Hindsight Bias: Pengertian, Tingkatan, dan Penyebabnya
Pengertian Hindsight Bias
Kamus American Psychological Association (APA) mendefinisikan hindsight bias sebagai berikut:
the tendency, after an event has occurred, to overestimate the extent to which the outcome could have been foreseen.
Kecanderungan, setelah suatu peristiwa terjadi, untuk melebih-lebihkan sejauh mana hasil tersebut dapat diprediksi.
Dalam artikel yang membahas istilah ini, Neal J. Roese dan Kathleen D. Vohs mendefinisikan hindsight bias sebagai berikut:
the belief that an event is more predictable after it becomes known than it was before it became known.
keyakinan bahwa suatu peristiwa lebih mudah diprediksi setelah diketahui daripada sebelum diketahui.
Dalam istilah yang lain, hindsight bias disebut juga sebagai “knew it all along effect” (efek tahu sejak awal).
Tingkatan Hindsight Bias
Menurut Roese dan Vohs, ada tiga level hindsight bias, yaitu:
1. Memory Distortion atau Distorsi Ingatan (“Saya sudah bilang itu akan terjadi”)
Orang-orang salah mengingat prediksi atau penilaian awal mereka sebagai sesuatu yang lebih mendekati hasil sebenarnya daripada yang sebenarnya bisa diprediksi.
Misalnya, seorang pemilih mungkin percaya bahwa setelah resmi maju sebagai calon presiden dan wakil presiden pada tahun 2024, Prabowo-Gibran berpeluang menang Pemilu satu putaran dengan memperoleh suara di atas 50 persen namun hanya lebih nol koma sekian persen saja. Setelah kemenangan Prabowo-Gibran sekali putaran, pemilih yang sama ini mungkin melihat kembali, menganggap kemenangan tersebut lebih dapat diprediksi daripada sebelum hasilnya diketahui, dan menyimpulkan bahwa peluang menang Prabowo-Gibran hampir mencapai 60% pada saat kampanye dimulai. Dalam hal ini, setelah pemilihan, seseorang akan mencoba mengingat perkiraan kemungkinan mereka sebelumnya, dengan penyimpangan antara respons pada saat ini dan masa lalu mewakili tingkat distorsi memori.

2. Inevitability atau Keniscayaan (“Itu pasti terjadi”)
Setelah mengetahui suatu hasil, orang-orang menganggapnya sebagai sesuatu yang niscaya atau tak terhindarkan —seolah-olah tidak mungkin terjadi dengan cara lain. Hasil tersebut terasa sudah ditentukan sebelumnya. Tingkat keniscayaan bertumpuk di atas distorsi memori, artinya keniscayaan mencakup distorsi memori tetapi juga mencakup keyakinan tentang kekuatan kausal yang membuat hasil tertentu tampak lebih dapat diprediksi daripada yang lain. Dalam contoh di atas, setelah hasil Pemilu diperoleh, bersama distorsi memori yang dialami, seorang pemilih yang sama akan meyakini bahwa kemenangan Prabowo-Gibran memang sudah pasti terjadi.
3. Foreseeability atau Keterprediksian (“Saya tahu itu akan terjadi”)
Orang-orang percaya bahwa hasil tersebut dapat diprediksi dan bahwa mereka, atau orang lain, seharusnya dapat memprediksi sebelumnya. Tingkat ini terkait erat dengan penilaian tentang siapa yang akan disalahkan dan siapa yang tanggung jawab.
Tingkat Keterprediksian pada dasarnya bersifat subjektif, berpusat pada keyakinan tentang pengetahuan dan kemampuan diri sendiri (misalnya, “Saya tahu itu akan terjadi”). Ini melibatkan keyakinan bahwa kita secara pribadi dapat meramalkan suatu peristiwa yang sekarang menjadi kenyataan, sehingga menangkap perasaan bahwa “Saya sudah tahu sejak awal.” Tingkat Keterprediksian bertumpuk di atas Keniscayaan, artinya ia mencakup keyakinan tentang status objektif dunia tetapi juga mencakup keyakinan tentang kemampuan diri sendiri dalam memahami dunia. Dalam contoh di atas, pemilih yang sama berpikir bahwa ia sudah tahu jauh-jauh hari kalau Prabowo-Gibran memang bakal menang.

Penyebab Hindsight Bias
Dari mana hindsight bias ini muncul? Menurut Roese dan Vohs, hindsight bias muncul dari tiga masukan atau input berikut ini.
1. Input kognitif, yakni bahwa orang secara selektif mengingat informasi yang konsisten dengan apa yang sekarang mereka ketahui sebagai kebenaran
Input kognitif mencerminkan bagaimana memori bekerja. Setidaknya tiga proses memori berkontribusi pada hindsight bias, yakni mengingat kembali (recollection), memperbarui pengetahuan (knowledge updating), dan memahami makna (sensemaking).
Tahap mengingat kembali merupakan tahap pertama di mana orang mencoba untuk mengingat kembali prediksi mereka sebelum kejadian, namun karena mengalami distorsi memori, proses mengingat kembali mengalami kesalahan atau error.
Tahap pembaruan pengetahuan mengacu pada integrasi informasi baru ke dalam struktur memori yang ada, sebuah perwujudan dari sifat rekonstruktif memori manusia. Sistem memori manusia sangat mahir dalam menerima informasi baru dan menghubungkannya dengan apa yang sudah diketahui. Misalnya, saat mengetahui kemenangan tim tuan rumah dalam pertandingan sepak bola, informasi ini akan dengan cepat dihubungkan dengan pengetahuan lama yang melibatkan statistik pemain, kinerja pelatih, prestasi sebelumnya, dan sejenisnya. Ketika pengetahuan baru sangat cocok secara konseptual dengan pengetahuan lama, perasaan kejelasan akan muncul. Masa lalu kini lebih mudah dipahami dan karenanya lebih mudah diprediksi setelah kejadian.
Tahap pemahaman makna melibatkan penjelasan yang berupaya mencari makna pada suatu peristiwa yang yang dapat dijelaskan secara kausal. Ini melibatkan pemrosesan yang lebih canggih dan elaboratif daripada pembaruan pengetahuan. Misalnya, sebuah cerita (yaitu, struktur naratif dengan awal, tengah, dan akhir) membuat serangkaian peristiwa tampak lebih terhubung secara koheren, menghasilkan persepsi bahwa alur peristiwa itu jelas dan tak terhindarkan. Memang, semakin baik ceritanya, semakin besar tingkat hindsight bias-nya. Pemahaman makna berasal dari penjelasan kausal. Situasi yang (setelah kejadian) memungkinkan penjelasan kausal yang lugas menimbulkan hindsight bias yang lebih besar daripada situasi yang lebih ambigu.
2. Input metakognitif, yakni bahwa orang mungkin salah mengaitkan kemudahan pemahaman mereka terhadap suatu hasil dengan kemungkinan sebelumnya yang diasumsikan
Metakognisi berarti berpikir mengenai pemikiran kita sendiri. Salah satu bagian dari metakognisi adalah perasaan subjektif tentang kemudahan dalam membuat penilaian (kelancaran pemrosesan). Ketika orang merasa mudah untuk sampai pada kesimpulan tentang hasil tertentu, mereka akan menunjukkan hindsight bias yang lebih besar, terutama dalam hal kemampuan meramalkan, karena orang salah mengaitkan kemudahan subjektif tersebut dengan penilaian itu sendiri. Pada intinya, “mudah” disalahartikan dengan “kepastian.”
3. Input motivasi, yakni bahwa orang memiliki kebutuhan untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang teratur dan dapat diprediksi
Motif mencerminkan keinginan dan kebutuhan. Tingkat kemampuan meramalkan masa depan terutama peka terhadap dua bentuk utama input motivasi: kebutuhan akan kepastian (need for closure) dan harga diri (self-esteem).
Pada kebutuhan akan kepastian, orang memiliki kebutuhan untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang dapat diprediksi dan merasa terancam jika percaya bahwa banyak hasil bergantung pada peluang acak yang tidak diketahui. Hindsight bias juga memuaskan dahaga akan keteraturan dan prediktabilitas, sehingga orang-orang yang memiliki kebutuhan kontrol atau kepastian yang lebih besar secara disposisional menunjukkan hindsight bias yang lebih besar. Ancaman eksistensial, seperti serangan teroris dan gejolak ekonomi, dapat meningkatkan hindsight bias dan dengan demikian menghambat pembelajaran dari pengalaman yang sangat penting untuk mengatasi tantangan tersebut.
Terkait harga diri, orang-orang berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan positif tentang diri mereka sendiri. Dalam menjelaskan masa lalu, orang-orang membuat diri mereka merasa lebih baik dengan mengambil pujian atas keberhasilan dan menyalahkan orang lain atas kegagalan. Setelah suatu kegagalan, seseorang yang mengatakan “Saya tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi” (yaitu, pengurangan strategis dalam hindsight bias) pada dasarnya membebaskan dirinya sendiri dari rasa bersalah yang dapat menurunkan harga dirinya.
