Fundamental Attribution Error: Pengertian dan Contohnya

Share this:

Ensiklopedia Psikologi Sosial menjelaskan lema ini sebagai berikut:

The fundamental attribution error describes perceivers’ tendency to underestimate the impact of situational factors on human behavior and to overestimate the impact of dispositional factors. For instance, people often tend to believe that aggressive behavior is caused by aggressive personality characteristics (dispositional factor) even though aggressive behavior can also be provoked by situational circumstances (situational factor).

Kesalahan atribusi fundamental menggambarkan kecenderungan pengamat untuk meremehkan dampak faktor situasional terhadap perilaku manusia dan melebih-lebihkan dampak faktor disposisional. Misalnya, orang sering cenderung percaya bahwa perilaku agresif disebabkan oleh karakteristik kepribadian yang agresif (faktor disposisional) meskipun perilaku agresif juga dapat dipicu oleh keadaan situasional (faktor situasional).

Untuk memahami lebih jauh tentang kecenderungan ini, kita perlu lebih dulu memahami apa itu atribusi. Atribusi merupakan salah satu proses penting yang dilalui oleh seseorang dalam melakukan persepsi sosial, yakni proses yang memungkinkan kita mengenal dan memahami orang lain. Dalam hal ini, atribusi adalah proses yang kita lalui untuk mengidentifikasi penyebab perilaku orang lain dan dengan demikian memperoleh pengetahuan tentang sifat dan watak mereka yang stabil.

Fritz Heider, ilmuwan psikologi yang mula-mula mencetuskan konsep mengenai atribusi, berpandangan bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang menggunakan penalaran common sense untuk memahami perilaku orang lain. Orang-orang bertindak seperti “ilmuwan naif” dengan menggunakan cara-cara yang menyerupai metode ilmiah dalam upaya memahami penyebab perilaku.

Dalam memahami penyebab perilaku, orang melakukan atribusi dengan menyandarkan sebabnya pada dua faktor, yaitu:

  1. Faktor internal. Ini berarti bahwa kita melakukan atribusi dengan menyandarkan penyebab perilaku seseorang berasal dari kondisi internal orang tersebut. Ini disebut dengan atribusi disposisional.
  2. Faktor eksternal. Ini berarti bahwa kita melakukan atribusi dengan menyandarkan penyebab perilaku seseorang berasal dari kondisi eksternal orang tersebut. Ini disebut dengan atribusi situasional.

Misalnya, saat kita berinteraksi dengan teman baru di kampus atau kolega baru di kantor, dan kita terkesan dengan tindakannya yang suka menolong teman atau kolega, kita melakukan atribusi dengan bertanya dalam diri, mengapa ia melakukan tindakan baik itu? Apakah memang pada dasarnya ia orang yang baik hati (atribusi disposisonal) atau ia ingin mengambil hati sebagai teman baru atau karyawan baru di kantor (atribusi situasional)?

Misalnya lagi, saat teman kita yang kita kenal berkepribadian ramah dan ceria dan biasa tersenyum dan menyapa kita, namun pada suatu hari ia terlihat ketus dan tidak menyapa kita, kita akan cenderung mudah menyimpulkan bahwa perilakunya disebabkan oleh faktor situasional, mungkin ada situasi atau keadaan yang sedang dialami yang membuat ia tidak tersenyum dan menyapa kita. Kita tidak menyandarkan perilakunya pada faktor disposisional karena kita mengenalnya selama ini sebagai orang yang ramah dan ceria.

Jadi bagaimana dengan fundamental attribution error? Ini merupakan kesalahan dalam melakukan proses atribusi di mana kita cenderung menambatkan penyebab perilaku lebih pada faktor disposisional, bahkan jika ada faktor situasional yang sangat jelas mempengaruhi.

Misalnya, jika ada teman kita yang datang terlambat masuk kelas pada suatu kuliah pagi, kita melakukan fundamental attribution error dengan meyakini bahwa sebab teman kita terlambat adalah karena ia malas atau kurang disiplin (atribusi disposisional), padahal kita tahu jelas bahwa pagi itu hujan turun deras dan jalanan macet yang dapat membuat teman kita datang terlambat dari biasanya (atribusi situasional).

Share this:

Similar Posts