Apakah Kita Benar-Benar Bebas Memilih Perilaku Kita?
Sebuah pengalaman sederhana di sebuah kamar penginapan membuat saya bertanya: seberapa jauh perilaku kita benar-benar berasal dari pilihan pribadi, dan seberapa besar orang lain serta situasi di sekitar kita ikut menentukannya?
Saya meyakini bahwa setiap orang pernah mengalami peristiwa yang membuat kita berpikir bahwa kita adalah makhluk yang adakalanya tidak benar-benar memilih perilaku kita sendiri. Meski kita merasa sebagai individu yang otonom, perilaku kita ditentukan oleh orang-orang dan situasi di sekitar kita. Bagi saya, salah satu peristiwa tersebut saya alami pada suatu malam yang seharusnya saya bisa tertidur pulas akibat mendarat di peraduan terlalu larut.
Malam itu tidak seperti biasa karena saya tidur bersama tiga rekan yang lain dalam satu kamar pada suatu acara gathering di suatu daerah yang berlokasi di tengah Jawa Barat. Rekan saya itu sebut saja Rekan 1, Rekan 2, dan Rekan 3. Rekan 1 dan Rekan 2 adalah dua orang yang biasa bangun pagi yang jika sholat shubuh selalu ada di barisan makmum paling depan, kalau tidak sebagai imam. Tahu akan reputasinya, malam itu saya mestinya tidak perlu menyalakan alarm adzan shubuh agar bisa terbangun. Mereka berdua pasti akan membangunkan kami. Namun agar tidak mengandalkan orang lain, saya menyalakan alarm tepat di jam muazin mengumandangkan adzan untuk sholat shubuh.
Malam itu kami cepat tidur selain karena malam sudah larut juga karena kami usai menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Jakarta. Namun, badan yang lelah tidak membuat Rekan 1 dan Rekan 2 susah bangun saat ada suara adzan yang terdengar nyaring memasuki relung kamar kami. Tepat kumandang azhan berhenti terdengar, dua rekan saya ini sudah meninggalkan jejak kakinya dari kamar kami. Saya yang baru bangun saat mendengar ujung adzan sayup sayup berakhir segera menjawab ya saat Rekan 2 mengajak sholat shubuh di masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap. Usai ke kamar kecil dan berwudhu, saya meninggalkan kamar sembari melihat Rekan 3 masih tertidur pulas. Saat saya berjalan menuju masjid, angin membawa udara yang dingin menerpa wajah saya yang basah. Rekan 1 dan Rekan 2 tidak dapat tergapai oleh tatapan saya meski saya melajukan kaki dengan bersicepat. Saat mata menatap langit yang gelap dan kerlip lampu-lampu di lembah, saya merasa tidak mendengar alunan adzan dari masjid yang lain usai adzan terakhir yang saya dengar menjelang terbangun tadi.
Sepanjang jalan, beberapa kali saya menatap jam di tangan saya yang setiap kali menatapnya membuat saya ragu dengan posisi jarum-jarumnya. Apakah jam saya mati, atau baterai lemah, sehingga saat adzan shubuh sudah berkumandang beberapa menit lalu namun masih menunjuk pukul 03.10? Saya beberapa kali mengayun-ayunkan tangan kiri saya, merasa ada yang salah dengan jam tangan saya. Dan mengapa handphone yang saya tinggalkan di kamar tidak menjalankan fungsinya membangunkan saya dengan bunyi alarm yang mestinya berbarengan dengan suara adzan.
Sesampai di masjid, saya menyaksikan lampu-lampu di dalam masjid masih gelap dan samar-samar melihat dua rekan saya sedang menjalankan sholat. Tidak ada seorang pun yang saya lihat di dalam masjid maupun pelatarannya selain dua rekan saya ini. Tidak ada muazin atau jamaah lain yang menunggu iqomah.
Saya berjalan memasuki masjid dan duduk tak jauh dari mihrob di samping Rekan 2 yang baru selesai sholat dan bertanya, apa benar ini sudah shubuh, karena jam di tangan saya menunjuk pukul 3 lewat. Rekan 2 yang semula sama ragunya dengan saya akhirnya meyadari dan membenarkan petunjuk waktu di jam saya. Betul, waktu masih menjelang setengah 4, katanya. Sementara itu, Rekan 1 masih menjalankan sholat tahiyatul masjid dan qobliyah shubuh.
Menyadari ternyata belum waktunya sholat shubuh, Rekan 2 mengajak sholat tahajud sambil menunggu waktu shubuh yang akan masuk sekitar satu jam lebih. Saya mengiyakan untuk sholatnya, tapi tidak mengiyakan untuk menunggu waktu shubuh. Jelang jam 4 saya kembali ke tempat kami menginap untuk tidur lagi karena masih cukup waktu untuk istirahat sebelum adzan subuh benar-benar berkumandang. Saya terbangun oleh alarm di handphone saya yang berbunyi pas waktu masjid-masjid bersahut-sahutan mengumandangkan azhan shubuh.
Ternyata kami bertiga terbangun di pagi hari karena ada masjid yang begitu lantang mengumandangkan adzan sebelum waktu shubuh tiba. Orang-orang biasa menyebutnya adzan pertama. Sementara, saat kami berkumpul jelang sarapan pagi, Rekan 3 bercerita kalau pagi itu dia sempat terjaga dan terheran-heran karena pada waktu yang masih terlalu pagi tiga orang rekannya bergegas-gegas keluar kamar entah mau kemana.
Situasi itu sesuatu. Terjemahan bahasa Indonesia yang terdengar liris dari buku karya Sam Sommers, Situations Matter. “Untuk memahami hakikat manusia,” tulis Sommers, “Anda harus mengapresiasi kekuatan situasi“
