Confirmation bias with facts and prior beliefs written on the page.

Serigala dan Anak Domba: Pelajaran mengenai Bias Konfirmasi

Share this:

Suatu pagi, seekor anak domba yang tersesat sedang minum di tepi sungai di hutan. Pagi itu juga, seekor serigala lapar datang lebih jauh ke hulu sungai, mencari makanan. Ia segera mengincar anak domba itu. Biasanya, serigala akan langsung memangsa makanan lezat seperti itu tanpa ragu-ragu, tetapi anak domba ini tampak begitu tak berdaya dan polos sehingga serigala merasa perlu mencari alasan untuk membunuhnya.

“Beraninya kau mengarungi sungaiku dan mengaduk-aduk lumpur!” teriaknya dengan ganas. “Kau pantas dihukum berat atas kenekatanmu!”

“Tapi, Yang Mulia,” jawab anak domba yang gemetar itu, “jangan marah! Aku tidak mungkin mengotori air yang kau minum di sana. Ingat, kau berada di hulu dan aku di hilir.”

“Kau mengotorinya!” balas serigala dengan ganas. “Dan lagi pula, aku mendengar kau berbohong tentangku tahun lalu!”

“Bagaimana mungkin aku melakukan itu?” pinta anak domba itu. “Aku baru lahir tahun ini.”

“Kalau bukan kamu, pasti saudaramu!” “Aku tidak punya saudara.” “Kalau begitu,” geram Serigala, “Pasti seseorang dari keluargamu. Tapi siapa pun itu, aku tidak akan membiarkan dirimu dibujuk untuk meninggalkan sarapanku.”

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Serigala menangkap domba malang itu dan membawanya ke hutan.

Tengah malam, 3 Februari 1999, seorang imigran dari Afrika Barat bernama Amadou Diallo (23 tahun) baru pulang ke apartemennya yang berada di jalan sempit di kawasan Bronx. Setelah mengobrol sebentar bersama teman-temannya, berdiri di undakan teratas di selasar depan apartemennya, sekedar menikmati udara malam. Sekitar pukul 12:40 pagi, empat orang petugas polisi berpakaian preman dari Departemen Kepolisian New York melintas di depan apartemen Diallo. Mereka sedang berpatroli, mencari seorang pemerkosa berantai. Saat mereka melihat Diallo berdiri di depan apartemennya dengan tindak tanduk mencurigakan, mereka berhenti dengan maksud untuk menginterogasi Diallo. Ketika mereka memerintahkan Diallo untuk menunjukkan tangannya, ia berlari ke pintu masuk gedung dan merogoh sakunya, seperti akan mengeluarkan sesuatu.

Karena mengira Diallo mengeluarkan senjata api, seorang petugas menembakkan senjatanya saat Diallo berjalan menaiki tangga. Hentakan senjata menyebabkan petugas tersebut jatuh ke belakang. Tiga petugas lainnya, yang mengira rekan mereka tertembak, menembakkan senjata mereka. Keempat petugas tersebut menembakkan 41 tembakan dengan pistol semiotomatis, mengenai Diallo sebanyak 19 kali, yang mengakibatkan luka fatal. Polisi terus menembak meskipun Diallo sudah terjatuh. Investigasi menyimpulkan bahwa tidak ditemukan senjata apa pun di dekat Diallo. Benda yang dikeluarkan Diallo dari jaketnya, yang membuat polisi menembakkan senjata bertubi-tubi ke tubuhnya adalah… sebuah dompet!

Kisah terbunuhnya Diallo diulas dalam sejumlah buku psikologi sosial dalam dua topik yang berbeda namun relevan. Yang pertama terkait stereotype, prasangka, dan diskriminasi. Stereotipe dan prasangka bisa berlangsung secara otomatis yang membuat orang bertindak diskriminatif. Yang kedua terkait topik mengenai proses kognisi dan persepsi sosial, bahwa orang dapat salah dalam memahami, menilai, dan menarik kesimpulan mengenai sejumlah realitas sosial, termasuk oleh orang yang terlatih sekali pun.

Kisah mengenai Diallo diceritakan dengan baik dalam bukunya Malcolm Gladwell berjudul Blink: Kemampuan Berpikir tanpa Berpikir dengan judul bab Tujuh Detik di Bronx: Seni Membaca Pikiran. Menurut Gladwell, peristiwa tersebut terjadi akibat kesalahan membaca pikiran. “Kesalahan membaca pikiran dialami oleh semua orang,” terang Gladwell, “Akarnya bisa pada pertengkaran, perbantahan, kesalahpahaman, sakit hati, dan sebagainya. Kendati demikian, karena kesalahan ini begitu mudah terjadi dan begitu misterius, kita sungguh tidak tahu cara memahami kesalahan-kesalahan tersebut.

Namun, pada tragedi tersebut, masalahnya tidak hanya pada kesalahan dalam membaca pikiran orang. Kita salah dalam cara berpikir kita sendiri. Kita cenderung berpikir bias terhadap realitas yang kita alami.

Bias sering kali muncul akibat cara otak kita mencoba melakukan sesuatu dengan cepat, tanpa banyak perhatian,” jelas Saul Perlmutter dan koleganya dalam buku Third Millennium Thinking, “Kerugiannya muncul ketika kita gagal memanfaatkan bukti yang kita miliki dengan sebaik-baiknya.” Meski pengalaman kerap dipandang sebagai guru yang terbaik, kata Perlmutter, adanya bias dalam cara kita berpikir membuat pengalaman yang kita alami menjadi guru yang paling mengecewakan.

Ada banyak jenis bias dalam berpikir. Beberapa disebut dengan berpikir heuristik. Bias berpikir yang dialami para petugas polisi yang mengakibatkan meninggalnya Diallo merupakan jenis bias yang disebut dengan bias konfirmasi (confirmation bias).

Raymond S. Nickerson dari Tufts University mendefinisikan bias konfirmasi sebagai berikut:

The seeking or interpreting of evidence in ways that are partial to existing beliefs, expectations, or a hypothesis in hand.

Pencarian atau penafsiran bukti dengan cara yang memihak pada keyakinan, harapan, atau hipotesis yang sudah ada.

Bias konfirmasi didefinisikan oleh kamus APA sebagai berikut:

The tendency to gather evidence that confirms preexisting expectations, typically by emphasizing or pursuing supporting evidence while dismissing or failing to seek contradictory evidence.

Kecenderungan untuk mengumpulkan bukti yang mengkonfirmasi harapan yang sudah ada sebelumnya, biasanya dengan menekankan atau mengejar bukti pendukung sambil mengabaikan atau gagal mencari bukti yang bertentangan.

Apa yang dialami para petugas polisi yang membuat Diallo meninggal persis seperti yang dialami Serigala yang membuat anak domba menjadi mangsa. Keduanya mengalami bias konformasi. Para polisi sudah punya dugaan di kepala mereka bahwa Diallo adalah penjahat yang mereka cari; serigala sudah punya harapan di kepala bahwa anak domba itu adalah mangsanya.  Para polisi mencari-cari bukti mengenai dugaan bahwa Diallo adalah penjahat; serigala mencari-cari dalih bahwa anak domba bersalah dan pantas untuk dimangsa. Para polisi mengabaikan bukti-bukti yang ada bahwa Diallo bukan penjahat; serigala mengabaikan bukti-bukti yang ada bahwa anak domba tidak bersalah.

Untuk menunjukkan seberapa rentan orang mengalami bias konfirmasi, bayangkan Anda menjadi partisipan dalam sebuah eksperimen berikut ini.

Di hadapan Anda, ada empat buah kartu seperti berikut ini.

Anda diberi tahu bahwa setiap kartu ini memiliki huruf di salah satu sisinya dan angka di sisi lainnya. Anda dihadapkan dengan aturan berikut yang hanya berlaku untuk keempat kartu tersebut: Jika sebuah kartu memiliki huruf vokal di satu sisi, maka kartu tersebut memiliki angka genap di sisi lainnya.

Tugas Anda adalah menentukan mana kartu-kartu yang perlu dibalik untuk menentukan apakah aturan tersebut benar atau salah?

Sebagian besar partisipan memilih kartu A dan 2 yang dibalik, atau hanya memilih kartu A. Tidak ada partisipan yang memilih kartu F (huruf konsonan). Hanya sebagian kecil yang memilih kartu angka 7 (angka ganjil).

Berikut ini jawaban yang benar.

Untuk menguji kebenaran aturan tersebut, yakni bahwa “Jika sebuah kartu memiliki huruf vokal di satu sisi, maka kartu tersebut memiliki angka genap di sisi lainnya” kita perlu memilih kartu A dan kartu 7 untuk dibalik. Membalik kartu A adalah cara yang tepat untuk mengkonfirmasi (confirm) hipotesis, tetapi orang-orang mengabaikan kartu 7, yang merupakan cara untuk menyangkal (disconform) hipotesis. Memilih membalik kartu angka 2 merupakan upaya kita yang rentan bias konformasi. Kita ingin mengkonformasi aturan tersebut namun sesungguhnya tidak tepat. Ini karena aturan jika vokal maka genap tidak sama dengan jika genap maka vokal. Kita berharap dibalik angka 2 ada huruf vokal padahal belum tentu. Rendahnya partisipan memilih membalik kartu angka 7 menunjukkan kalau partisipan lebih memilih bukti yang mengkonfomasi aturan, namun mengabaikan mencari bukti yang bertentangan dengan aturan.

Siapa, kapan, dan di mana bias konfirmasi terjadi? Bias konfirmasi bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Bias konformasi terjadi saat kita berinteraksi dengan pasangan dan anak kita di rumah. Saat guru dan dosen mengajar siswa dan mahasiswanya di sekolah dan kampus. Saat karyawan berinteraksi dengan atasan, bawahan, dan kolega di tempat kerja. Saat peneliti menjalankan aktivitas penelitiannya. Termasuk saat politisi mengambil keputusan dan menjalankan kebijakannya.

Bidang yang terakhir ini rentan mengalami bias konformasi di mana para politisi melakukan rasionalisasi kebijakan mengikuti adagium berikut ini: “Begitu suatu kebijakan diadopsi dan diimplementasikan, semua aktivitas selanjutnya menjadi upaya untuk membenarkannya.”

Share this:

Similar Posts