Planning Fallacy: Mengapa Kita Kerap Keliru dalam Merencanakan Sesuatu?
Pernahkan Anda, mahasiswa, merencanakan akan menyelesaikan tugas mata kuliah pada waktu tertentu namun ternyata tugasnya selesai dikerjakan dalam waktu yang lebih lama, meleset dari yang Anda rencanakan? Pernahkan Anda, bapak-bapak, merencanakan proyek renovasi rumah atau semacamnya, namun selesai lebih lama dan biaya yang dihabiskan lebih banyak dari yang Anda rencanakan? Pernahkan Anda mendengar kabar mengenai proyek publik (membangun jalan, jembatan, taman) yang dijanjikan akan selesai dalam waktu tertentu namun lebih lama dari yang dijanjikan?
Fenomena tersebut disebut kesalahan perencanaan (planning fallacy) dan itu adalah fenomena yang umum dialami oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, apa itu kesalahan perencanaan?
Dalam artikelnya, Roger Buehler dan koleganya menjelaskan definisi kesalahan Perencanaan sebagai berikut:
The planning fallacy refers to a prediction phenomenon, all too familiar to many, wherein people underestimate the time it will take to complete a future task, despite knowledge that previous tasks have generally taken longer than planned.
Kesalahan perencanaan mengacu pada fenomena prediksi, yang sangat familiar bagi banyak orang, di mana orang meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas di masa mendatang, meskipun mengetahui bahwa tugas-tugas sebelumnya umumnya membutuhkan waktu lebih lama daripada yang direncanakan.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan ke dalam literatur psikologi oleh ilmuwan psikologi sosial Daniel Kahneman dan Amos Tversky pada tahun 1979 untuk menggambarkan kecenderungan orang untuk meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proyek, bahkan ketika mereka memiliki pengalaman kegagalan di masa lalu dalam memenuhi jadwal yang direncanakan.
Apa faktor yang membuat orang salah merencanakan?
Setidaknya ada dua faktor yang membuat orang salah merencanakan.
1. Faktor kognitif
Roger Buehler dalam buku ensiklopedia Psikologi Sosial menjelaskan,
Mengapa orang berulang kali meremehkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas mereka? Menurut penjelasan kognitif, bias tersebut berasal dari jenis informasi yang dipertimbangkan orang. Saat membuat prediksi penyelesaian tugas, kecenderungan alami orang adalah merencanakan langkah-langkah spesifik yang akan mereka ambil untuk menyelesaikan proyek dengan sukses. Masalahnya dengan pendekatan ini adalah bahwa peristiwa biasanya tidak terjadi persis seperti yang direncanakan. Mengingat banyaknya potensi hambatan, ada kemungkinan besar orang akan menghadapi masalah, penundaan, dan gangguan yang tidak terduga. Ketika orang hanya fokus pada rencana untuk penyelesaian tugas yang sukses, mereka mengabaikan sumber informasi lain—seperti waktu penyelesaian sebelumnya, prioritas yang bersaing, dan faktor-faktor yang dapat menunda kemajuan mereka—yang dapat menghasilkan prediksi yang lebih realistis.
2. Faktor motivasional
Roger Buehler menjelaskan,
Motivasi juga dapat berperan, dengan memandu pendekatan kognitif yang diambil orang. Misalnya, keinginan kuat untuk menyelesaikan tugas lebih awal dapat meningkatkan fokus orang pada rencana masa depan dan mengurangi fokus mereka pada pengalaman masa lalu, sehingga menghasilkan prediksi yang sangat optimis.
Bahan Bacaan
Buehler, R., Griffin, D., & Peetz, J. (2010). The planning fallacy: Cognitive, motivational, and social origins. In M. P. Zanna (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 43, pp. 1–62). Academic Press.
Buehler, R. (2007). Planning fallacy. In R. F. Baumeister and K. D. Vohs (Eds.), Encyclopedia of social psychology. SAGE Publications.
