Negativity Bias: Pengertian dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Share this:

Paul Rozin dan Edward B. Royzman dari University of Pennsylvania dalam artikel mereka berjudul Negativity Bias, Negativity Dominance, and Contagion mendefinisikan negativity bias sebagai berikut:

a general bias, based on both innate predispositions and experience, in animals and humans, to give greater weight to negative entities (e.g., events, objects, personal traits)

bias umum, berdasarkan pada predisposisi bawaan dan pengalaman, pada hewan dan manusia, untuk memberikan bobot yang lebih besar pada entitas negatif (misalnya, peristiwa, objek, sifat pribadi)

Menurut Catherine J. Norris dalam artikelnya berjudul The negativity bias, revisited: Evidence from neuroscience measures and an individual differences approach, mendefinisikan negativity bias sebagai berikut:

The tendency for negativity to have a stronger impact than positivity.

Negative information has stronger effects on attention, perception, memory, physiology, affect, behavior, motivation, and decision-making than does equally extreme and arousing positive information.

Kecenderungan hal negatif memiliki dampak yang lebih kuat daripada hal positif.

Informasi negatif memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap perhatian, persepsi, memori, fisiologi, afek, perilaku, motivasi, dan pengambilan keputusan dibandingkan informasi positif yang sama ekstrem dan membangkitkan emosi.

Apa contoh negativity bias dalam kehidupan sehari-hari?

  1. Berita-berita di media massa baik cetak, elektronik, maupun online didominasi oleh berita negatif daripada berita positif. Ini karena berita negatif lebih menarik perhatian masyarakat dibandingkan berita negatif.
  2. Konten-konten yang viral di media sosial didominasi oleh konten negatif dibandingkan dengan konten positif. Konten negatif yang mengandung hoaks dan ujaran kebencian lebih cepat tersebar karena menyulut emosi negatif (takut, cemas, marah, benci, putus asa).
  3. Dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain, hubungan baik yang terjalin selama ini bisa rusak seketika hanya dengan adanya satu peristiwa buruk. Kebaikan orang lain padahal banyak kalah kuat daripada keburukannya meskipun sedikit.
  4. Kita lebih merasa resah karena mendapat satu dua kritik dari orang lain dibadingkan merasa senang karena mendapat banyak pujian dari orang lain. Kritikan orang lain lebih bisa bertahan lama di hati dan pikiran kita dibandingkan pujian orang lain.
  5. Kita merasa rugi lebih kuat saat kehilangan uang dibadingkan dengan rasa senang mendapat uang dengan jumlah yang sama. Kehilangan uang 100 ribu membuat kita sedih dan kepikiran terus, sementara rasa senang kita karena mendapat uang 100 ribu lebih cepat lenyap.
Share this:

Similar Posts