Word Name made with colorful letters

Apa Arti Sebuah Nama Jika Tidak Punya Arti: Kisah Kecil tentang Nama

Share this:

Perkenankan saya berbagi kisah kecil tentang nama.

  1. Saat berada di sekolah menengah atas, teman-teman memanggil saya dengan singkatan nama saya, ABF. Panggilan menggunakan inisial ini digunakan teman-teman saya jauh sebelum nama tokoh politik populer menggunakan inisial, misalnya Pak SBY dan Pak JK. Namun, demi keakraban teman-teman kerap memanggil saya dengan menyingkat menjadi BF. Mereka semua sangat paham bahwa itu merujuk pada jenis film dewasa.
  2. Saat sekolah, nama yang berawalan huruf A berarti keharusan untuk maju lebih dulu dan tidak memberi toleransi untuk persiapan. Saat ujian sekolah, presensi pertama berarti membaca puisi lebih dulu, presentasi lebih dulu, praktek ibadah lebih dulu, lari lebih dulu. Sejak SD sampai SMA, urutan presensi di kelas lebih sering di urutan pertama, bukan hanya karena nama saya berawalan huruf A tapi juga karena huruf keduanya huruf B. Saya bersyukur karena saat SMA pernah berada di urutan kedua karena ada teman sekelas yang bernama Abdul Aziz.
  3. Karena kata dalam nama saya bisa dimaknai sebagai kata kerja, beberapa orang berandai-andai bahwa seharusnya urutan nama saya dibalik, bukan Abu Bakar Fahmi, tapi Fahmi Bakar Abu: Fahmi dibakar jadi abu. Karena nama yang mengandung kata kerja ini saya kerap meminta orang-orang untuk tidak memanggil saya dengan nama tengah, Bakar, apalagi dengan suara lantang. Kalau ada mahasiswa yang memanggil nama tengah saya dengan suara lantang, BAKAARRR!!! dikira mereka sedang demonstrasi dan mengajak bertindak anarkis. Untungnya tidak ada mahasiswa yang berani melakukannya.
  4. Suatu ketika saya pernah memesan mobil online dari Stasiun Bogor ke suatu tempat di Puncak, Bogor untuk suatu acara kampus. Saya sudah memesan dan mendapat seorang driver tetapi pak driver cukup lama datang untuk menjemput saya. Setelah saya berada dalam mobilnya, pak driver bercerita kalau mulanya ia ragu-ragu untuk mengambil orderan karena melihat nama saya. Dari nama yang tertera, Pak driver mengira saya orang Arab yang akan berlibur ke Puncak. Ia bercerita kalau pernah mendapat penumpang orang Arab yang minta mengantarnya ke Puncak. Namun, sesampai di tempat tujuan, penumpang tersebut entah bagaimana tidak mau membayar ongkos perjalanan. (Kepada rekan-rekan dari keturunan Arab, mohon maaf ini tidak bermaksud stereotipe).
  5. Beberapa waktu lalu, saat hendak pulang kerja, saya memesan ojek online ke stasiun. Nama pak drivernya Sayyidina Ali. Usai diantar ke tempat tujuan saya mengucapkan terima kasih dan alhamdulillah Abu Bakar bisa bertemu dengan sahabatnya, Sayyidina Ali, kata saya. Dan pak driver hanya membalas hehe sambil senyum-senyum di balik helmnya.
Share this:

Similar Posts