Self-fulfilling Prophecy
Kamus American Psychological Association (APA) menjelaskan pengertian self-fulfilling prophecy sebagai berikut:
a belief or expectation that helps to bring about its own fulfillment, as, for example, when a person expects nervousness to impair their performance in a job interview or when a teacher’s preconceptions about a student’s ability influence the child’s achievement for better or worse.
Suatu kepercayaan atau harapan yang membantu mewujudkan dirinya sendiri, misalnya, ketika seseorang mengharapkan rasa gugup akan mengganggu kinerjanya dalam wawancara kerja atau ketika prasangka seorang guru tentang kemampuan seorang siswa memengaruhi prestasi anak tersebut entah jadi lebih baik atau lebih buruk.

Istilah self-fulfilling prophecy dikenalkan pertama kali oleh sosiolog Amerika Serikat bernama Robert K Merton pada tahun 1948. Dalam artikelnya berjudul The Self-fulfilling Prophecy, Merton mendefinisikan self-fulfilling prophecy sebagai berikut:
The self-fulfilling prophecy is, in the beginning, a false definition of the situation evoking a new behavior which makes the originally false conception come true. The specious validity of the self-fulfilling prophecy perpetuates a reign of error. For the prophet will cite the actual course of events as proof that he was right from the very beginning.
Nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya, pada awalnya, adalah definisi yang salah tentang situasi yang memunculkan perilaku baru yang membuat konsepsi yang awalnya salah menjadi kenyataan. Validitas semu dari nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya melanggengkan dominasi kesalahan. Karena nabi akan mengutip jalannya peristiwa yang sebenarnya sebagai bukti bahwa dia benar sejak awal.
