Learned Helplessness

Share this:

Kamus American Psychological Association (APA) mendefinisikan learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari sebagai berikut:

a phenomenon in which repeated exposure to uncontrollable stressors results in individuals failing to use any control options that may later become available.

Suatu fenomena di mana paparan berulang terhadap stresor yang tidak dapat dikendalikan mengakibatkan individu gagal menggunakan pilihan pengendalian apa pun yang mungkin tersedia di kemudian hari.

Pada dasarnya, demikian Kamus APA menjelaskan, individu dikatakan belajar bahwa mereka kurang memiliki kendali perilaku atas peristiwa lingkungan, yang pada gilirannya melemahkan motivasi untuk melakukan perubahan atau mencoba mengubah situasi.

Fenomena ini pertama kali dijelaskan pada tahun 1967 oleh psikolog AS J. Bruce Overmier dan Martin E. P. Seligman setelah eksperimen di mana hewan non-manusia yang terpapar serangkaian sengatan listrik yang tidak dapat dihindari kemudian gagal belajar untuk menghindari sengatan ini ketika diuji dalam alat yang berbeda, sedangkan hewan yang terpapar sengatan yang dapat dihentikan oleh respons mereka tidak menunjukkan gangguan pada pembelajaran menghindari sengatan di alat lain.

Kamus APA menjelaskan bahwa learned helplessness merupakan suatu sindrom dengan tiga ciri berkembang:

(a) defisit motivasi yang ditandai dengan kegagalan untuk merespons ketika dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang lebih tidak menyenangkan,

(b) defisit asosiatif yang ditandai dengan gangguan pembelajaran dari keberhasilan mengatasi masalah, dan

(c) defisit emosional yang ditandai dengan reaksi yang tampak kurang terhadap peristiwa-peristiwa yang menyakitkan.

Martin E.P. Seligman yang merupakan ilmuwan psikologi dari Universitas Pennsylvania menulis buku berjudul Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life. Dalam bukunya itu, ia mengenalkan istilah ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) dengan memberi penjelasan sebagai berikut.

We begin with the theory of personal control. I will introduce to you two principal concepts: learned helplessness and explanatory style. They are intimately related.

 Learned helplessness is the giving-up reaction, the quitting response that follows from the belief that whatever you do doesn’t matter. Explanatory style is the manner in which you habitually explain to yourself why events happen. It is the great modulator of learned helplessness. An optimistic explanatory style stops helplessness, whereas a pessimistic explanatory style spreads helplessness. Your way of explaining events to yourself determines how helpless you can become, or how energized, when you encounter the everyday setbacks as well as momentous defeats.

Kita mulai dengan teori kendali pribadi. Saya akan memperkenalkan dua konsep utama: ketidakberdayaan yang dipelajari dan gaya penjelasan. Keduanya saling berkaitan erat.

Ketidakberdayaan yang dipelajari adalah reaksi menyerah, respons berhenti yang muncul dari keyakinan bahwa apa pun yang Anda lakukan tidak berarti. Gaya penjelasan adalah cara Anda menjelaskan kepada diri sendiri mengapa suatu peristiwa terjadi. Ini adalah modulator utama ketidakberdayaan yang dipelajari. Gaya penjelasan yang optimis menghentikan ketidakberdayaan, sedangkan gaya penjelasan yang pesimis menyebarkan ketidakberdayaan. Cara Anda menjelaskan suatu peristiwa kepada diri sendiri menentukan seberapa tidak berdayanya Anda nantinya, atau seberapa bersemangatnya Anda, ketika Anda menghadapi kemunduran sehari-hari maupun kekalahan yang krusial.

Share this:

Similar Posts