Implementation Intention: Mengapa Niat Saja Tidak Cukup Membuat Kita Bertindak?
Mengapa niat saja tidak cukup untuk bagi kita untuk bertindak? Dalam teori perilaku terencana (theory of planned behavior), niat menjadi prasyarat dalam berperilaku. Semua perilaku yang disadari diawali dengan niat dari pelakunya. Namun, meniatkan untuk berperilaku tertentu tidak otomatis berbuah perilaku. Apalagi jika perilaku yang ingin kita lakukan adalah perilaku yang baru.
Salah satu alasan mengapa niat tidak berubah perilaku adalah karena perilaku yang sudah jadi kebiasaan terjadi secara otomatis sehingga perilaku yang baru akan sulit dilakukan meski sudah diniatkan. Saya biasa membuka handphone setiap kali sedang dalam perjalanan di transportasi umum (KRL dan Transjakarta) menuju tempat kerja. Jadi, hanya sekedar berniat untuk membaca di transportasi umum mungkin akan menguap dari kesadaran saya. Jadi, salah satu cara untuk membuat perilaku membaca buku di transportasi umum itu dapat dilakukan adalah membuat kita menyadarinya. Di sinilah pentingnya niat implementasi. Dengan niat implementasi, kita membayangkan situasi yang bakal terjadi yang menyulut tindakan yang kita niatkan. Saat saya berniat membaca buku di KRL, saya menggunakan cara berpikir jika-maka: Jika saya masuk gerbong KRL dan berdiri di antara para penumpang, saya akan membuka buku dan membacanya.
Ensiklopedia Psikologi Sosial menjelaskan niat implementasi (implementation intention) sebagai berikut:
An implementation intention is a simple plan in the form of “If X, then I will Y!” that specifies an anticipated goal-relevant situation, X, and a goal-directed response, Y, that will help achieve the goal. For example, an implementation intention formed to support the goal intention “to exercise frequently” would follow the form of “If it is sunny outside when I get up in the morning, then I will walk to work rather than take the bus.” In other words, saying “I want to exercise more” doesn’t accomplish very much. But planning, “If it’s a sunny morning, then I’ll walk to work,” can increase one’s chances of actually reaching that goal of exercising more.
Niat implementasi adalah rencana sederhana dalam bentuk “Jika X, maka saya akan Y!” yang menentukan situasi yang relevan dengan tujuan yang diantisipasi, X, dan respons yang diarahkan pada tujuan, Y, yang akan membantu mencapai tujuan tersebut. Misalnya, niat implementasi yang dibentuk untuk mendukung niat tujuan “berolahraga secara teratur” akan mengikuti bentuk “Jika cuaca cerah di luar saat saya bangun pagi, maka saya akan berjalan kaki ke tempat kerja daripada naik bus.” Dengan kata lain, mengatakan “Saya ingin berolahraga lebih banyak” tidak banyak menghasilkan apa pun. Tetapi merencanakan, “Jika pagi hari cerah, maka saya akan berjalan kaki ke tempat kerja,” dapat meningkatkan peluang seseorang untuk benar-benar mencapai tujuan berolahraga lebih banyak.
Kita mungkin sudah berniat membaca buku, berolahraga, atau mengerjakan tugas, tetapi tetap saja menundanya. Prokrastinasi menunjukkan bahwa memiliki niat tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertindak.
Namun, memiliki rencana yang jelas juga tidak berarti seseorang selalu yakin mampu melaksanakannya. Di sinilah efikasi diri menjadi penting, karena keyakinan terhadap kemampuan diri dapat memengaruhi apakah seseorang mau memulai dan mempertahankan suatu tindakan.
