Mengapa Orang Suka Membual? Penjelasan Psikologi tentang Omong Kosong
Perhatikan apa yang dikatakan Donald Trump dalam tiga konteks yang berbeda berikut ini.
- Trump bicara tentang cuaca saat pidato pelantikannya. “Saya berkata, hampir hujan, hujan seharusnya membuat mereka takut, tetapi Tuhan melihat ke bawah dan berkata, kita tidak akan membiarkan hujan turun saat pidato Anda. Bahkan, ketika saya pertama kali mulai, saya berkata, oh, tidak. Baris pertama, saya terkena beberapa tetes hujan. Dan saya berkata, oh, ini sangat buruk, tetapi kita akan terus maju. Tetapi kenyataannya hujan berhenti seketika. Itu luar biasa. Dan kemudian menjadi sangat cerah. Dan kemudian saya pergi dan hujan deras turun tepat setelah saya pergi. Hujan deras.” Fakta yang ada, saat pidato pelantikannya, hujan tidak segera berhenti dan langit tetap mendung selama ia pidato.
- Beberapa hari setelah pidato pelantikan, Trump berkata mengenai jumlah orang yang hadir dalam pelantikannya. “Sejujurnya, sepertinya ada satu setengah juta orang. Berapa pun jumlahnya, memang begitu. Tapi itu membentang sampai ke Monumen Washington.” Pada kesempatan lain, ia berkata, “Dalam hal total penonton termasuk televisi dan semua hal lainnya, kami konon memiliki kerumunan terbesar dalam sejarah… Mereka bilang saya memiliki kerumunan terbesar dalam sejarah pidato pelantikan.” Fakta yang ada menunjukkan bahwa pelantikan yang paling banyak dihadiri dan ditonton adalah pelantikan Barack Obama pada 2009.
- Dalam sebuah pengarahan pada 23 April 2020, Trump berkata bahwa ia menemukan obat COVID-19, “Dan kemudian saya melihat disinfektan, yang dapat membunuh virus dalam satu menit. Satu menit. Dan apakah ada cara kita dapat melakukan sesuatu seperti itu, dengan suntikan ke dalam atau hampir seperti pembersihan? Karena Anda lihat virus itu masuk ke paru-paru dan menyebabkan kerusakan yang luar biasa pada paru-paru. Jadi akan menarik untuk memeriksanya.” Faktanya, apa yang dikatakan Trump dapat membahayakan nyawa orang lain karena menelan disinfektan semacam itu akan menyebabkan luka bakar parah pada perut dan kerongkongan.
Saya mengutip tiga pernyataan Trump di atas dari ilmuwan psikologi sosial John V. Petrocelli dalam bukunya The Life-Changing Science of Detecting Bullshit. Oleh Petrocelli, ketiga pernyataan Trump di atas dikategorikan sebagai omong kosong dalam level yang berbeda. Pernyataan yang pertama omong kosong level rendah (tidak berbahaya), yang kedua level sedang (buruk), dan yang ketiga level tinggi (berbahaya).

Apa itu Omong Kosong?
Menurut Petrocelli, membual atau omong kosong (bullshit) melibatkan komunikasi yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, dengan sedikit atau tanpa memperhatikan kebenaran, bukti yang sahih, dan/atau pengetahuan yang telah mapan. Petrocelli menulis,
Omong kosong sering kali ditandai dengan, tetapi tidak terbatas pada, penggunaan strategi retorika yang dirancang untuk mengabaikan kebenaran, bukti, dan/atau pengetahuan yang telah mapan, seperti melebih-lebihkan atau memperindah pengetahuan, kompetensi, atau keterampilan seseorang di bidang tertentu atau berbicara tentang hal-hal yang tidak diketahuinya untuk mengesankan, menyesuaikan diri, memengaruhi, atau membujuk orang lain.
Kebohongan dapat membuat Anda dipecat. Tetapi omong kosong mungkin membuat Anda dipromosikan sebagai CEO–Anda bahkan mungkin bisa menjadi presiden!
John V. Petrocelli
Apakah Omong Kosong atau Membual Sama dengan Berbohong?
Petrocelli berpendapat bahwa membual berbeda dengan berbohong. Meski orang yang membual dan berbohong mengucapkan pernyataan yang sama, keduanya berbeda pada motivasinya.
Ketika seorang pedagang mengatakan sesuatu yang keliru tentang barang dagangannya—dan ia sebenarnya tahu serta peduli bahwa hal itu tidak benar—maka ia sedang berbohong. Namun, ketika pedagang menyampaikan kekeliruan yang sama tanpa memedulikan kebenaran ataupun bukti yang mendukung apa yang ia yakini, harapkan, atau inginkan sebagai kebenaran, maka ia sedang membual. Petrocelli menulis,
Berbeda dengan pembohong, pembual juga bisa saja menyampaikan sesuatu yang sebenarnya benar, namun ia sendiri tidak menyadarinya karena ia tidak mempedulikan kebenaran klaimnya ataupun fakta bahwa klaim tersebut dapat dan seharusnya didukung oleh bukti yang tersedia serta pengetahuan yang ada. Memang benar bahwa pembual dan pembohong sama-sama bersifat menipu dalam artian mereka tampak seolah-olah sungguh peduli pada kebenaran. Secara definisi, pembohong melakukan segala cara untuk menyembunyikan kebenaran; agar berhasil, ia memutarbalikkan gambaran kenyataan dan berusaha mengingat kebohongan tersebut. Pembual tidak memikul beban semacam itu karena sering kali ia justru memercayai bualannya sendiri.
Membual dan berbohong juga berbeda dalam reaksi emosi kita terhadapnya. Menurut Petrocelli, ketika orang berbohong, mereka yang dibohongi biasanya merasa marah dan bisa ada konsekuensi serius bagi mereka yang berbohong. Di sisi lain, ketika orang membual, mereka yang dibuali biasanya menutup mata dan menganggap hal itu tidak berpengaruh apa pun terhadapnya. Petrocelli menulis,
Motif pembohong dan pembual sangat berbeda, dan orang dengan mudah mengenali perbedaan ini. Kebohongan adalah distorsi atau penyembunyian kebenaran yang disengaja, sedangkan klaim omong kosong dibuat tanpa memperhatikan kebenaran sama sekali—dan bahkan mungkin benar. Kebohongan dapat membuat Anda dipecat. Tetapi omong kosong mungkin membuat Anda dipromosikan sebagai CEO– Anda bahkan mungkin bisa menjadi presiden!
Mengapa Orang Suka Membual?
Menurut Petrocelli, setidaknya ada dua kondisi yang membuat orang suka membual. Pengetahuan kita tentang dua kondisi ini membantu kita mendeteksi siapa-siapa yang sedang berbicara omong kosong atau membual.
1. Berada dalam kondisi yang membuat orang wajib menyampaikan pendapat
Orang lebih mungkin membual karena keadaan memaksanya untuk menyampaikan pendapat yang tidak benar-benar diketahuinya. Ia sebenarnya tidak tahu, tapi kondisi membuat ia harus menyampaikan pendapat. Orang terkadang diharapkan, bahkan diwajibkan, untuk membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak mereka ketahui—dan yang sering keluar hanyalah omong kosong. Petrocelli menulis,
Omong kosong tak terelakkan ketika situasi menuntut seseorang untuk berbicara tanpa memahami apa yang sedang dibicarakannya. Dengan demikian, munculnya omong kosong terpicu setiap kali kewajiban atau kesempatan seseorang untuk berbicara mengenai suatu topik melampaui pengetahuannya tentang fakta-fakta yang relevan dengan topik tersebut.
2. Berada dalam kondisi yang membuat bualannya mudah diterima
Menurut Petrocelli, terlepas dari seberapa tekun dan cermat seseorang melontarkan omong kosong, faktanya ia tetap berusaha untuk meloloskan diri dari konsekuensi tindakannya. Namun, jika ia berada dalam lingkungan di mana orang-orang tidak punya pengetahuan tentang apa yang dibicarakan, atau orang-orang yang mau menerima apapun yang diucapkan, ia akan membual. Petrocelli menulis,
Perilaku melontarkan omong kosong kemungkinan besar akan muncul ketika pelakunya memperkirakan orang lain akan menerima atau menoleransinya. Jika pendengar tampak tidak memiliki pengetahuan atau pendapat yang berdasar mengenai topik tersebut, maka “meloloskan” omong kosong itu seharusnya menjadi hal yang mudah. Dengan kata lain, seseorang akan merasa lebih percaya diri untuk melontarkan omong kosong tanpa mendapat teguran sosial saat berbicara mengenai hal-hal yang juga hanya sedikit diketahui oleh kebanyakan orang lain.
Mengapa orang dewasa mudah membual saat berbicara pada anak kecil? Karena ia menganggap bahwa anak kecil tidak tahu apa-apa dan percaya begitu saja apa pun yang dikatakan orang dewasa. Pemimpin yang berada dalam lingkungan anak buah yang bersikap Asal Bapak Senang (ABS), selalu mendapat tepuk tangan atas apa pun yang diucapkan, anak buah yang tidak berani mengoreksi dengan memberi masukan berdasarkan fakta, percayalah, sepanjang waktu pemimpin tersebut akan mudah memproduksi bualan demi bualan.
