A male child reading a book.

Bolehkan Memaksa Orang Lain Membaca Buku?

Share this:

Dalam relasi yang mengandung otoritas, yang menempatkan saya pada posisi yang lebih tinggi, saya merasa seakan sedang memaksa orang lain membaca buku, seperti kepada mahasiswa-mahasiswa saya, seperti juga pada anak saya. Namun, bolehkan memaksa orang lain untuk membaca buku?

Pada awal semester, saya memberi tugas tambahan dengan meminta mahasiswa memilih sendiri buku non-fiksi kategori psikologi dan pengembangan diri untuk dibaca sepanjang semester berjalan. Pada setiap minggu kuliah diawali dengan sharing buku selama 10 menit. Lima mahasiswa akan maju ke depan untuk menceritakan secara singkat isi buku yang dibaca dan alasan suka dengan buku tersebut. Setiap mahasiswa diberi waktu paling lama 2 menit. Namun, prosesnya tidak semulus itu karena ada saja mahasiswa yang beralasan lupa membawa buku.

Alhasil, di dua pertemuan terakhir di semester ini, ada banyak mahasiswa yang maju ke depan kelas, berbagi tentang buku yang mereka baca namun tidak dibawa, karena minggu-minggu sebelumnya tidak mau maju karena lupa membawa buku. Raut kurang antusias tampak terbersit di wajah mereka karena saya paksa untuk berbagi kisah tentang buku yang entah benar-benar mereka baca atau tidak.

Pada anak laki-laki saya yang mulai menginjak remaja, saya mendorong dengan keras agar ia membaca buku. Ini tidak mudah karena lingkungan sosial di era digital ini membuatnya merasa membaca buku tidak semenarik beraktivitas di smartphone atau laptop yang terhubung internet. Ia tidak punya smartphone tapi mudah saja smartphone orangtuanya berpindah ke tangannya. Jadilah waktunya dihabiskan setiap hari dengan banyak berada di depan layar dibandingkan di depan halaman buku.

Dengan maksud memberi kesempatan ia mendapat buku yang disukai, kami mengajaknya hadir di sebuah bursa buku agar ia dapat leluasa memilih buku. Di hall yang berukuran hampir seluas lapangan sepak bola, meja demi meja, rak demi rak penuh buku, dilaluinya. Ada buku yang berbahasa Inggris, siapa tahu tertarik; ada buku berbahasa Indonesia, walau belum tentu tertarik. Sampai mendekati ujung pintu keluar dan kasir, hanya ada satu buku yang dibawa, yang ia pilih untuk dibaca. Dan buku yang ada di tangannya adalah buku…. Teka-teki Silang (TTS) Kompas!

Saya merasa bukan sebagai pembaca buku yang andal. Isi buku-buku yang saya baca banyak yang tidak benar-benar tertempel di kepala saya. Namun saya berusaha membaca buku setiap hari. Anak saya pernah menyangkal dari ajakan saya membaca buku dengan berkata, “Saya beda dengan ayah. Saya tidak suka baca buku.”

Alih-alih memaksa anak saya membaca buku, mungkin saya hanya perlu membiarkan anak saya melakukan apa pun yang ia inginkan sembari berharap kelak ia akan berpikir seperti penulis Korea Hwang Bo-reum, yang dituang dalam bukunya Every Day I Read berikut ini.

Orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk membaca. Mereka juga tidak membacakan cerita pengantar tidur seperti di film. Orang tua saya memang membaca, tetapi mereka selalu menjadi pembaca – bukan hanya untuk menjadi panutan bagi kami. Saya memperhatikan mereka saat masih kecil (seperti yang saya katakan, tidak banyak yang bisa dilakukan di rumah) dan secara alami meniru kebiasaan itu. Jadi, dalam arti itu, saya membaca karena orang tua saya juga membaca.

Penasaran dengan apa yang dipikirkan mahasiswa saya tentang kegiatan sharing buku yang dilakukan di kelas, saya meminta beberapa mahasiswa saya untuk memberi testimoni singkat. Mungkin permintaan saya ini mengandung bias konfirmasi. Berikut ini komentar yang mereka sampaikan.

Sebenarnya karena ada tugas mereview buku saya jadi mempersiapkan, melihat dan membaca lagi buku-buku yang ada di rumah. Jadi ada dorongan untuk membaca lagi. Tapi ada juga seperti rasa takut, makanya saya maju terakhir, tidak mau maju ke depan karena merasa buku teman-teman bagus-bagus. Ternyata saat di depan kelas mengalir saja. Tapi oke kalau ada kegiatan seperti ini lagi kita jadi melihat-lihat lagi buku yang ada di rumah. (Urwatul Wutsqo, mahasiswa Psikologi Uhamka semester 4) 

Menurut saya kegiatan ini menarik karena saya bisa melihat perspektif orang lain yang membaca buku di mana buku yang dibaca ternyata beragam. Buku yang mereka baca unik-unik dan kita dapat insight darinya. Jika seseorang bisa menjelaskan apa yang dibaca artinya ia sudah memahami apa yang dibaca. Ini juga melatih public speaking kita juga. (Alwi Satria Pratama, mahasiswa Psikologi Uhamka semester 4) 

Kegiatan ini memaksa saya untuk membaca, menumbuhkan minat membaca. Menurut saya membaca tidak harus selalu buku yang sulit, bisa dari membaca komik lalu meningkat membaca buku yang lebih sulit. (Farah Putri Dandi, mahasiswa Psikologi UHAMKA semester 4) 

Kegiatan ini bermanfaat apa lagi kita mahasiswa psikologi harus banyak membaca. Dengan menelaah buku yang kita baca kita jadi tahu buku yang mau kita baca. Saya pribadi suka membaca buku yang menyangkut kehidupan saya, kehidupan sehari-hari di masyarakat, terutama buku yang berkaitan dengan psikologi. (Aurelia Puspita Sari, mahasiswa Psikologi Uhamka semester 4) 

Kegiatan ini memberi banyak insight buat saya. Kemarin saya membaca buku tentang insecurity sehingga saya banyak mendapat insight tentang insecurity, mengapa orang banyak merasa insecure. Ternyata bukan diri mereka yang salah tetapi pikiran mereka yang membuat seakan-akan itu salah. (Tisya Maulidya Puspa Andara, mahasiswa Psikologi Uhamka semester 4) 

Menurut saya membaca buku itu menyenangkan. Memang saya tidak terlalu suka tapi Kalau saya penasaran dengan suatu buku, pasti saya baca. Terutama beberapa buku dari teman-teman membuka pikiran baru saya, juga membuat saya penasaran terhadap buku-buku yang mereka paparkan. Jadi banyak dampak positifnya, misalnya saya ada rencana bulan depan atau dua bulan lagi mau membaca buku yang mereka baca. (Arnida Dewi Prameswari, mahasiswa Psikologi Uhamka semester 4) 

Kegiatan sharing buku yang dimaksud saya namai dengan Show Your Book! Dalam konsep psikologi sosial, saya menggunakan jenis kekuasaan tertentu. Komentar-komentar mahasiswa di atas bisa jadi merupakan buah dari cara berpikir saya yang cenderung bias konfirmasi.

Share this:

Similar Posts