Mana yang Lebih Penting dalam Meraih Sukses, Bakat atau Usaha? Ini Kata Angela Duckworth
Selama ini kita hidup dalam dunia yang lebih mengagungkan bakat dibandingkan dengan usaha. Meski kita memandang usaha lebih penting daripada bakat, secara tidak sadar kita cenderung menyukai orang yang kita nilai berbakat.
Pada sebuah penelitian, para musisi profesional ditanya mengenai mana yang lebih penting, bakat atau usaha (usaha dalam hal ini berarti berlatih lebih keras). Kebanyakan dari mereka menjawab usaha atau latihan lebih penting daripada bakat. Namun, saat mereka ditanya siapa yang akan dipilih untuk dipekerjakan oleh mereka, musisi berbakat atau musisi yang berlatih keras, mereka lebih memilih musisi yang berbakat.
Pertanyaan yang sama ditujukan kepada wirausahawan, bidang usaha yang dinilai lebih membutuhkan usaha daripada bakat. Para wirausahawan ini membaca proposal bisnis yang dibuat oleh orang yang berbakat alami dan orang yang bekerja keras. Mereka lebih memilih mempekerjakan orang yang berbakat alami dibandingkan orang yang bekerja keras. Proposal bisnis orang yang berbakat alami juga dinilai lebih unggul dan berkualitas dibandingkan dengan proposal bisnis pekerja keras. Kesimpulan dari penelitian ini, orang punya kecenderungan bias dalam menilai bakat seseorang yang disebut dengan bias kealamian (naturalness bias).
Apa bias kealamian?
Angela Duckworth, ilmuwan psikologi yang mengkaji mengenai psikologi prestasi dan pencapaian, menulis dalam bukunya berjudul Grit: The Power of Passion and Perseverance sebagai berikut,
Bias kealamian adalah prasangka terselubung terhadap mereka yang meraih pencapaian berkat kerja keras, serta preferensi terselubung untuk lebih menyukai mereka yang kita anggap mencapai posisi saat ini karena bakat alami. Kita mungkin tidak mengakui bias terhadap orang yang berbakat alami ini kepada orang lain; bahkan mungkin kita tidak mengakuinya kepada diri sendiri. Namun, bias tersebut nyata terlihat dalam pilihan yang kita buat.
Kecenderungan kita untuk menilai orang dengan bias kealamian ini dinilai berbahaya karena hanya mengakui bakat sebagai faktor kesuksesan dan mengabaikan faktor lain yang justru lebih penting, yaitu usaha atau latihan. Duckworth menulis,
Menurut saya, alasan terbesar mengapa terlalu fokus pada bakat bisa berbahaya sangat sederhana: Dengan menyoroti bakat, kita berisiko mengabaikan hal-hal lain. Tanpa disadari, kita mengirimkan pesan bahwa faktor-faktor lain—termasuk ketekunan—tidak sepenting yang sebenarnya.
Padahal, setiap sifat manusia dipengaruhi oleh dua hal, yakni genetik dan pengalaman. Orang cenderung mengidentikkan bakat sebagai genetik dan usaha atau latihan sebagai pengalaman. Bakat tidak sepenuhnya genetis. Bakat juga dipengaruhi oleh pengalaman. Duckworth menulis,
Bakat, dalam segala bentuknya, juga dipengaruhi secara genetik. Sebagian dari kita dilahirkan dengan gen yang memudahkan kita untuk belajar menyanyi dengan nada yang tepat, atau memasukkan bola ke dalam keranjang saat bermain basket, atau menyelesaikan persamaan kuadrat. Namun, bertentangan dengan intuisi, bakat tidak sepenuhnya bersifat genetik: kecepatan kita mengembangkan keterampilan apa pun juga, yang terpenting, merupakan fungsi dari pengalaman.
Jadi mana yang lebih penting, bakat atau usaha?
Duckworth menjelaskan bahwa bias kealamian membuat kita mengalihkan dari sesuatu yang sama penting, bahkan lebih penting dari bakat, yaitu usaha. Duckworth bahkan menilai, sepenting apa pun bakat, usaha bernilai dua kali lebih penting.
Karena kita selama ini memandang bakat lebih penting daripada usaha, maka pencapaian yang kita lakukan dinilai lebih rendah dari bakat kita. Duckworth menggambarkannya seperti ini:

Untuk menjelaskan betapa penting usaha dibandingkan bakat, Duckworth membuat dua persamaan seperti pada gambar berikut ini.

Bakat x Usaha = Keterampilan
Keterampilan x Usaha = Pencapaian
Untuk menjelaskan persamaan di atas, Duckworth menulis,
Bakat adalah seberapa cepat keterampilan Anda meningkat saat Anda mencurahkan usaha. Pencapaian adalah hasil yang tercipta ketika Anda memanfaatkan keterampilan yang telah Anda kuasai tersebut. Tentu saja, berbagai peluang—seperti memiliki pelatih atau guru yang hebat—juga sangat berpengaruh, bahkan mungkin lebih menentukan daripada faktor apa pun yang melekat pada diri individu itu sendiri. Teori saya tidak membahas faktor-faktor eksternal tersebut, ataupun memperhitungkan unsur keberuntungan. Teori ini berfokus pada psikologi pencapaian; namun, karena psikologi bukanlah satu-satunya faktor penentu, teori ini tidaklah lengkap.
Duckworth menambahkan,
Meski demikian, menurut saya teori ini tetap bermanfaat. Inti dari teori ini adalah bahwa ketika kita membandingkan individu-individu dalam situasi yang sama persis, pencapaian masing-masing orang hanya bergantung pada dua hal: bakat dan usaha. Bakat—yaitu seberapa cepat kita meningkatkan keterampilan—jelas sangatlah penting. Namun, faktor usaha berperan dua kali dalam perhitungan tersebut, bukan hanya sekali. Usaha membangun keterampilan. Pada saat yang sama, usaha juga membuat keterampilan tersebut jadi produktif.
Maka, mulailah berhenti memitoskan bakat alami dan hargai tinggi usaha. Bakat penting, tapi usaha dua kali lebih penting. Terus memitoskan bakat alami, menurut Duckworth, membuat kita lepas dari tanggung jawab: menghindar dari keharusan menghadapi tantangan yang kita hadapi, kesulitan yang kita temui. Memitoskan bakat alami membuat kita jadi berleha-leha, menunggu keajaiban datang dalam semalam, tanpa usaha terus menerus penuh keringat siang malam. Memitoskan bakat alami membuat kita ingin bertahan dengan apa yang ada, sehingga pencapaian jadi biasa-biasa saja.
Duckworth mengutip pernyataan filsuf Friedrich Nietzsche untuk tidak mengagungkan bakat dan mulai memandang penting usaha atau kerja keras.
Jangan bicara tentang bakat bawaan! Kita dapat menyebutkan orang-orang hebat dari semua jenis yang memiliki sedikit bakat. Mereka memperoleh kebesaran, menjadi ‘jenius’ (seperti yang kita sebutkan). . . . Mereka semua memiliki keseriusan seorang pekerja yang efisien yang pertama-tama belajar membangun bagian-bagian dengan benar sebelum mencoba membuat keseluruhan yang besar; mereka memberi diri mereka waktu untuk itu, karena mereka lebih senang membuat hal-hal kecil dan sekunder dengan baik daripada efek keseluruhan yang memukau.
