An image of a road sign arrow old life - new life

Seperti Apa Hidup yang Baik Menurut Ilmu Psikologi?

Share this:

Jika kita bertanya kepada sepuluh orang mengenai seperti apa hidup yang baik, mungkin akan ada sebelas, atau lebih, jawaban yang berbeda.

Hidup yang baik itu hidup yang berguna bagi orang lain; Hidup yang baik adalah hidup yang dikelilingi orang tercinta yang mendukungnya; Hidup yang baik adalah hidup yang sehat jasmani dan rohani; Hidup yang baik adalah hidup yang serba pas-pasan: pas ada kebutuhan, pas ada uangnya; dan sebagainya. Untungnya, ilmu psikologi membantu kita menyederhanakan jawaban-jawaban yang berbeda mengenai hidup yang baik, setidaknya sampai saat ini, pada tiga jenis saja.

Ilmuwan psikologi mendefinisikan kehidupan yang baik sebagai “kehidupan yang dijalani dengan baik dari perspektif orang yang menjalaninya, bukan dari perspektif objektif semata.” Studi psikologi mengenai hidup yang baik bermula dari pandangan bahwa hidup yang baik adalah 1) hidup yang bahagia, 2) hidup yang bermakna, dan, yang terbaru, 3) hidup yang kaya secara psikologis.

Tiga dimensi hidup yang baik. Sumber: four thousand mondays

1. Hidup yang Bahagia

Mula-mula ilmu psikologi memandang hidup yang baik adalah hidup yang bahagia. Seseorang dipandang hidup bahagia dilihat dari seberapa tinggi kepuasan hidupnya dan seberapa banyak mengalami emosi positif dibandingkan emosi positif. Orang dipandang memiliki hidup yang baik jika ia menyukai hidupnya. Ilmuwan psikologi yang mengkaji hidup yang baik dengan pengukuran ini menggunakan pendekatan yang bersifat hedonik dalam memandang hidup. Salah satu ilmuwan yang paling depan dalam mengkaji pendekatan ini adalah Ed Diener dengan konsepnya mengenai subjective well-being. Ilmuwan yang lain misalnya Daniel Kahneman, Dan Gilbert, dan Sonja Lyubomirsky.

Untuk mengukur seberapa baik hidup Anda, nilailah diri Anda dengan merespon 5 item kepuasan hidup berikut ini menggunakan skala 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju).

  1. Dalam hampir semua aspek kehidupan saya, saat ini saya merasa bahwa kehidupan saya telah mencapai apa yang saya anggap ideal.
  2. Kondisi kehidupan saya dalam keadaan yang sangat baik.
  3. Saya merasa puas dengan kehidupan saya.
  4. Sejauh ini, saya telah memperoleh hal-hal penting yang saya inginkan dalam hidup saya.
  5. Jika saya dapat mengulangi kehidupan ini, saya hampir tidak akan mengubah apa pun dalam hidup saya.

Semakin tinggi skor Anda maka semakin puas hidup Anda yang berarti kehidupan Anda mengarah pada kehidupan yang baik.

Bagaimana orang bisa bahagia? Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bahagia dapat diperoleh melalui kekayaan materi dan kekayaan relasi. Kekayaan materi berarti kondisi ekonomi yang stabil: berada dalam status sesoal ekonomi yang tinggi dan punya uang bisa membuat orang bahagia. Kekayaan relasi berarti memiliki hubungan interpersonal yang baik: kepuasan pernikahan dan punya interaksi yang baik dengan teman dan tetangga bisa membuat kita bahagia. Selain itu mindset hidup yang positif seperti bersyukur, merasa cukup, dan optimis membuat orang lebih bahagia.

2. Hidup yang Bermakna

Namun, kehidupan yang bahagia tidak sepenuhnya menggambarkan apa artinya menjalani kehidupan yang baik. Selain sumber kebahagiaan di atas, ada sumber kebahagiaan lain yang berkaitan dengan bagaimana seseorang menjalani kehidupan yang baik dan berarti bagi orang lain. Orang-orang yang bahagia cenderung prososial dan memberikan banyak kontribusi kepada masyarakat melalui, misalnya, donasi dan sukarelawan. Dalam hal ni, kehidupan yang bahagia berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai puas bukan pada hidupnya tetapi pada diri: bagaimana ia menjadi dirinya. Dengan demikian, hidup yang baik adalah sejauh mana orang menjalani hidup yang bermakna.

Pendekatan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bermakna disebut dengan pendekatan eudaimonik. ilmuwan psikologi yang mempelopori antara lain Carol Ryff yang menyajikan model alternatif kehidupan yang baik yang berfokus pada otonomi, penerimaan diri, tujuan hidup, hubungan positif, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan pribadi. Konsepnya dikenal dengan psychological well-being. Tokoh lain yang menganut pendekatan ini adalah Ed Deci dan Richard Ryan yang mengembangkan teori determinasi-diri (self-determination theory).

Dalam kehidupan sehari-hari, hidup yang bahagia dan hidup yang bermakna bisa berjalan beriringan, namun tidak selalu demikian. Kita dapat menjalani hidup yang bahagia sekaligus bermakna, misalnya menjadi guru sebagai panggilan hidup bermakna membuat seseorang bahagia meski jauh dari kemewahan. Bagi guru tersebut, mengajar di kelas menjadi aktivitas bermakna sekaligus membahagiakan. Menonton banyak film bagus di Netflix mungkin membuat kita bahagia namun kurang bermakna. Sementara meluangkan waktu dan tenaga untuk aktivitas sosial di tempat bencana sebagai relawan membuat kita merasa hidup penuh makna namun mungkin dapat menguras emosi akibat banyak masalah yang dihadapi korban bencana.

3. Hidup yang Kaya Secara Psikologis

Namun demikian ada dimensi dalam hidup yang baik yang belum dicapai oleh dua pendekatan hedonik dan eudaimonik ini. Banyak orang berusaha memaksimalkan kebahagiaan. Banyak juga yang berusaha memaksimalkan makna hidup. Namun ada orang-orang yang juga berusaha mencapai aspek kehidupan lain di luar kebahagiaan dan makna, yaitu hidup yang kaya atau hidup yang penuh variasi. Dalam hal ini kita merasa penting menjalani hidup dengan pengalaman baru, tempat baru, orang baru, dan perspektif baru, sehingga tercipta keragaman dalam apa yang kita lihat dan lakukan.

Dimensi hidup yang kaya secara psikologis bisa menjawab mengapa orang mau menonton film sedih, mengapa orang mau berpetualang, mengapa orang mau membaca literatur klasik, mengapa orang mau belajar keahlian tertentu meskipun rumit dan penuh tantangan.

Ilmuwan psikologi yang memandang penting dimensi hidup yang bervariasi ini adalah murid Ed Diener yang bernama Shigehiro Oishi. Ia menyebut konsepnya sebagai hidup yang kaya secara psikologis (psychologically rich life). dalam bukunya Life in Three Dimensions, Oishi menulis,

Kekayaan psikologis berbeda dari kebahagiaan dan makna dalam arti bahwa kekayaan psikologis bukanlah tentang perasaan keseluruhan tentang ke mana arah hidup atau apa tujuan hidup Anda, tetapi tentang pengalaman, atau lebih tepatnya akumulasi pengalaman dari waktu ke waktu. Sama seperti kekayaan materi dapat diukur dengan uang—semakin banyak uang yang Anda miliki, semakin kaya Anda secara materi—kekayaan psikologis dapat diukur dengan pengalaman. Semakin banyak pengalaman dan cerita menarik yang Anda miliki, semakin kaya Anda secara psikologis. Sama seperti Anda dapat mengumpulkan kekayaan dan menjadi kaya secara materi, Anda dapat mengumpulkan pengalaman dan menjadi kaya secara psikologis. 

Hidup yang kaya secara psikologis memiliki fitur, faktor pendorong, dan hasil akhir yang berbeda secara khas dibandingkan dengan hidup yang bahagia dan hidup yang bermakna. Oishi menjelaskan perbedaannya sebagai berikut,

Kami berteori bahwa kehidupan yang kaya secara psikologis ditandai dengan keragaman, hal-hal menarik, dan perubahan perspektif; sebaliknya, kehidupan yang bahagia ditandai dengan kenyamanan, kegembiraan, dan stabilitas, dan kehidupan yang bermakna ditandai dengan tujuan, signifikansi, dan koherensi. Dengan demikian, kami memprediksi bahwa sumber daya yang berbeda akan secara berbeda memfasilitasi kebahagiaan, makna, dan kekayaan psikologis. Misalnya, kami berhipotesis bahwa rasa ingin tahu, spontanitas, dan energi akan memfasilitasi kehidupan yang kaya secara psikologis; prinsip moral yang kuat dan religiusitas akan memfasilitasi kehidupan yang bermakna; dan hubungan yang stabil, waktu, uang, dan pola pikir positif akan memfasilitasi kehidupan yang bahagia. Akhirnya, kami memprediksi bahwa ketiga aspek kehidupan yang baik ini pada akhirnya berkontribusi pada hasil kehidupan yang berbeda—sementara kebahagiaan mengarah pada kepuasan pribadi, dan makna pada kontribusi masyarakat, kekayaan psikologis mengarah pada kebijaksanaan.

Perbedaan tiga dimensi hidup yang baik (Oishi & Westgate, 2021)

Bagaimana tiga jenis hidup yang baik ini ada pada seseorang?

Oishi berpandangan bahwa meskipun kehidupan beberapa orang mungkin lebih unggul dalam satu dimensi dibandingkan yang lain, kebahagiaan, makna, dan kekayaan mewakili tiga komponen atau dimensi kehidupan yang baik, bukan jenis kehidupan yang berdiri sendiri, secara tegas. “Mungkin saja beberapa orang yang beruntung menjalani kehidupan yang unggul dalam ketiga dimensi tersebut (misalnya, kehidupan yang bahagia, bermakna, dan kaya secara psikologis), sementara yang lain mungkin unggul hanya dalam dua dimensi (misalnya, kehidupan yang bermakna dan bahagia, tetapi tidak kaya secara psikologis), dan yang lain unggul hanya dalam satu dimensi (atau tidak sama sekali).”

Share this:

Similar Posts