Do not step out of line, person in yellow sneakers breaking the rules and acting in an inappropriate or unacceptable way

Norma Injungtif dan Norma Deskriptif: Mengapa Orang Melanggar Aturan? 

Share this:

Interaksi antarmanusia dalam konteks sosial menghendaki perilaku orang-orang di dalamnya sejalan dengan norma sosial yang berlaku. Jika ada orang yang bertindak tidak sejalan dengan norma, disamping terlihat berbeda, juga membuat tidak nyaman orang-orang yang lain. Seperti yang saya alami pada suatu waktu di dalam bus Trans Jakarta dari halte Cikoko menuju Pancoran.

Di dalam bus, seorang pemuda berbaju merah dan bercelana tanggung mendekati para penumpang satu persatu, menawarkan sesuatu yang tidak jelas saya saksikan, seperti top up kartu e money atau semacamnya. Penumpang yang lain spontan memperhatikan bagaimana pemuda yang berkumis tipis seperti Zorro dengan rambut ikal yang tampak kurang rapi ini menawarkan barang dagangannya ke para penumpang. Ini pemandangan tidak biasa karena kebanyakan penumpang tahu kalau di moda transportasi umum dilarang berjualan atau menawarkan jasa apa pun.

Pada situasi di mana kebanyakan orang berperilaku sejalan dengan norma, seseorang yang berperilaku melanggar norma menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Di gerbong KRL, misalnya, kebanyakan orang tahu dan menjalankan norma yang berlaku bahwa gerbong paling depan dan paling belakang dikhususkan untuk wanita. Jadi, pada suatu waktu saat saya terburu-buru masuk kereta dan duduk di gerbong khusus wanita, dalam waktu yang tidak lama akan ada wanita yang mengingatkan saya kalau saya berada di tempat yang salah. Dengan tersipu-sipu saya pun bergeser jalan menuju gerbong sebelah.

Pada kesempatan lain, saat berada di pusat perbelanjaan dengan gedung ber-AC, ada seorang bapak beruban yang duduk di restoran sambil menghisap rokok, tidak butuh waktu lama sampai pramusaji mendekatinya dan meminta dengan sopan agar bapak tersebut mematikan rokoknya. Pada norma di mana kebanyakan orang mematuhinya, tindakan tidak patuh membuat pelakunya terkucil.

Namun, ada keadaan di mana norma yang berlaku tidak dijalankan. Dalam hal ini, ada perbedaan antara apa yang seharusnya dilakukan dengan yang sebenarnya dilakukan oleh kebanyakan orang. Kita mungkin pernah mendapati, ada tulisan ‘dilarang buang sampah di sini’ menyembul di atas tumpukan sampah. Ada tulisan ‘dilarang merokok’ yang hampir tertutup oleh kerumunan orang-orang yang sedang merokok. Saya pernah berada di sebuah stasiun kereta api di Jawa Tengah dan melihat di peron seberang ada banyak orang keluar dari gerbong kereta yang sedang berhenti sambil merokok di bawah tanda dilarang merokok. Berharap bisa berbuat sesuatu, saya bermaksud melaporkan kejadian ini ke petugas KAI yang ada di ruangan yang tidak jauh dari tempat saya duduk. Saya berjalan mendekati petugas dan begitu hendak sampai ke batang hidungnya saya putar balik mengurungkan niat. Apa pasal? Bapak petugas KAI tersebut sedang menghisap rokok!

Dalam psikologi sosial, norma yang kita ikuti terbagi dalam dua jenis. Ada norma yang seharusnya dilakukan dan ada norma yang dilakukan. Norma yang seharusnya dilakukan (‘ought’) disebut norma injungtif (injunctive norm) dan norma yang dilakukan (‘is’) disebut norma deskriptif (descriptive norm).

Pelopor kajian ini, Robert Cialdini dan koleganya, menulis,

Dalam konteks kelompok sosial tertentu, kita menyebut norma yang mencerminkan persepsi tentang apa yang dilakukan kebanyakan orang sebagai norma deskriptif (atau norma tentang “apa yang terjadi/dilakukan”), dan kita menyebut norma yang mencerminkan persepsi tentang apa yang disetujui atau tidak disetujui oleh kebanyakan orang sebagai norma injungtif (atau norma tentang “apa yang seharusnya dilakukan”). … 

Norma deskriptif memotivasi dengan memberikan bukti mengenai tindakan apa yang kemungkinan besar efektif dan adaptif: “Jika semua orang melakukan, memikirkan, atau meyakini hal itu, pastilah hal itu masuk akal untuk dilakukan, dipikirkan, atau diyakini.” Cialdini (1988) berpendapat bahwa anggapan semacam itu memberikan keuntungan dalam pemrosesan informasi serta jalan pintas pengambilan keputusan saat seseorang harus memilih cara berperilaku dalam situasi tertentu. Hanya dengan mengamati apa yang dilakukan kebanyakan orang di tempat tersebut dan meniru tindakan mereka, seseorang biasanya dapat membuat pilihan yang efisien dan tepat. … 

Berbeda dengan norma deskriptif, yang menetapkan apa yang sebenarnya dilakukan, norma injungtif menetapkan apa yang seharusnya dilakukan. Norma ini merupakan aturan moral dalam suatu kelompok. Norma semacam itu memotivasi tindakan dengan menjanjikan imbalan sosial dan hukuman (sanksi informal) atas tindakan tersebut. Jika norma deskriptif memberikan informasi mengenai perilaku, norma injungtif justru memerintahkan perilaku tersebut.

Jadi, pertanyaan mengapa orang melanggar aturan, salah satu penjelasannya adalah karena orang, alih-alih mengikuti norma injungtif, mereka mengikuti norma deskriptif: mereka mengikuti apa yang orang-orang lain lakukan.

Bahan Bacaan

​Cialdini, R. B., Reno, R. R., & Kallgren, C. A. (1990). A focus theory of normative conduct: Recycling the concept of norms to reduce littering in public places. Journal of Personality and Social Psychology, 58(6), 1015–1026. https://doi.org/10.1037/0022-3514.58.6.1015

Share this:

Similar Posts