Pluralistic Ignorance: Mengapa Kita Enggan Bertindak karena Mengira Orang Lain Berbeda dengan Kita?
Apa itu pluralistic ignorance?
Bayangkan Anda menghadiri perkuliahan di kelas perdana mata kuliah pilihan, misalnya Gender dan Pemberdayaan. Dosen pengampu Anda menjelaskan sejumlah konsep psikologi yang rumit sehingga Anda merasa materinya sulit dipahami. Setelah memberikan banyak penjelasan, di ujung pertemuan dosen Anda memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya, barangkali ada penjelasan yang masih belum dipahami. Beberapa waktu berlalu namun tidak ada mahasiswa yang mengangkat tangan untuk bertanya, termasuk Anda.
Anda tidak mengajukan pertanyaan karena merasa teman-teman Anda memahami materi dengan baik, berbeda dengan Anda yang kesulitan memahami materinya. Apa lagi Anda melihat di sekeliling, teman-teman Anda tampak tenang dan tanpa ekspresi, tidak menunjukkan tanda-tanda mereka sedang bingung, sehingga Anda menafsirkan mereka benar-benar memahami materi dengan baik. Padahal mereka sesungguhnya sama bingungnya dengan Anda. Anda tidak bertanya karena tidak ingin terlihat bodoh di depan teman-teman Anda. Asumsi-asumsi berbeda yang Anda buat mengenai penyebab perilaku Anda sendiri dan penyebab perilaku teman-teman sekelas itulah yang membentuk fenomena pluralistic ignorance (ketidaktahuan majemuk).
Jadi, apa itu pluralistic ignorance? Ensiklopedia psikologi sosial menjelaskan pengertian pluralistic ignorance sebagai berikut:
Pluralistic ignorance occurs when people erroneously infer that they feel differently from their peers, even though they are behaving similarly.
Ketidaktahuan majemuk terjadi ketika orang secara keliru menyimpulkan bahwa perasaan mereka berbeda dari rekan-rekan mereka, padahal perilaku mereka sebenarnya serupa.
Bagaimana pluralistic ignorance terjadi?
Pluralistic ignorance terjadi mula-mula karena adanya dorongan yang bersifat sukarela untuk mematuhi norma sosial yang ada. Apa perilaku yang pantas saya tunjukkan di kelas? Apa perilaku yang pantas saya tunjukkan saat berada di ruang kerja, rumah sakit, bandara? Apa perilaku yang pantas saya tunjukkan saat bertemu dengan kawan atau kolega atau orang baru atau orang yang lebih tua? Setiap ada pertemuan di antara orang-orang dalam situasi sosial tertentu membentuk norma tertentu mengenai bagaimana kita harus berperilaku.
Saat berada di kelas, norma sosial menentukan bagaimana Anda harus berperilaku yang diharapkan orang-orang. Norma yang ada seakan menuntut Anda untuk menjadi mahasiswa yang memahami penjelasan dosen, tidak banyak bertanya, duduk diam dengan tenang, mendukung teman-teman dalam belajar. Ketika terjadi perbedaan antara perilaku yang didorong oleh norma (diam mendengarkan dengan tenang tanda memahami) dan perasaan pribadi (ingin bertanya karena tidak paham materinya), pluralistic ignorance adalah hasilnya. Anda mengira teman-teman Anda memahami materinya dengan baik, tidak seperti Anda yang tidak paham; padahal sesungguhnya teman-teman Anda sama tidak pahamnya dengan Anda.
Ketika kita tidak yakin apa yang seharusnya dilakukan, kita sering menggunakan perilaku orang lain sebagai petunjuk. Dalam psikologi sosial, kecenderungan menyesuaikan diri dengan kelompok ini dikenal sebagai konformitas, yang merupakan salah satu bentuk pengaruh sosial.
Apa dampak pluralistic ignorance?
Dampak pluralistic ignorance antara lain membuat seseorang merasa menyimpang, kurang kompeten, atau kurang berkomitmen dibandingkan anggota kelompoknya. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan buruk terhadap diri sendiri dan keterasingan dari kelompok atau institusi. Selain itu, pluralistic ignorance dapat membuat kelompok terus mempertahankan kebijakan atau praktik yang sebenarnya sudah tidak banyak didukung atau tidak populer, sekaligus menghambat tindakan yang bermanfaat bagi kepentingan bersama dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, pluralistic ignorance berdampak terhadap keengganan orang untuk memberikan bantuan dalam keadaan darurat. Penelitian menemukan bahwa ketidaktahuan pluralistik menjadi faktor yang membuat para saksi mata (bystanders) gagal untuk melakukan campur tangan dalam situasi darurat, misalnya menolong orang yang tergeletak di pinggir jalan. Para saksi mata menyadari bahwa ketidakaktifan mereka sendiri didorong oleh ketidakpastian dan ketakutan akan melakukan kesalahan; namun, mereka berpikir bahwa saksi mata lain tidak campur tangan karena mereka telah menyimpulkan bahwa situasi tersebut bukanlah keadaan darurat dan tidak perlu campur tangan.
Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin melihat orang-orang di sekitarnya tidak melakukan apa-apa dan kemudian menyimpulkan bahwa situasi tersebut tidak membutuhkan tindakan. Mekanisme semacam ini berkaitan dengan fenomena bystander effect, yaitu kecenderungan seseorang lebih enggan memberikan pertolongan ketika ada orang lain yang juga hadir.
Bahan Bacaan
Prentice, D. A. (2007). Pluralistic ignorance. In R. F. Baumeister & K. D. Vohs (Eds.), Encyclopedia of social psychology. SAGE Publications.
