Berpikir Kontrafaktual: Mengapa Kita Kerap Mengandaikan Peristiwa yang Berlawanan dari yang Dialami?
Dalam kehidupan sehari-hari kita kerap mengandaikan peristiwa yang berlawanan dengan yang kita alami. Kita berpikir “Seandainya…”, seperti contoh berikut ini.
- “Seandainya saya belajar lebih giat semester kemarin, Indeks Prestasi (IP) yang saya peroleh mungkin tidak sejelek ini.” Kata mahasiswa yang mendapat IP buruk di semester lalu.
- “Seandainya kita berangkat lebih awal ke bandara, mungkin kita tidak ketinggalan pesawat.” Perbincangan dua orang yang terlambat sampai bandara karena kemacetan yang mereka alami di perjalanan menuju bandara.
- “Seandainya saya tidak menyebut besaran gaji yang terlalu tinggi saat wawancara kerja kemarin, mungkin saya lolos ke tahap seleksi berikutnya.” Kata sarjana yang baru lulus kuliah merenungi hasil seleksi kerja yang berlawanan dengan yang diharapkan.
Dalam psikologi, cara berpikir “Seandainya…” seperti tiga contoh di atas disebut berpikir kontrafaktual (counterfactual thinking). Neal J. Roese dari Northwestern University menulis artikel mengenai berpikir kontrafaktual di Psychological Bulletin dan menjelaskan berpikir kontrafaktual sebagai berikut.
Counterfactuals are mental representations of alternatives to the past and produce consequences that are both beneficial and aversive to the individual.
Kontrafaktual adalah representasi mental mengenai alternatif dari masa lalu yang menghasilkan konsekuensi yang bermanfaat sekaligus tidak menyenangkan bagi individu.
Secara literal, kontrafaktual berarti berlawanan dengan fakta. “Berpikir kontrafaktual tidak merujuk pada prospek masa depan,” tulis Roese, “melainkan hanya pada penyangkalan terhadap fakta yang sudah mapan.” Jadi berpikir kontrafaktual tidak menjelaskan semua harapan yang kita pikirkan di masa depan, melainkan hanya berkaitan dengan pikiran yang menyangkal atau berlawanan dengan fakta yang sudah terjadi.
Dua jenis berpikir kontrafaktual
Para peneliti membedakan antara dua jenis utama kontrafaktual sebagai berikut.
- Kontrafaktual ke atas (upward counterfactuals), yaitu pemikiran tentang bagaimana suatu situasi mungkin akan berakhir lebih baik. Misalnya, seorang pengemudi yang menyebabkan kecelakaan mobil ringan mungkin berpikir: “Seandainya saya menghindar lebih cepat, kecelakaan itu mungkin tidak terjadi.”
- Kontrafaktual ke bawah (downward counterfactuals), yaitu pemikiran tentang bagaimana bagaimana suatu situasi mungkin akan berakhir lebih buruk. Pengemudi yang sama mungkin berpikir: “Seandainya saya mengemudi lebih cepat, saya mungkin sekarang sudah mati.”
Dari dua jenis kontrafaktual tersebut, jenis kontrafaktual ke atas, mengandaikan peristiwa yang dialami dengan peristiwa yang lebih baik, tampaknya paling umum dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Sebab dan Alasan Orang Berpikir Kontrafaktual?
Setidaknya ada tiga sebab orang berpikir kontrafaktual.
- Emosi negatif atau situasi yang bermasalah. Ketika seseorang merasa tidak enak akibat hasil yang negatif, mereka sering kali merenungkan bagaimana hasil tersebut sebenarnya bisa dihindari. Dengan demikian, pemikiran kontrafaktual lebih sering muncul setelah kekalahan dibandingkan kemenangan, kegagalan dibandingkan keberhasilan, serta hukuman dibandingkan penghargaan. Pada contoh pertama di atas, mahasiswa tersebut cenderung akan berpikir kontrafaktual karena mengalami peristiwa kegagalan akibat mendapat nilai buruk di semester lalu.
- Pemikiran kontrafaktual lebih mungkin muncul setelah peristiwa “hampir terjadi” (near miss), karena ketika sesuatu hampir saja terjadi, hal itu seolah memancing spekulasi mengenai berbagai kemungkinan alternatif. Sebagai contoh, ketinggalan pesawat pada contoh nomor dua di atas akan menerbitkan pemikiran kontrafaktual jika tertinggal pesawat dengan selisih waktu dua menit dibandingkan jika selisih waktunya dua jam.
- Orang berpikir Kontrafaktual ketika dikejutkan oleh suatu hasil—misalnya saat hasil tak terduga bertentangan dengan apa yang sebelumnya mereka asumsikan akan terjadi—sehingga hal ini menarik perhatian dan memicu perenungan mengenai mengapa hasil tersebut bisa terjadi. Seperti contoh nomor tiga di atas, kita cenderung berpikir kontrafaktual jika hasilnya berlawanan dengan yang dia harapkan. Berharap lolos seleksi kerja, setelah beberapa tahap sudah dilalui, tapi ternyata gagal.
Ada alasan kuat mengapa ketiga sebab tersebut (perasaan negatif, peristiwa “hampir terjadi”, dan hasil tak terduga) memicu pemikiran kontrafaktual. Hal ini dikarenakan dalam situasi-situasi tersebut, pemikiran kontrafaktual dapat bermanfaat sebagai panduan bagi perilaku di masa mendatang.
Apa konsekuensi Berpikir Kontrafaktual?
Dalam buku ensiklopedia psikologi sosial, Florian Fessel dan Neal J. Roese menjelaskan beberapa konsekuensi orang berpikir kontrafaktual sebagai berikut.
- Penalaran yang keliru. Kecenderungan untuk berpikir kontrafaktual membuat orang keliru dalam menalar. Kita jadi tidak akurat dalam menilai sebab suatu peristiwa karena menggunakan pikiran kontrafaktual ini. Misalnya, mendapat nilai buruk semester ini membuat mahasiswa berpikir kontrafaktual, seandainya saya belajar lebih giat nilai saya tidak sejelek ini. Namun, nilai mata kuliah tidak hanya disebabkan oleh faktor belajar yang giat. Ada faktor lain yang seharusnya dipertimbangkan, misalnya kemampuan dalam bekerja sama dalam kelompok, kemampuan presentasi, dan kemampuan dalam menuliskan laporan tugas perkuliahan.
- Memunculkan rasa menyesal (regret). Karena berpikir kontrafaktual lebih banyak berjenis kontrafaktual ke atas, kita cenderung merasa menyesal karena mengandaikan hasil sebaliknya yang lebih baik.
- Berpikir kontrafaktual memunculkan konsekuensi positif bahwa kita dapat mengendalikan peristiwa yang bakal terjadi. Ketika orang percaya bahwa suatu hasil akan mungkin terjadi jika mereka bertindak dengan cara tertentu, peristiwa tampak lebih berada di bawah kendali pribadi mereka.
- Efek positif lain dari pemikiran ini adalah mampu mendorong orang untuk berpikir lebih mendalam dan lebih kreatif. Pemikiran ini membuat orang berpikir menjelajah, memikirkan sesuatu yang belum pernah terpikir sebelumnya.
Pikiran “seandainya” ini juga berdekatan dengan hindsight bias, yakni kecenderungan melihat suatu peristiwa setelah terjadi seolah-olah hasilnya sudah jelas sejak awal. Bedanya, counterfactual thinking membayangkan apa yang bisa terjadi jika masa lalu berjalan berbeda, sedangkan hindsight bias membuat kita merasa bahwa hasil yang terjadi sebenarnya sudah dapat diprediksi.
Mungkin itu sebabnya pikiran kontrafaktual sering terasa begitu kuat setelah kegagalan. Pikiran kita memang cenderung memberi perhatian lebih besar pada pengalaman negatif yang disebut dengan bias negativitas.
Bahan Bacaan
Roese, N. J. (1997). Counterfactual thinking. Psychological Bulletin, 121(1), 133–148.
Summerville, A., & Roese, N. J. (2007). Counterfactual thinking. In R. F. Baumeister & K. D. Vohs (Eds.), Encyclopedia of social psychology (pp. 196–198). Sage Publications.
