kita sehari-hari dihadapkan pada pilihan apakah menggunakan cara belalang yang mementingkan kesenangan segera tanpa peduli efeknya di masa depan, atau menggunakan cara semut yang menunda kepuasan demi kebaikan di masa depan.
Kecenderungan terhadap dua pilihan tersebut sesungguhnya sudah ada saat kita kecil, namun karena otak anak-anak masih belum berkembang optimal, saat usia anak-anak kita cenderung menggunakan cara belalang dengan mengutamakan kesenangan segera.
Bayangkan sebuah eksperimen berikut.
Seorang anak usia prasekolah (sekitar 4 sampai 5 tahun) duduk di kursi dengan meja di depannya. Di atas meja terdapat piring kecil yang di atasnya ada sebuah marshmallow (pada saat penelitian ini dilakukan sekitar 1960an, marshmallow menjadi makanan favorit anak-anak di Amerika Serikat). Anak itu kemudian diberitahu bahwa peneliti harus meninggalkan ruangan selama beberapa menit, tetapi sebelumnya anak tersebut diberikan pilihan sederhana: Jika ia bisa menunggu sampai peneliti kembali tanpa memakan marshmallow tersebut, ia mendapatkan dua marshmallow. Jika tidak sabar, ia bisa membunyikan bel dan peneliti akan segera kembali, tetapi ia hanya mendapatkan satu marshmallow.
Eksperimen di atas dikenal dengan Tes Marshmallow yang dilakukan oleh Walter Mischel dari jurusan psikologi Universitas Columbia dan koleganya. Mischel mendapati bahwa sebagian besar anak-anak yang menjadi partisipan dalam penelitiannya lebih memilih membunyikan bel dan hanya mendapatkan satu marshmallow. Mereka lebih suka mendapatkan imbalan segera alih-alih menunda dan mendapatkan imbalan dua kali lebih banyak. Cara anak-anak menanggapi imbalan lebih mirip belalang dibandingkan semut.
“Kekhasan preferensi manusia tampaknya mencerminkan persaingan antara belalang limbik yang impulsif dan semut prefrontal yang bijaksana di dalam diri kita masing-masing.”
Samuel M McClure
Dari eksperimen ini Mischel membagi dua cara orang dalam berpikir berkaitan dengan reaksi terhadap imbalan. Mischel menyebut kecenderungan untuk mendapat imbalan segera sebagai sistem panas (hot system) dan kecenderungan menunda mendapat imbalan sebagai sistem dingin (cool system).
Mengenai sistem panas, dalam bukunya Marshmallow Test Mischel menulis,
Aktivasi sistem panas memicu tindakan instan: rasa lapar akan makanan dan keinginan akan rangsangan menarik lainnya memicu perilaku “Ayo!” yang cepat; ancaman dan sinyal bahaya memicu rasa takut dan reaksi defensif serta melarikan diri secara otomatis. Sistem panas agak mirip dengan apa yang Freud sebut sebagai id; ia melihat ini sebagai struktur bawah sadar pikiran, yang berisi impuls biologis seksual dan agresif untuk mencari kepuasan langsung dan pengurangan ketegangan, tanpa mempedulikan konsekuensinya. Seperti id Freud, sistem panas beroperasi secara otomatis dan sebagian besar tanpa sadar, tetapi sistem ini melayani lebih dari sekadar impuls seksual dan agresif yang menjadi perhatian Freud. Bersifat refleksif, sederhana, dan emosional, hal itu secara otomatis dan cepat memicu perilaku konsumtif, gairah, dan tindakan impulsif. Hal itu membuat anak prasekolah membunyikan bel dan memakan marshmallow…
Mengenai sistem dingin, Mischel menulis,
Sistem dingin berkembang perlahan dan secara bertahap menjadi lebih aktif pada tahun-tahun prasekolah dan beberapa tahun pertama sekolah dasar. Sistem ini tidak sepenuhnya matang hingga awal usia dua puluhan, sehingga anak kecil maupun remaja sangat rentan terhadap perubahan-perubahan sistem panas. Tidak seperti sistem panas, sistem dingin selaras dengan aspek informasional dari rangsangan dan memungkinkan perilaku rasional, reflektif, dan strategis.
Saat dihadapkan pada rangsangan yang memuaskan, kita bisa mengaktivasi sistem panas khas belalang, bisa juga mengaktivasi sistem dingin khas semut. Anak-anak cenderung mengaktivasi sistem panas khas belalang dengan menikmati kesenangan segera.
Penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Samuel M McClure dari jurusan psikologi Universitas Princeton dan koleganya menemukan bahwa dua sistem ini punya akarnya di kepala kita. Ada dua bagian di otak kita yang mengatur kedua sistem tersebut. Sistem panas diaktifkan oleh sistem limbik; sistem dingin diaktifkan oleh korteks prefrontal.
Di akhir laporan penelitian tersebut McClure menyimpulkan,
Secara kolektif, studi-studi ini menunjukkan bahwa perilaku manusia sering kali diatur oleh persaingan antara proses otomatis tingkat rendah yang mungkin mencerminkan adaptasi evolusioner terhadap lingkungan tertentu, dan kapasitas manusia yang baru berevolusi dan unik untuk penalaran abstrak, umum, dan perencanaan masa depan. Dalam ranah pilihan antarwaktu, kekhasan preferensi manusia tampaknya mencerminkan persaingan antara belalang limbik yang impulsif dan semut prefrontal yang bijaksana di dalam diri kita masing-masing.
Sistem limbik terdiri dari struktur otak primitif yang berkembang di awal evolusi manusia. Letaknya di bawah korteks di atas batang otak. Sistem limbik mengatur dorongan dan emosi dasar yang penting untuk bertahan hidup, mulai dari emosi menghindar (rasa takut), melawan (rasa marah), rasa lapar dan dorongan seksual. Sistem ini membantu nenek moyang kita mengatasi binatang buas yang merupakan sumber makanan sekaligus bahaya. Di dalam sistem limbik terdapat amigdala, struktur kecil berbentuk almond (amigdala berarti “almond” dalam bahasa Latin) yang memiliki peran penting dalam respons rasa takut, lapar, dan dorongan seksual. Amigdala berperan dalam merespon stimulus dengan bertindak secara cepat, sehingga tidak mampu menahan diri sejenak untuk berpikir, merenung, dan menimbang akibat jangka panjang.
Korteks prefrontal memungkinkan manusia memiliki kemampuan kognitif tingkat tertinggi. Ia mengatur pikiran, tindakan, dan emosi, merupakan sumber kreativitas dan imajinasi, dan sangat penting untuk menghambat tindakan yang tidak tepat yang mengganggu mencapai tujuan. Ia memungkinkan kita untuk mengarahkan kembali perhatian kita dan mengubah strategi secara fleksibel seiring dengan perubahan situasi. Kemampuan pengendalian diri berakar pada korteks prefrontal ini.
Penelitian Tes Marshmallow yang dilakukan oleh Mischel disimpulkan olehnya bahwa mengingat pentingnya bagaimana kita menggunakan pikiran kita dalam merespon imbalan, pertanyaan eksistensial tentang manusia bukan sebagaimana diungkapkan Descartes bahwa “Saya berpikir maka saya ada”, namun “Saya berpikir, maka saya dapat mengubah siapa diri saya.” Karena dengan mengubah cara kita berpikir, menurut Mischel, kita dapat mengubah apa yang kita rasakan, lakukan, dan akan menjadi seperti apa diri kita di masa depan.
“Pengendalian diri dapat dipupuk pada anak-anak dan orang dewasa, sehingga korteks prefrontal dapat digunakan secara sengaja untuk mengaktifkan sistem dingin dan mengendalikan sistem panas.”
Walter Mischel
Pandangan Mischel mengenai eksistensi manusia, bahwa saya berpikir maka saya dapat mengubah diri saya, tidak lepas dari penelitian mengenai tes marshmallow yang dilakukannya selama bertahun-tahun. Anak-anak usia 4-5 tahun yang menjadi partisipan penelitian tes marshmallow diundang kembali untuk dianalisis sejumlah aspek psikologi yang penting pada saat mereka remaja, kemudian saat dewasa, kemudian saat paruh baya.
Dibandingkan partisipan yang tidak bisa menunda, partisipan yang pada usia prasekolah mampu menunda lebih lama pada Tes Marshmallow, dua belas tahun kemudian menjadi remaja yang lebih mampu mengendalian diri dalam situasi yang membuat frustrasi; mampu menahan godaan; kurang mudah teralihkan perhatiannya saat mencoba berkonsentrasi; lebih cerdas, mandiri, dan percaya diri; serta mempercayai penilaian mereka sendiri; ketika berada di bawah tekanan, mereka tidak mudah panik. Mereka juga lebih tinggi nilai akademiknya (skor SAT) dibandingkan dengan yang tidak mampu menunda.
Pada saat dewasa (usia sekitar dua puluh lima hingga tiga puluh tahun), anak-anak yang lebih lama menunda pada Tes Marshmallow lebih mampu mengejar dan mencapai tujuan jangka panjang; lebih jarang menggunakan narkoba; mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi; dan memiliki indeks massa tubuh yang jauh lebih rendah. Mereka juga lebih mampu membangun hubungan pertemanan yang akrab dan memiliki resiliensi dan adaptasi yang baik saat menghadapi masalah interpersonal.
Saat berusia paruh baya (sekitar 40an tahun), partisipan Tes Marshmallow di-scan bagian otaknya dan didapatkan hasil bahwa partisipan yang saat mereka berusia prasekolah mampu menunda memakan marshmallow menunjukkan bagian otak korteks prefrontal yang lebih aktif. Sementara, partisipan yang saat anak-anak tidak mampu menunda menunjukkan bagian otak ventral striatum (yang berhubungan dengan hasrat, kesenangan, dan adiksi) jauh lebih aktif.
Dengan mengendalikan cara kita berpikir, kita mengedepankan peran korteks prefrontal untuk mengaktifkan sistem dingin sembari mengendalikan sistem panas. Mischel menulis,
Ini adalah kisah tentang bagaimana pengendalian diri dapat dipupuk pada anak-anak dan orang dewasa, sehingga korteks prefrontal dapat digunakan secara sengaja untuk mengaktifkan sistem dingin dan mengendalikan sistem panas. Keterampilan yang memungkinkan hal ini memberi kita kebebasan untuk melepaskan diri dari kendali stimulus untuk mencapai pengendalian diri, sehingga memberi kita pilihan nyata — alih-alih didorong oleh impuls dan tekanan sesaat. Pelajaran utama dari sains modern adalah bahwa alih-alih ditakdirkan oleh DNA dan perkembangan di dalam rahim, arsitektur otak kita lebih mudah dibentuk daripada yang dibayangkan, dan kita dapat berperan aktif dalam membentuk takdir kita dengan cara bagaimana kita menjalani hidup.
Bagaimana cara mengaktifkan sistem dingin sekaligus mengendalikan sistem panas?
Salah satu caranya adalah dengan memunculkan ke dalam kesadaran kita bahwa diri kita saat ini adalah diri yang sama dengan diri kita di masa depan. Beberapa orang memandang dirinya saat ini sebagai diri yang sama dengan dirinya di masa depan. Beberapa yang lain memandang dirinya saat ini sebagai diri yang berbeda dengan dirinya di masa depan, dengan kata lain dirinya di masa depan dipandang sebagai orang lain atau orang asing. Terkait penelitian ini Mischel merangkum,
Jika Anda melihat lebih banyak kesinambungan antara diri Anda sekarang dan diri Anda di masa depan, Anda mungkin lebih menghargai imbalan yang tertunda dan kurang menghargai imbalan langsung, serta lebih sabar daripada orang-orang yang memandang diri mereka di masa depan sebagai orang asing. Seperti yang ditunjukkan para peneliti, jika kita merasakan kesinambungan yang lebih besar dengan siapa kita kelak, kita mungkin juga bersedia mengorbankan lebih banyak kesenangan kita saat ini demi diri kita di masa depan.

Saya mendapat contoh mengaktifkan sistem dingin sekaligus mengendalikan sistem panas dari penulis buku keuangan Morgan Housel saat membahas mengenai risiko dan penyesalan dalam bukunya tentang seni membelanjakan uang. Housel mengatakan,
Nasihat yang baik tidak pernah sesederhana prinsip “Hiduplah untuk hari ini” atau “Menabunglah untuk masa depan.” Satu-satunya nasihat yang baik adalah “Minimalkan penyesalan di masa depan.“
Menikmati hidup hari ini dengan membelanjakan uang sepuas keinginan kita tanpa menimbang masa depan, ini sistem panas. Sebaliknya, menabung untuk masa depan tanpa peduli hari ini, ini sistem dingin. Prinsip yang dibutuhkan adalah meminimalisir penyesalan di masa depan. Ini mengaktifkan sistem dingin sekaligus mengendalikan sistem panas. Prinsip ini menyeimbangkan keinginan yang harus dipenuhi hari ini oleh sistem panas dan menunda kepuasan demi masa depan oleh sistem dingin.
Pilihan kita hari ini, apakah kita akan belanja sesuatu atau tidak belanja sesuatu, apakah akan melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, apakah akan terus bekerja di tempat kerja saat ini atau berhenti kerja dan mencari pekerjaan baru, prinsipnya adalah sebisa mungkin pilihan itu dapat meminimalkan penyesalan di masa depan. Karena penyesalan setiap orang berbeda-beda terhadap sesuatu, dan penyesalan terhadap sesuatu dalam diri kita bisa berubah-ubah seiring usia dan tergantung perubahan orientasi hidup kita, meminimalisir penyesalan di masa depan akan sangat subjektif.
Prinsip meminimalisir penyesalan di masa depan ini diterapkan oleh Jeff Bezos saat memutuskan meninggalkan pekerjaannya yang mapan di Wall Street dan mulai merintis toko buku online Amazon tahun 1990an. Saat itu internet sedang tumbuh pesat dan Bezos melihat peluang baru berupa belanja secara online. Menurutnya,
Saya ingin memproyeksikan diri saya ke masa depan hingga usia 80 tahun dan melihat kembali kehidupan saya, dan saya ingin meminimalkan jumlah penyesalan yang saya miliki. Dan saya tahu bahwa ketika saya berusia 80 tahun, saya tidak akan menyesal telah mencoba ini. Saya tidak akan menyesal mencoba berpartisipasi dalam hal yang disebut internet ini.
Saat ini, di usianya yang menginjak awal 60an, Bezos tampaknya tidak punya sedikit pun penyesalan atas keputusannya di masa lalu. Amazon saat ini menjadi perusahaan belanja raksasa dan ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Jadi, kembali ke contoh di atas, mana yang lebih minimal penyesalannya di masa depan, menghabiskan gaji bulan ini demi kesenangan atau menyisihkan gaji untuk ditabung? Kurang tidur karena banyak scroll media sosial atau tidur cukup dengan membatasi menggunakan media sosial? Kurang olahraga atau biasa berolahraga? Makan junk food atau makan sehat?
Jawaban yang terbaik terletak pada sejauh mana kita mengaktifkan otak semut prefrontal yang bijaksana sembari mengendalikan otak belalang limbik yang impulsif.
