Concept of social media communication and digital online, people use smartphone playing with icon online social media, online marketing, technology, chat, post, like, follow at phone screen

Menggunakan Media Sosial Membuat Kita Bahagia, atau Sebaliknya? Ini Kata Neurosaintis

Share this:

Bagaimana pandangan Tali Sharot, neurosaintis dari MIT, mengenai media sosial? Berikut ini beberapa pandangannya yang saya kutip dari bukunya Look Again: The Power of Noticing What was Always There.

1. Media sosial seperti mesin pembersih karang gigi yang nyangkut di mulutmu!

Tali Sharot mengumpamakan media sosial seperti mesin pembersih karang gigi (electronic dental scaler) yang nyangkut di mulutmu. Tidak mungkin memang. Ini hanya umpama. Saat kita periksa gigi, sekali dinyalakan, kita tidak nyaman mendengarkan dengungannya. Karena mesinnya ada di mulut kita, ia berdengung setiap hari. Karena setiap hari kita mendengar dengungannya, kita jadi terbiasa dan hampir tidak memerhatikan lagi dengungannya.

Suatu hari mesin yang sudah lama berdiam di mulut kita itu diambil. Kita terkejut. Betapa hidup jadi lebih baik tanpa mendengar dengungan mesin tersebut. Sharot menulis,

Satu-satunya cara untuk menilai dampak faktor-faktor konstan dalam hidup Anda yang mungkin membahayakan Anda adalah dengan beristirahat dari faktor-faktor tersebut. Ini akan memungkinkan Anda untuk melepaskan diri dari kebiasaan dan menilai faktor-faktor tersebut dengan sudut pandang yang segar.

Media sosial adalah contoh utama dari faktor tersebut. Bagi sebagian dari kita, media sosial seperti alat pembersih gigi yang terus-menerus berdengung dan menempel di mulut kita. Anda mungkin curiga bahwa media sosial mengganggu hari-hari Anda, tetapi Anda tidak tahu apakah dan sejauh mana hal itu terjadi karena kehadirannya yang terus-menerus.

Mungkin kita perlu beristirahat beberapa dari menggunakan media sosial untuk dapat tahu apakah hari-hari tanpa media sosial jadi lebih baik atau tidak.

2. Berhenti menggunakan media sosial, setidaknya untuk sementara, membuatmu lebih bahagia!

Sharot mengutip hasil penelitian dari ekonom Hunt Allcott dan rekan penulisnya yang melibatkan 2.884 pengguna media sosial untuk menguji apakah detoksifikasi media sosial membuat orang lebih bahagia. Mereka menawarkan uang sebagai imbalan kepada pengguna untuk menonaktifkan akun mereka selama sebulan. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok. “Kelompok perlakuan” menonaktifkan akun mereka selama sebulan; “kelompok kontrol” tidak. Semua partisipan ditanya seberapa bahagia mereka sebelum, selama, dan setelah penonaktifan (atau tanpa penonaktifan). Mereka juga ditanya seberapa puas mereka dengan kehidupan mereka. Sharot menulis,

Di setiap aspek, mereka yang menonaktifkan akun mereka ternyata lebih menikmati hidup. Kelompok yang tidak menggunakan media sosial mengatakan bahwa mereka lebih bahagia dan lebih puas dengan hidup mereka. Mereka cenderung lebih jarang mengalami depresi dan kecemasan. Singkatnya, tanpa media sosial, hidup lebih baik.

3. Media sosial mengubah level adaptasimu!

Apa itu level adaptasi?

“Ini adalah tingkat stimulus (seperti uang, cinta, followers) yang telah Anda biasakan secara emosional sehingga Anda mengalaminya sebagai netral,” kata Sharot. Saat awal mula gaji kita 5 juta per bulan naik jadi 6 juta, kita merasa senang. Setelah beberapa lama, gaji 6 juta jadi biasa. Saaat kita diapresiasi atasan dengan kenaikan gaji 7 juta perbulan, kita merasa senang sementara namun kembali jadi biasa. Level adaptasi kita berubah dari gaji 6 juta ke 7 juta. Masalahnya, level adaptasi dapat berubah bukan hanya dari pengalaman yang benar-benar kita alami. Level adaptasi dapat berubah di luar pengalaman personal kita, yakni dari harapan yang kita miliki. Melalui media sosial, level adaptasi berubah dari harapan-harapan yang kita miliki saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Sharot menulis,

Kita terprogram untuk membandingkan dan membedakan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain (atau apa yang kita pikir mereka miliki) karena melakukan hal itu memotivasi kita untuk berjuang lebih keras dan berusaha lebih giat. Pada tingkat sosial, ini akan mengarah pada kemajuan (yang baik). Tetapi hal itu dapat mempersulit kita untuk merasa bahagia dengan apa yang kita miliki.

Manusia telah membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain sejak zaman dahulu kala. Anda dapat membayangkan nenek moyang Anda membandingkan ukuran dan tingkat kenyamanan gua mereka dengan gua tetangga mereka. Namun, saat ini perbandingan dan perbedaan telah mencapai tingkat yang sama sekali baru. Pertama, kita tidak hanya membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang-orang yang tinggal di sebelah rumah. Tidak, saat ini kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang-orang dari semua lapisan masyarakat yang tinggal di seluruh dunia, termasuk orang kaya dan terkenal. Kedua, kita tidak lagi membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan nyata orang lain, tetapi kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang telah diedit sedemikian rupa.

4. Kurangi media sosial atau gunakan dengan cara yang berbeda!

Sharot sama sekali tidak mengatakan bahwa media sosial hanya memiliki dampak negatif. Ada sejumlah manfaat media sosial bagi penggunanya. Sharot menulis, 

Media sosial adalah tempat untuk terhubung, mendapatkan informasi, dan berbagi. Orang-orang tentu memperoleh pengetahuan, persahabatan, dan pekerjaan di platform ini. Yang kami katakan adalah bahwa bagi banyak orang menggunakan platform tertentu lebih sedikit, dengan cara yang berbeda, atau bahkan tidak sama sekali akan menghasilkan kehidupan yang lebih bahagia dan lebih produktif.

Jadi, apabila kita tidak bisa menghindari dari menggunakan media sosial sama sekali, Sharot menyarankan untuk menguranginya atau menggunakannya dengan cara yang berbeda. 

Bagaimana menggunakan media sosial dengan cara yang berbeda?

Fokuskan pada kualitas, bukan kuantitas, kata Sharot. Akseslah media sosial secara berkualitas, misalnya mendapatkan informasi baru, informasi yang positif, dan pengetahuan baru (misalnya buku-buku dan temuan-temuan penelitian terbaru), alih-alih mengakses informasi negatif, berita palsu, video yang sekedar hiburan namun minum pengetahuan, dan status orang lain yang memicu perbandingan sosial. Mengakses media sosial berkualitas rendah seperti lingkaran setan. “Jika sebagian besar dari apa yang Anda baca bersifat negatif, itu akan berdampak buruk pada mental Anda,” kata Sharot, “Tetapi jika Anda sedang dalam suasana hati yang buruk, Anda juga cenderung mengonsumsi banyak informasi negatif.”

Share this:

Similar Posts