Bagaimana Masa Depan Ilmu Psikologi? Jawaban Lugasnya, Psikologi itu Ilmu Masa Depan
Sejumlah ilmuwan psikologi terkemuka biasanya tertarik membahas mengenai masa depan ilmu psikologi. Itu satu sisi. Pada sisi yang lain, calon mahasiswa, orangtua mahasiswa, dan masyarakat umum juga tertarik membahas ini meskipun dengan orientasi yang berbeda. Saya berada di antara keduanya, sebagai pengkaji psikologi di pinggiran namun juga berinteraksi dengan mahasiswa dan masyarakat umum mengenai psikologi. Jawaban saya mengenai masa depan ilmu psikologi tidak lepas dari posisi antara ini.
Merujuk salah seorang pengkaji ilmu psikologi, alih-alih menjawab bagaimana masa depan ilmu psikologi, jawaban yang paling lugas adalah bahwa masa depan adalah psikologi. Ini karena psikologi dipandang sebagai ilmu masa depan (the science of the future). Baik secara implisit maupun eksplisit, ilmu psikologi dinilai semakin penting di dunia. Pertumbuhan ilmu psikologi sampai saat ini bahkan menyebar ke banyak bidang di luar tipikal laboratorium Wilhelm Wundt.
1. Kemajuan teknologi menuntut kita menguasai keterampilan khas manusia
Salah satu alasan mengapa ilmu psikologi menjadi lebih penting di masa depan adalah kemajuan teknologi justru menuntut kita menguasai keterampilan khas manusia. Bernard Marr, seorang futuris, influencer, dan penasihat perusahaan teknologi, menulis dalam bukunya mengenai masa depan pekerjaan di era digital. Ia berpandangan bahwa pekerjaan di masa depan, meski telah banyak yang diotomatisasi dengan teknologi, justru membuat pekerjaan lebih manusiawi. Pekerjaan di masa depan adalah pekerjaan yang khas manusia. Dengan demikian, ilmu psikologi yang mengkaji bagaimana orang berpikir, merasakan, dan berperilaku memiliki peran penting. Marr menulis,
Namun, alih-alih memisahkan kita dari kemanusiaan, saya yakin gelombang teknologi baru ini akan membuat pekerjaan lebih manusiawi, bukan sebaliknya. Apa yang dapat diotomatisasi akan terus diotomatisasi, sehingga manusia dapat melakukan pekerjaan yang pada akhirnya lebih cocok untuk kita—tugas-tugas yang mengandalkan keterampilan khas manusia seperti pengambilan keputusan yang kompleks, kreativitas, empati dan kecerdasan emosional, berpikir kritis, dan komunikasi. Inilah jenis keterampilan yang membuat manusia mengungguli bahkan mesin paling cerdas sekalipun. Di sinilah kita unggul. Dan di sinilah masa depan pekerjaan berada. Dalam pekerjaan yang lebih manusiawi dan lebih memuaskan.
2. Ilmu psikologi mendorong kita menguasai sejumlah budaya ilmiah yang penting di era milenium ketiga.
Alasan lain mengapa ilmu psikologi dinilai penting di masa depan adalah ilmu psikologi mendorong kita menguasai sejumlah budaya ilmiah (the culture of science) yang penting dimiliki di era milenium ketiga. Era ini ditandai dengan banjir informasi (informational overwhelm).
Ilmuwan peraih hadiah Nobel Fisika Saul Perlmutter bersama koleganya menekankan pentingnya berpikir cara milenium ketiga, sebagaimana dituangkan dalam bukunya Third Millennium Thinking. Berpikir di era milenium ketiga berarti kita menggunakan budaya ilmiah sebagai cara kita berpikir. Menurut Perlmutter, budaya ilmiah berarti kita meminjam alat, ide, dan proses ilmiah, dan melakukan pergeseran dalam cara berpikir kita sendiri. Budaya ilmiah membantu kita menangkal kebingungan, menghindari jebakan mental, dan memilah hal yang masuk akal dari hal yang tidak masuk akal. Menurut Perlmutter, budaya ilmiah juga membantu kita membuat keputusan dan memecahkan masalah secara kolaboratif dengan orang-orang yang menafsirkan informasi secara berbeda atau memiliki nilai-nilai yang berbeda dari kita.
Prediksi bahwa psikologi di masa depan akan lebih ilmiah, juga bahwa era milenium ketiga menuntut orang berpikir dengan budaya ilmiah, juga masa depan menuntut kemampuan kita menguasa keterampilan khas manusia, semakin meyakinkan kita bahwa psikologi adalah ilmu masa depan.
Perlmutter menegaskan bahwa menggunakan alat, ide, dan proses ilmiah itu penting tidak hanya bagi ilmuwan tetapi juga bagi masyarakat umum yang hidup di era ini. Alat, ide, dan proses ilmiah ini dapat memandu kita dalam menghadapi masalah, mengambil keputusan, dan mengatasi ketidakpastian. Perlmutter menulis,
Para ilmuwan telah lama dipandu oleh alat-alat berpikir ini, tetapi banyak di antaranya tidak umum digunakan di bidang lain. Kami percaya bahwa alat-alat ini dapat dan seharusnya digunakan; bahwa alat-alat ini memiliki relevansi yang jauh lebih luas, dan dapat membantu kita di lebih banyak bidang dan situasi—di mana pun orang mencoba mengevaluasi informasi dan keahlian, membuat keputusan dalam menghadapi ketidakpastian, dan memecahkan masalah yang memengaruhi kehidupan mereka, baik sebagai individu, dalam komunitas, atau pada skala global. Bahkan, kami percaya bahwa semakin banyak orang yang semakin mahir menggunakan alat-alat ini sangat penting untuk kesejahteraan manusia dan planet di tahun-tahun dan abad-abad mendatang. Untuk bertahan dan berkembang di Milenium Ketiga, kita membutuhkan Berpikir Milenium Ketiga.

Bagaimana masa depan ilmu psikologi?
Rubén Ardila dalam bukunya the Future of Psychology memprediksi bahwa 1) psikologi di masa depan akan lebih ilmiah daripada saat ini: menggunakan metodologi yang lebih teliti dan lebih hati-hati dalam menyimpulkan hasil penelitian. Psikologi di masa depan juga 2) lebih menekankan relevansi sosial. Ilmuwan psikologi bekerja pada masalah-masalah kemanusiaan yang penting baik level mikro maupun makro. Psikologi di masa depan juga 3) akan banyak memformulasi teori (termasuk mini-teori) dan menggunakan matematika untuk mengkonstruksi modelnya. Psikologi juga 4) akan banyak bekerja dalam mengatasi masalah-masalah kompleks, misalnya psikologi ekologis, genetika perilaku, dan kemiskinan. Psikologi di masa depan juga 5) semakin profesional dan terspesialisasi. Dalam hal ini, organisasi profesi psikologi semakin berperan penting di masa depan. Meski semakin terspesialisasi, psikologi di masa depan 6) akan semakin terintegrasi dengan memiliki paradigma yang sama dalam memandang sesuatu (misalnya dalam mendefinisikan masalah, menggunakan terminologi, dan juga metodologi).
Fakta bahwa psikologi semakin ilmiah sebenarnya sudah terjawab saat ini. Ilmuwan psikologi Gardner Murphy pada tahun 1969 membuat refleksi mengenai masa depan psikologi pada tahun 2000. Ia memprediksi sejumlah tema utama dalam psikologi pada tahun 2000, antara lain psikofisiologi, ketidaksadaran, genetika-biologi, parapsikologi, dan psikologi lintas budaya. Dua prediksi yang keliru adalah ketidaksadaran dan parapsikologi. Keduanya tidak menjadi tema utama psikologi saat ini. Sementara tema lainnya, yang lebih ilmiah, sesuai dengan prediksi. Saat ini tema mengenai biopsikologi, genetika perilaku, dan psikologi lintas budaya menjadi tema-tema penting dalam ilmu psikologi.
Prediksi bahwa psikologi di masa depan akan lebih ilmiah, juga bahwa era milenium ketiga menuntut orang berpikir dengan budaya ilmiah, juga masa depan menuntut kemampuan kita menguasa keterampilan khas manusia, semakin meyakinkan kita bahwa psikologi adalah ilmu masa depan.
Di masa depan, sejumlah keterampilan di era digital membutuhkan kemampuan memahami psikologi manusia, seperti berpikir kritis, kreativitas, kecerdasan emosi, pengambilan keputusan, komunikasi interpersonal, kolaborasi, dan kecerdasan budaya. Ilmu psikologi berkontribusi antara lain dalam memahami perbedaan cara berpikir, berperilaku rasional, menanggapi imbalan, dan bagaimana menggunakan kekuasaan.
