Running into a day of fun

Merayakan Jiwa Kanak-kanak dalam Diri Kita

Share this:

Kita tidak berhenti bermain karena kita menjadi tua; kita menjadi tua karena kita berhenti bermain. –George Bernard Shaw

Setiap anak suka bermain. Namun, jiwa kekanak-kanak ‘terbunuh’ seiring anak tumbuh menjadi dewasa.

Jiwa kanak-kanak yang dimaksud di sini bukan kekanak-kanakan (childish), bukan juga inner child. Ini semacam spirit bermain.

“Salah satu kesamaan pikiran manusia dengan banyak hewan yaitu kecenderungan untuk bermain,” tulis perintis psikologi sosial William McDougall dalam bukunya An Introduction to Social Psychology yang ditulis tahun 1908. “Bermain harus dianggap sebagai salah satu kecenderungan bawaan pikiran yang bernilai sosial tinggi. Anak-anak dan hewan muda dari banyak spesies hewan secara spontan bermain tanpa pengajaran atau contoh apa pun.”

McDougall menyebut beberapa motif anak untuk bermain antara lain 1. keinginan untuk meningkatkan keterampilan, 2. kesenangan bermain pura-pura, 3. kesenangan menjadi penyebab atas sesuatu, dan 4. keinginan untuk bersaing dan mengungguli orang lain.

Motif mendapat kesenangan dari bermain berpura-pura, yang disebut permainan imajinatif (imaginative play) mendapat perhatian penting dari ilmuwan psikologi kognitif Scott Barry Kaufman. Dalam bukunya Wired to Create: Discover the 10 things great artists, writers and innovators do differently, ia menulis,

Mengamati anak-anak yang terlibat dalam permainan imajinatif mengungkapkan sumber kreativitas alami yang melimpah; mereka menciptakan dan memerankan cerita, mengambil peran sebagai penulis, aktor, dan sutradara dengan mudah dan menyenangkan. Hal ini terjadi secara alami, tanpa instruksi atau bimbingan, dimulai sekitar usia dua setengah tahun dan berlangsung hingga sekitar sembilan atau sepuluh tahun, dan dapat menghabiskan hingga 20 persen waktu anak pada puncaknya.

Kaufman menambahkan,

Dalam permainan imajinatif, benda-benda sehari-hari digunakan secara simbolis. Pisang menjadi telepon, boneka binatang menjadi bayi sungguhan, LEGO menjadi mobil, dan halaman belakang menjadi kerajaan ajaib. Perilaku simbolis ini tidak hanya melibatkan pemikiran tetapi juga emosi. Ketika anak bermain, ia bereksperimen dengan ide, gambar, dan perasaan.

Sayangnya, pada era digital saat ini, kesempatan anak untuk bermain di ‘halaman belakang’ rumah menjadi berkurang. Tren anak-anak di era digital ini, menurut ilmuwan psikologi sosial Jonathan Haidt, adalah mendapat “proteksi berlebihan di dunia nyata dan kurang proteksi di dunia maya.”

Lugasnya, anak-anak kita mengalami defisit bermain. Hilangnya kesempatan anak bermain di halaman membuat anak kurang mendapat kesempatan bermain imajinatif.

Menurut Kaufman, kurangnya anak mendapat kesempatan bermain imajinatif bukan hanya merampas anak dari bersenang-senang tetapi juga kesempatan mengembangkan banyak keterampilan kunci yang diperlukan untuk kreativitas. Kaufman menulis sejumlah keterampilan tersebut sebagai berikut,

Keterampilan penting ini meliputi pengendalian impuls, perencanaan, pengorganisasian, pemecahan masalah, literasi dan pengembangan bahasa, simbolisme, pemahaman konsep STEM, kemampuan matematika, rasa ingin tahu, berpikir divergen (“berpikir bagaimana jika”), integrasi kognitif dari beragam konten, fleksibilitas, pengaturan emosi, pengurangan stres, integrasi kognisi dan emosi, empati, rasa hormat, negosiasi sosial, kolaborasi, dan toleransi terhadap orang lain—seperangkat keterampilan penting yang tidak boleh diabaikan.

Sudahlah saat usia anak-anak kurang kesempatan bermain, pada sisi lain kita cenderung kehilangan semangat bermain dan bersenang-senang seiring bertambahnya usia, karena semakin dewasa hidup kita semakin didominasi oleh pekerjaan dan keseriusan. Dan pekerjaan cenderung kita anggap sebagai sesuatu yang serius dan sulit.

Padahal, sebagai orang dewasa, menumbuhkan rasa bermain seperti anak kecil dapat merevolusi cara kita bekerja. Menurut Kaufman,

Pikiran-pikiran kreatif yang paling terkemuka belajar untuk menyeimbangkan antara keseriusan dengan kesenangan dan kenikmatan dalam pekerjaan seseorang. Bermain-main dengan pekerjaan memberi kita keringanan dan fleksibilitas tertentu saat menghasilkan ide-ide baru dan juga membantu memotivasi kita untuk terus bekerja berjam-jam tanpa menjadi terlalu stres atau kelelahan. Dalam hal pekerjaan kreatif, ada waktu untuk serius dan waktu untuk bermain, dan sangat sering, karya terbaik muncul sebagai hasil dari penggabungan usaha dan kemudahan.

Apa manfaat menumbuhkan rasa bermain dalam diri kita? Kaufman menyebut hasil penelitian bahwa orang dewasa yang memiliki rasa bermain lebih cenderung rendah tingkat stresnya, lebih mampu mengatasi stres, dan memiliki kepuasan hidup yang lebih besar. Mempertahankan semangat bermain menjaga dan menumbuhkan inspirasi, keinginan untuk berusaha, vitalitas hidup, dan kreativitas.

Untuk mengkompensasi adanya defisit dalam bermain, menurut Kaufman, kita tidak hanya menoleransi orang dewasa untuk menumbuhkan rasa bermain, tapi juga merayakannya. Kita perlu merayakan jiwa kanak-kanak dalam diri kita.

Apa saja ciri dari jiwa kekanak-kanak dalam diri kita? Ada tiga hal yang menunjukkan adanya jiwa kanak-kanak dalam diri:

  1. Motivasi mencari kesenangan. Motivasi ini dicirikan dengan a. keyakinan akan kesenangan (percaya pada nilai kesenangan dalam hidup), b. inisiatif (secara aktif menciptakan aktivitas yang menyenangkan), dan c. reaktivitas (bersikap responsif terhadap rangsangan yang menyenangkan). Orang yang tinggi motivasi atas kesenangannya akan setuju dengan pernyataan-pernyataan berikut ini: “Saya pikir kesenangan adalah bagian yang sangat penting dalam hidup,” “Saya mencoba untuk bersenang-senang apa pun yang saya lakukan,” dan “Saya menghargai hal-hal menyenangkan yang dimulai oleh orang lain”.
  2. Tanpa hambatan (uninhibitedness). Yakni kemampuan untuk menegosiasikan batasan yang mengarah pada keadaan mental yang bebas. Orang yang tinggi pada ciri ini akan setuju dengan pernyataan-pernyataan berikut ini: “Saya tidak selalu mengikuti aturan,” dan “Terkadang saya dapat melakukan sesuatu tanpa khawatir tentang konsekuensinya”.
  3. Spontanitas. Yakni kecenderungan mental untuk merespons dengan cepat tanpa banyak pertimbangan. Orang dengan spontanitas yang tinggi akan setuju dengan pernyataan-pernyataan berikut ini: “Saya sering melakukan hal-hal yang tidak direncanakan,” dan “Saya sering bertindak berdasarkan impuls saya”.

Jadi, saat mendengar alunan musik yang kita suka, jangan hanya kaki mengangguk ritmis, menarilah! Saat mendengar lagu yang kita suka, jangan hanya berdendang lirih, menyanyilah! Jika kawan bercerita humor yang membuat kita senang, jangan hanya tersenyum, tertawalah dan balas lelucon yang bisa membuat kawan kita tertawa lebih keras!

Share this:

Similar Posts