Ensiklopedia Psikologi Sosial menjelaskan niat implementasi (implementation intention) sebagai berikut:
An implementation intention is a simple plan in the form of “If X, then I will Y!” that specifies an anticipated goal-relevant situation, X, and a goal-directed response, Y, that will help achieve the goal. For example, an implementation intention formed to support the goal intention “to exercise frequently” would follow the form of “If it is sunny outside when I get up in the morning, then I will walk to work rather than take the bus.” In other words, saying “I want to exercise more” doesn’t accomplish very much. But planning, “If it’s a sunny morning, then I’ll walk to work,” can increase one’s chances of actually reaching that goal of exercising more.
Niat implementasi adalah rencana sederhana dalam bentuk “Jika X, maka saya akan Y!” yang menentukan situasi yang relevan dengan tujuan yang diantisipasi, X, dan respons yang diarahkan pada tujuan, Y, yang akan membantu mencapai tujuan tersebut. Misalnya, niat implementasi yang dibentuk untuk mendukung niat tujuan “berolahraga secara teratur” akan mengikuti bentuk “Jika cuaca cerah di luar saat saya bangun pagi, maka saya akan berjalan kaki ke tempat kerja daripada naik bus.” Dengan kata lain, mengatakan “Saya ingin berolahraga lebih banyak” tidak banyak menghasilkan apa pun. Tetapi merencanakan, “Jika pagi hari cerah, maka saya akan berjalan kaki ke tempat kerja,” dapat meningkatkan peluang seseorang untuk benar-benar mencapai tujuan berolahraga lebih banyak.
Pengertian Groupthink Irving Janis, ilmuwan psikologi sosial dari Universitas Yale, Amerika Serikat, mengenalkan sebuah fenomena perilaku kelompok dalam pengambilan keputusan yang disebut dengan groupthink. Pada November tahun 1971, Janis menulis artikel dalam Psychology Today berjudul Groupthink dan mengartikan groupthink sebagai berikut: The mode of thinking that persons engage in when concurrence-seeking becomes so dominant in a…
Konsep mengenai efikasi-diri dikenalkan oleh Albert Bandura, ilmuwan psikologi dari Universitas Stanford, pada tahun 1977 dalam artikelnya berjudul Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Pada artikel Bandura yang mengulas mengenai efikasi-diri, Bandura mendefinisikan efikasi diri sebagai berikut: Perceived self-efficacy is defined as people’s beliefs about their capabilities to produce designated levels of performance…
Pengertian negativity bias Paul Rozin dan Edward B. Royzman dari University of Pennsylvania dalam artikel mereka berjudul Negativity Bias, Negativity Dominance, and Contagion mendefinisikan negativity bias sebagai berikut: a general bias, based on both innate predispositions and experience, in animals and humans, to give greater weight to negative entities (e.g., events, objects, personal traits) bias…
Contoh kasus moral Perhatikan tiga kasus berikut ini: Seorang wanita muda yang sudah menikah pergi menonton film sendirian tanpa memberi tahu suaminya. Ketika ia pulang, suaminya berkata, “Jika kamu melakukannya lagi, saya akan memukulmu sampai babak belur.” Ia melakukannya lagi; suaminya memukulinya sampai babak belur. Dalam sebuah keluarga, seorang putra berusia dua puluh lima tahun…
Pengertian anchoring and adjustment heuristic Kamus American Psychological Association (APA) mendefinisikan anchoring and adjustment heuristic sebagai berikut: the tendency, in forming perceptions or making quantitative judgments under conditions of uncertainty, to give excessive weight to the starting value (or anchor), based on the first received information or one’s initial judgment, and not to modify this…
Dimensi big five personality Kepribadian Lima Besar (Big Five Personality) atau yang disebut juga Five Factor Model merupakan kerangka ilmiah untuk menggambarkan kepribadian manusia berdasarkan lima (5) dimensi sifat, yakni Openness to experience (O), Conscientiousness (C), Extraversion (E), Agreeableness (A), dan Neuroticism (N). Agar lebih mudah diingat, kelima dimensi sifat tersebut biasanya disingkat dengan OCEAN….