Woman standing with her back to the camera, looking at a brightly lit refrigerated display full of various yogurt and dairy products

Anjing dan Bayangannya: Mengapa Memilih yang Terbaik, atau yang Lebih Baik, tidak Selalu Baik?

Share this:

Seekor anjing, yang baru saja diberi tulang oleh tukang daging, bergegas pulang membawa hasil buruannya secepat mungkin. Saat melintasi jembatan penyeberangan yang sempit, ia tak sengaja melihat ke bawah dan mendapati bayangan dirinya terpantul di permukaan air yang tenang, persis seperti di cermin.

Namun, anjing yang serakah itu mengira ia melihat seekor anjing sungguhan yang sedang membawa tulang jauh lebih besar daripada miliknya. Tanpa banyak berpikir, ia bergegas menjatuhkan tulangnya dan menerjang anjing yang ada di sungai itu, hingga akhirnya ia harus berjuang keras berenang demi menyelamatkan diri dan mencapai tepian. Akhirnya, ia berhasil naik ke darat, dan saat berdiri dengan sedih memikirkan tulang bagus yang telah hilang, ia pun menyadari betapa bodohnya dirinya.

Anjing pada fabel di atas sudah punya makanan yang baik, namun ia ingin yang lebih baik. Demi tulang yang lebih baik, ia kehilangan tulang yang baik yang sudah ada di mulutnya. Keputusan untuk memilih yang lebih baik seringkali tidak baik.

Setiap hari kita dihadapkan pada banyak keputusan untuk memilih. Pada saat yang sama, kita hidup di zaman di mana satu keputusan yang diambil menyediakan banyak alternatif pilihan.

Dahulu, untuk memutuskan baju mana yang akan dibeli, kita akan berjalan dari rak baju satu ke rak baju lain di toko baju favorit. Jika pilihan tidak tersedia, kita berpindah ke toko sebelah. Jika belum cocok dan masih ada kesempatan, kita bisa pindah ke area pusat perbelanjaan (mall, pasar tradisional, area pertokoan) yang lain.

Saat ini, kita lebih sering membeli barang secara online. Jika baju yang akan kita beli tidak tersedia di toko online tertentu kita mudah saja berpindah ke toko online yang lain. Toko fisiknya ada di mana-mana; kita tidak perlu ke mana-mana.

Namun, ada banyak pilihan barang yang kita beli di toko online seringkali membuat kita kewalahan untuk memutuskan mana yang akan dibeli. Pengalaman pribadi, saya menghabiskan banyak waktu untuk memilih celana pendek mana yang akan saya beli di sebuah pasar daring, melihat detail produk, penilaian, dan review pembeli dari satu produk ke produk yang lain. Namun sudah beberapa waktu saya menjelajah, saya belum bisa memutuskan celana pendek mana yang akan dibeli. Apa pasal? Kepala saya keburu pusing akibat terlalu lama menelisik produk-produk yang akan saya pertimbangkan sebagai pilihan terbaik yang bisa saya ambil.

Di luar membeli pakaian, ada berlimpah pilihan pada bidang-bidang yang lain. Ada banyak informasi dari berita online yang bisa kita baca, bahkan berita mendatangi kita melalui notifikasi, namun kita justru bingung berita mana yang akan dibaca. Ada banyak lagu yang bisa kita dengar di YouTube atau aplikasi musik kesukaan kita, namun kita bingung mau mendengar musik yang mana. Saking beragam jenis musik bisa kita dengar, kita butuh musik yang mendukung suasana dan emosi kita saat ini sehingga seakan waktu dan suasana tertentu ada musiknya tersendiri. Dahulu waktu masih tinggal di kampung, tetangga rumah yang suka lagu-lagu Iwan Fals akan mendengarkannya sepanjang hari; sementara tetangga sebelah yang lain lebih suka mendengar lagu-lagu India setiap hari mendengarkan album lagu Kuch Kuch Hota Hai, seperti tidak merasa bosan.

Seiring bertambahnya jumlah pilihan,” tulis Barry Schwartz, penulis buku Paradox of Choice, “dampak negatifnya pun kian meningkat hingga kita mengalami beban berlebih. Pada titik ini, pilihan tidak lagi membebaskan, melainkan melumpuhkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa pilihan justru mendikte kita layaknya seorang tiran.”

Schwartz menulis,

Kemampuan untuk memilih merupakan hal yang esensial bagi otonomi, yang pada gilirannya sangat mendasar bagi kesejahteraan hidup. Orang yang sehat menginginkan dan membutuhkan kendali atas hidup mereka sendiri.

Di sisi lain, fakta bahwa memiliki pilihan itu baik tidak serta-merta berarti bahwa pilihan yang lebih banyak itu lebih baik. …ada konsekuensi negatif dari situasi di mana kita dibanjiri oleh terlalu banyak pilihan. Sebagai sebuah budaya, kita sangat menjunjung tinggi kebebasan, penentuan nasib sendiri, dan keberagaman, serta enggan melepaskan satu pun pilihan yang kita miliki. Namun, sikap bersikeras mempertahankan semua pilihan yang tersedia justru dapat berujung pada pengambilan keputusan yang keliru, kecemasan, stres, dan ketidakpuasan—bahkan hingga depresi klinis.

Kebebasan memilih merupakan hal yang esensial bagi otonomi dan berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup seseorang. Ini karena pilihan memiliki dua fungsi atau nilai:

  1. Nilai instrumental. Nilai ini memungkinkan orang untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dalam hidup. Meskipun banyak kebutuhan bersifat universal (makanan, tempat tinggal, perawatan medis, dukungan sosial, pendidikan, dan sebagainya), sebagian besar dari apa yang kita butuhkan sangat individual. Celana pendek yang saya butuhkan punya bahan, ukuran, dan model yang berbeda dengan Anda.
  2. Nilai ekspresif. Nilai ini memungkinkan kita untuk memberi tahu kepada dunia siapa kita dan apa yang kita pedulikan. Ini berlaku untuk sesuatu yang tampak dangkal seperti cara kita berpakaian. Pakaian yang kita pilih adalah ekspresi selera yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengirimkan pesan. Sepatu punya nilai instrumental yang menopang kaki kita, namun juga punya nilai ekspresif sehingga kita lebih memilih sepatu jenis atau merek tertentu. Jam tangan punya nilai instrumental sebagai penunjuk waktu, tapi juga punya nilai ekspresif sehingga ada orang yang mau membeli jam dengan merk mahal meski fungsi penunjuk waktunya sama saja dengan jam tangan yang lain.

Dari dua nilai atas pilihan tersebut, nilai ekspresif mendapat bobot yang lebih besar. Orang mau memilih benda tertentu, pakaian misalnya, untuk mencerminkan siapa dirinya, misalnya, “saya orang kaya,” atau “Saya terpelajar”. Sehingga seringkali ukuran harga yang kita berikan atas pilihan tidak terbatas. Membeli jam tangan yang punya nilai instrumental itu murah saja, 100 ribu bahkan lebih murah. Namun membeli jam tangan yang punya nilai ekspresif, misalnya untuk menunjukkan bahwa dirinya orang kaya atau berstatus sosial tinggi, bisa sangat mahal, mungkin 1 miliar bahkan lebih.

Schwartz menulis,

Tidak diragukan lagi, orang-orang telah peduli terhadap status sejak mereka hidup berkelompok, tetapi kepedulian terhadap status telah mengambil bentuk baru di zaman kita. Di era telekomunikasi global dan kesadaran global, hanya “yang terbaik” yang menjamin kesuksesan dalam persaingan melawan semua orang. Dengan meningkatnya kemakmuran, meningkatnya materialisme, teknik pemasaran modern, dan banyaknya pilihan yang tersedia, tampaknya tak terhindarkan bahwa kepedulian terhadap status akan meledak menjadi semacam perlombaan keunggulan. Satu-satunya cara untuk menjadi yang terbaik adalah memiliki yang terbaik.

Kepedulian terhadap status inilah yang membuat orang ingin memilih yang terbaik dengan cara memaksimalkan pilihan. Orang demikian disebut oleh Schwartz sebagai pemaksimal (maximizers). Dalam memilih, para pemaksimal merasa perlu memastikan bahwa setiap pembelian atau keputusan yang mereka ambil adalah yang terbaik. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan memeriksa semua alternatif yang tersedia. Sebagai strategi pengambilan keputusan, menurut Schwartz, upaya untuk mencari hasil terbaik (maximizing) menciptakan tugas yang sangat berat, dan tugas ini menjadi semakin berat seiring dengan bertambahnya jumlah pilihan yang tersedia. Schwarz meyakini bahwa tujuan untuk memaksimalkan pilihan merupakan sumber ketidakpuasan yang besar dan dapat membuat orang merasa sengsara, terutama di dunia yang bersikeras menyuguhkan pilihan dalam jumlah yang luar biasa banyak, baik yang sepele maupun yang tidak. Penelitian yang mengukur skor kecenderungan maksimalisasi pada responden menunjukkan bahwa responden dengan skor maksimisasi tinggi merasakan kepuasan hidup yang lebih rendah, kurang bahagia, kurang optimistis, dan lebih mengalami depresi dibandingkan responden dengan skor maksimisasi rendah.

Alternatif lain yang lebih baik dalam menghadapi beragam pilihan dalam hidup disebut sebagai pencukup (satisficiers). Schwartz menulis,

Menjadi merasa cukup berarti menerima sesuatu yang cukup baik dan tidak mengkhawatirkan kemungkinan adanya sesuatu yang lebih baik. Seorang pencukup memiliki kriteria dan standar. Dia mencari sampai menemukan sesuatu yang memenuhi standar tersebut, dan pada titik itu, dia berhenti.

Berikut ini perbedaan pemaksimal dan pencukup dalam keputusan membeli.

  1. Pemaksimal melakukan lebih banyak perbandingan produk dibandingkan pencukup, baik sebelum maupun sesudah mereka mengambil keputusan pembelian.
  2. Pemaksimal membutuhkan waktu lebih lama daripada pencukup untuk memutuskan pembelian.
  3. Pemaksimal menghabiskan lebih banyak waktu dibandingkan pencukup untuk membandingkan keputusan pembelian mereka dengan keputusan orang lain.
  4. Pemaksimal lebih cenderung merasakan penyesalan setelah melakukan pembelian.
  5. Pemaksimal umumnya merasa kurang positif terhadap keputusan pembelian mereka.

Anjing pada fabel di atas mulanya merasa tulang yang ia miliki adalah tulang yang terbaik. Namun begitu ia membandingkan dengan tulang yang dimiliki anjing lain, meski hanya ada dalam bayangan atau pikirannya sendiri, ia merasa tidak cukup dengan apa yang sudah dimiliki.

Untuk menghadapi banyaknya pilihan yang memicu maksimalisasi yang berakibat buruk buat hidup kita, Schwartz memberi sejumlah saran agar kita lebih bisa menjadi pencukup atas pilihan yang kita ambil. Berikut ini diantaranya:

1. Jangan suka membanding-bandingkan diri kita dan pilihan kita dengan orang lain dan pilihannya. Tiap orang punya preferensinya masing-masing dalam memilih.

2. Seperti apapun pilihan terbaik yang kita ambil atas keputusan memilih yang membuat kita senang dan puas, sadarilah bahwa kita beradaptasi dengan kesenangan dan kepuasan yang kita rasakan. Barang-barang yang baru kita beli terasa menyenangkan di awal namun akan jadi biasa, tidak menyenangkan lagi, seiring waktu.

3. Praktikkan sikap bersyukur dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kebiasaan menyukuri apa yang kita punya, kita jadi belajar untuk merenungkan betapa jauh lebih baiknya keadaan sebenarnya daripada yang seharusnya, yang pada gilirannya akan membuat hal-hal baik dalam hidup terasa jauh lebih baik.

Terkait rasya bersyukur ini, masih terngiang-ngiang bait nasyid yang dahulu sering saya dengar waktu sekolah tahun 2000an berikut ini:

Apa yang ada jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan
Nikmat yang dikecap baru kan terasa bila hilang
Apa yang diburu timbul rasa jemu
Bila sudah di dalam genggaman

Share this:

Similar Posts