Cut out colored letters from magazines and compilation of cognitive dissonance

Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory)

Share this:

Kamus American Psychological Association (APA) menjelaskan pengertian teori disonansi kognitif (cognitive dissonance theory) sebagai berikut:

a theory proposing that people have a fundamental motivation to maintain consistency among elements in their cognitive systems. When inconsistency occurs, people experience an unpleasant psychological state that motivates them to reduce the dissonance in a variety of ways

Sebuah teori yang menyatakan bahwa manusia memiliki motivasi mendasar untuk menjaga konsistensi antar elemen dalam sistem kognitif mereka. Ketika terjadi inkonsistensi, manusia mengalami keadaan psikologis yang tidak menyenangkan yang memotivasi mereka untuk mengurangi disonansi tersebut dengan berbagai cara.

Teori ini dirintis oleh Leon Festinger melalui bukunya yang terbit tahun 1957 berjudul A Theory of Cognitive Dissonance. Teori ini menjadi salah satu teori yang paling berpengaruh dalam ilmu psikologi sosial dengan menghasilkan banyak studi tentang kognisi dan perilaku manusia yang berpijak dari teori ini.

Dalam bukunya tersebut, Festinger berpandangan bahwa individu berupaya mencapai konsistensi dalam dirinya sendiri. Antara pendapat dan sikapnya cenderung ingin berada dalam konsistensi secara internal. Orang tua yang percaya bahwa pendidikan tinggi adalah hal yang baik kemungkinan besar akan mendorong anak-anaknya untuk kuliah; seorang anak yang tahu bahwa ia akan dihukum orangtuanya karena suatu pelanggaran membuatnya tidak akan melakukan  pelanggaran tersebut.

Masalahnya, sesuatu yang sebenarnya tidak konsisten, kita kerap menganggapnya sebagai sesuatu yang konsisten, setidaknya untuk diri kita sendiri. Kita biasa melakukan rasionalisasi atas sesuatu yang tidak konsisten agar konsisten dan dapat diterima oleh diri kita sendiri. Namun demikian, tidak semua yang tidak konsisten bisa kita lakukan rasionalisasi sehingga inkonsistensi itu terus ada. Apabila hal ini terus terjadi, kita mengalami ketidaknyamanan psikologis.

Oleh Festinger, inkonsistensi yang menyebabkan ketidaknyamana psikologis ini disebut dengan disonansi, sedangkan konsistensi disebut dengan konsonansi. Festinger mengemukakan dua hipotensis terkait disonansi dan konsonansi ini sebagai berikut:

  1. Keberadaan disonansi, yang secara psikologis tidak nyaman, akan memotivasi seseorang untuk mencoba mengurangi disonansi dan mencapai konsonansi.

  2. Ketika disonansi hadir, selain mencoba menguranginya, seseorang akan secara aktif menghindari situasi dan informasi yang kemungkinan akan meningkatkan disonansi.

Menurut Festinger, disonansi, yaitu keberadaan hubungan yang tidak sesuai di antara kognisi, merupakan faktor motivasi tersendiri. Istilah kognisi yang maksud Festinger adalah setiap pengetahuan, pendapat, atau keyakinan tentang lingkungan, tentang diri sendiri, atau tentang perilaku seseorang. Karena merupakan faktor yang bersifat motivasional, disonansi kognitif dapat dilihat sebagai kondisi pendahulu yang mengarah pada aktivitas yang berorientasi pada pengurangan disonansi, sebagaimana rasa lapar mengarah pada aktivitas yang berorientasi pada pengurangan rasa lapar.

Menurut Festinger, istilah disonansi dan konsonansi merujuk pada hubungan yang ada antara pasangan yang disebut dengan elemen. Elemen-elemen ini merujuk pada apa yang disebut kognisi, yaitu, hal-hal yang diketahui seseorang tentang dirinya sendiri, tentang perilakunya, dan tentang lingkungannya. Elemen-elemen ini disebut juga dengan pengetahuan-pengetahuan. Festinger menulis,

Beberapa elemen ini mewakili pengetahuan tentang diri sendiri: apa yang dilakukan seseorang, apa yang dirasakan seseorang, apa yang diinginkan atau didambakan seseorang, siapa seseorang, dan sebagainya. Elemen pengetahuan lainnya berkaitan dengan dunia tempat seseorang tinggal: apa yang ada di mana, apa yang mengarah pada apa, hal-hal apa yang memuaskan atau menyakitkan atau tidak penting atau penting, dll. Jelas bahwa istilah “pengetahuan” telah digunakan untuk mengisyaratkan hal-hal yang biasanya tidak dirujuk oleh kata tersebut— misalnya, opini. Seseorang tidak memiliki pendapat kecuali jika ia menganggapnya benar, dan secara psikologis, pendapat tidak berbeda dengan “pengetahuan.” Hal yang sama berlaku untuk kepercayaan, nilai, atau sikap, yang berfungsi sebagai “pengetahuan” untuk tujuan kita. … semuanya adalah “elemen kognisi,” dan hubungan konsonansi dan disonansi dapat terjadi antara pasangan elemen-elemen ini.

Share this:

Similar Posts