Mengapa Sesuatu yang Mulanya Dipandang Menarik Berubah Jadi Biasa-biasa Saja?
Pertanyaan sebaliknya bisa dikemukakan, mengapa sesuatu yang mulanya kita anggap sebagai penderitaan, seiring waktu jadi biasa-biasa saja?
Pekerjaan impian yang kita jalani seiring waktu menjadi pekerjaan yang biasa-biasa saja. Rumah idaman yang kita miliki seiring waktu jadi rumah biasa saja. Mobil mewah di garasi rumah seiring waktu jadi mobil biasa saja. Smartphone mahal yang kita beli beberapa waktu lalu, yang mulanya kita takjub dengan teknologi tinggi dan tampilan yang elegan, kini terasa biasa-biasa saja. Tujuan wisata yang sudah sekian lama kita harapkan akan ke sana, seiring waktu jadi tujuan wisata yang biasa saja. Penelitian melaporkan bahwa orang bahkan merasa bahwa liburan yang semula dipandang menakjubkan jadi biasa-biasa saja dalam waktu 43 jam setelah tiba di lokasi.
Rumah orangtua saya yang berada di gang mungil bersisian dengan kamar tidur, dinilai istri saya tidak nyaman karena banyak lalu lalang motor yang menderu setiap hari. Saya yang sudah sejak kecil menempati rumah tersebut merasa bahwa lalu lalang motor tidak terasa mengganggu. Naik kereta rel listrik di Jakarta semula mungkin dinilai tidak nyaman bagi penumpang karena harus berdesak-desakan di dalam kereta. Seiring waktu ketidaknyamanan di dalam kereta karena penumpang yang selalu penuh jadi keadaan yang biasa.
Mengapa bisa demikian?
“Kita mengalami habituasi, yang berarti kita semakin kurang merespons rangsangan yang berulang. Itu adalah sifat manusia,” demikan menurut Tali Sharot dan Cass R. Sunstein dalam buku mereka berjudul Look Again: The Power of Noticing What was Always There. “Bahkan hal-hal yang dulunya Anda anggap menggembirakan (hubungan, pekerjaan, lagu, karya seni) kehilangan daya tariknya setelah beberapa waktu,” imbuh mereka.

Sharot dan Sunstein menjelaskan bahwa habituasi sangat penting untuk kelangsungan hidup. Habituasi membantu manusia beradaptasi secara cepat terhadap lingkungan sekitar. Mereka menulis,
Otak Anda tampaknya telah mengembangkan mekanisme yang berbeda, dari yang melibatkan satu sel hingga yang melibatkan sistem saraf yang lebih kompleks, yang mematuhi prinsip utama yang sama. Prinsipnya sederhana: ketika sesuatu yang mengejutkan atau tidak terduga terjadi, otak Anda akan merespons dengan kuat. Tetapi ketika semuanya dapat diprediksi, otak Anda akan merespons lebih sedikit, dan terkadang tidak sama sekali. Seperti halaman depan surat kabar harian, otak Anda peduli dengan apa yang baru saja berubah, bukan tentang apa yang tetap sama. Ini karena untuk bertahan hidup, otak Anda harus memprioritaskan apa yang baru dan berbeda: bau asap yang tiba-tiba, seekor singa ganas yang berlari ke arah Anda, atau calon pasangan yang menarik yang lewat.
Habituasi akan menjadi masalah jika kita menjadi terbiasa dengan keadaan yang buruk. Keadaan yang buruk yang seharusnya dipandang bermasalah menjadi biasa dan kita memandangnya sebagai sesuatu yang lumrah. Sharot dan Sunstein menjelaskan,
Ketika kita terbiasa dengan hal-hal buruk, kita menjadi kurang termotivasi untuk berjuang demi perubahan. Mimpi buruk hari Selasa yang berubah menjadi dengkuran hari Minggu menjadi tantangan serius untuk melawan kebodohan, kekejaman, penderitaan, pemborosan, korupsi, diskriminasi, informasi yang salah, dan tirani. Kebiasaan terhadap hal-hal buruk dapat menyebabkan kita mengambil risiko keuangan yang sembrono, gagal memperhatikan perubahan bertahap dalam perilaku anak-anak kita yang seharusnya menimbulkan kekhawatiran, membiarkan retakan kecil dalam hubungan romantis kita semakin membesar, dan berhenti merasa terganggu oleh kebodohan atau ketidakefisienan di tempat kerja.
Habituasi digambarkan dengan baik oleh sebuah eksperimen yang dilakukan seorang dokter Swiss bernama Ignaz Paul Vital Troxler pada tahun 1804 saat ia sedang mempelajari penglihatan. Ia memperhatikan bahwa jika ia memfokuskan matanya pada sebuah gambar cukup lama pada jarak dekat, gambar itu tampak menghilang. Pada gambar di bawah ini, fokuskan mata Anda pada tanda plus hitam tanpa mengalihkan pandangan selama sekitar tiga puluh detik. Beberapa saat kemudian, awan berwarna-warni di sekitarnya akan segera menghilang dan berubah jadi abu-abu. Silakan Anda coba sendiri.

Bagaimana agar habituasi tidak merugikan diri kita? Kita perlu melawan habituasi dengan melakukan hal yang sebaliknya, yaitu dishabituasi. Kita kembali mengagumi kembali sesuatu yang semula kita kagumi namun mereda seiring waktu. Terhadap hal buruk yang kita sudah anggap biasa seiring waktu, kita mulai memperhatikan kembali dengan sadar bahwa itu adalah hal buruk. Look again!
Dishabituasi terhadap keadaan yang sudah dipandang biasa membuat kita bisa kembali melihat hidup di sekitar kita, dari yang semula abu-abu yang monoton, menjadi hidup yang lebih berwarna.
